Momen Presiden Prabowo Subianto saat bertemu Joko "Jokowi" Widodo. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Terkait dinamika politik internal pemerintahan Presiden Prabowo, kata Mada, sejauh ini masih dapat dikendalikan dengan baik, termasuk hubungan yang relatif stabil dengan kubu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Perhatian utama justru tertuju pada pengaruh bayang-bayang politik Joko "Jokowi" Widodo beserta Wakil Presidennya Gibran Rakabuming Raka, yang tindak-tanduknya turut memengaruhi strategi pemerintahan dan isu perombakan kabinet.
Di sisi lain, kata Mada, masa depan koalisi Prabowo sangat bergantung pada sikap politik Megawati dan PDI Perjuangan (PDIP), apakah mereka akan memilih jalur oposisi yang kritis atau bergabung secara formal ke dalam pemerintahan.
Sementara, menurut Mada, Presiden Prabowo belum merasa perlu mendepak kekuatan politik Jokowi sepenuhnya, melainkan memilih menjaga keseimbangan kekuasaan, agar kinerja pemerintahannya tetap berjalan efektif hingga akhir masa jabatan.
"Untuk sekarang saya kira ini sudah puncaknya ya, dalam artian sepenuhnya sudah terjadi rekonfigurasi kekuasaan oleh Prabowo, termasuk saya tidak mengatakan itu (kekuatan geng Solo) dihilangkan ya, tapi tetap diakomodasi. Karena saya kira bukan tipenya Prabowo, untuk bahasa jawanya itu 'pejah gesang', dalam artian tidak melibatkan kekuatan politik yang potensial gitu di dalam pemerintahannya," kata dia.
"Nah, karena Jokowi dan Gibran masih punya potensi yang besar, makanya tetap diakomodir, tapi tentu saja dengan peran yang tidak lagi besar ya, tapi kemudian dibatasi, sehingga kontrol setnya itu tetap kemudian akan ada di di Presiden Prabowo," tegas Mada.
Mada melihat kekuatan Prabowo dalam dua tahun ini sudah terlihat kokoh, serta berjalan cepat dan dinamis. Baik di pemerintahan pusat maupun daerah. Begitu juga di bidang ekonomi, sumber daya yang ada sudah berhasil dikendalikan.
"Kita bisa melihat dalam dua tahun ini rekonfigurasi kekuasaan itu berjalan dengan cepat ya, dengan dinamis, dan tadi hasil akhirnya sepenuhnya itu sudah mulai dipegang oleh Presiden Prabowo," kata dia.
"Dalam konteks ekonomi, misalnya itu coba ada Danantara juga ada narasi tentang 9 Baga versus 9 Haji dan seterusnya. Itu menunjukkan bahwa rekonfigurasi kekuasaan itu sudah berlangsung secara cepat, dalam waktu dua tahun ini, sehingga sumber daya sumber daya ekonomi itu juga sudah berada dalam kekuasaan Presiden Prabowo sekarang ini," sambungnya.