Jakarta, IDN Times - Direktur Trias Politika, Agung Baskoro, mengatakan, dalam reshuffle ke-7 yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (1/10/2026), ada dua orang yang dijadikan sasaran tembak, yaitu Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Pratikno.
Sigit digeser dari posisi Kapolri menjadi Kepala Staf Presiden (KSP). Sementara, Pratikno dicopot dari kursi Menteri Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Menurut dia, Itu semua dilakukan diduga untuk mengurangi pengaruh poros Solo di dalam kabinet.
Baik Sigit maupun Pratikno diketahui orang dekat Presiden periode 2014 hingga 2024, Joko "Jokowi" Widodo. Pratikno bahkan merupakan perpanjangan tangan Jokowi untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
Meski tetap berada di dalam lingkar Istana, tetapi Sigit tak lagi punya pengaruh untuk menggerakan personel kepolisian. Padahal, dia masih jenderal bintang empat aktif.
"Otomatis (ini downgrade). Dalam posisi ini dia sudah tidak punya dalam tanda petik kuasa yang penuh dan kendali optimal terhadap pergerakan pasukan (kepolisian). Alhasil, terbatas kan jadi (pengaruhnya). Jadi, saya melihat ini ada upaya untuk mengurangi pengarah Solo dalam konteks ini. Keberadaan Pak Sigit tetap diakomodir tetapi pengaruhnya dikuangi," kata Agung ketika dihubungi IDN Times, dikutip Sabtu (3/10/2026).
Di sisi lain, kata dia, Hambalang tetap ingin menjaga relasi dengan berbagai poros, termasuk Solo. Itu sebabnya, Sigit tetap diberi jabatan sebagai KSP. Sigit juga dianugerahkan tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipurna oleh Prabowo usai dilantik menjadi KSP.
"Ada arahan poros Hambalang berupaya menjaga relasinya dengan semua poros secara setimbang, proporsional dan profesional. Begitu juga dengan poros Teuku Umar dan Cikeas. Karena dinamika jelang Pemilu 2029 sudah mengemuka dari sekarang. Siapa pun berpotensi dekat dengan Presiden dan Presiden ingin menciptakan pra kondisi ketika tidak bersama di 2029, tidak terlalu ekstrem," kata dia.
