Dua Tahun Prabowo, Sekolah Rakyat Diuji Kasus Siswa Kabur hingga Bully

- Program Sekolah Rakyat untuk anak keluarga miskin menghadapi tantangan adaptasi asrama; sejumlah siswa di Temanggung dan Medan meninggalkan sekolah, dengan sebagian memilih melanjutkan pendidikan di tempat lain.
- Isu kekerasan turut muncul, termasuk dugaan penyetrikaan di Ambon yang dibantah pihak sekolah serta dugaan pengeroyokan siswa asrama hingga korban mengalami patah tulang dan 14 siswa berhadapan dengan hukum.
- Keterbatasan layanan dasar juga terjadi ketika 270 siswa di Empat Lawang dipulangkan akibat pasokan air bersih terhenti; Mensos meminta pengawasan 24 jam untuk mencegah perundungan, kekerasan, dan intoleransi.
Jakarta, IDN Times - Program Sekolah Rakyat menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Namun, dalam pelaksanaannya selama dua tahun sejumlah persoalan muncul. Mulai dari siswa yang meninggalkan asrama, keterbatasan fasilitas, hingga dugaan kekerasan antarsiswa.
Persoalan tersebut menjadi catatan dalam pelaksanaan program pendidikan berasrama yang dirancang untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Berikut ini kasus-kasus di dalam Sekolah Rakyat yang dihimpun IDN Times.
1. Para siswa SR di Temanggung kabur

Seorang siswa Sekolah Rakyat Prof Soeharso Solo diperiksa kesehatannya melalui metode wawancara oleh nakes. (IDN Times/&/Fariz Fardianto) Pada tahun ajaran pertama, lima siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 16 Temanggung, Jawa Tengah, meninggalkan asrama pada akhir Juli 2025. Mereka disebut mengalami kesulitan beradaptasi dan rindu kepada keluarga.
Kepala SRMA 16 Temanggung, Agus Adibil Muhtar, mengatakan, dua siswa akhirnya kembali ke sekolah, sementara tiga lainnya memilih keluar dan melanjutkan pendidikan di sekolah lain. Pihak sekolah kemudian mengganti tiga siswa tersebut dengan peserta didik cadangan.
Kasus serupa juga terjadi di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Sumatra Utara. Pada Agustus 2025, seorang siswa berusia 15 tahun dikembalikan kepada orangtuanya setelah dua kali meninggalkan sekolah.
Kepala SRMP 2 Medan, Maragoti, menjelaskan, siswa tersebut merasa bosan karena harus kembali mengulang kelas VII, meskipun sebelumnya pernah bersekolah hingga kelas VIII di sekolah swasta. Kondisi keluarga juga disebut memengaruhi keputusannya.
2. Siswa SR diduga disetrika oleh guru

Para menteri menyapa siswa Sekolah Rakyat di Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (14/7/2025) (IDN Times/Linna Susanti) Pada November 2025, siswa Sekolah Rakyat di Ambon diduga mengalami kekerasan fisik oleh guru atau wali asrama. Namun, Kepala SRMA 40 Ambon, Afia Fransina Joris, membantah adanya kekerasan fisik dalam bentuk apa pun di sekolahnya, termasuk tindakan penyetrikaan.
“Tidak ada penyetrikaan di sekolah kami. Kami sangat menolak kekerasan dalam bentuk apa pun. Sekolah Rakyat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan pendidikan yang humanis,” kata Afia dalam keterangan tertulis, Jumat (14/11/2025).
Terkait isu yang sempat muncul pada Selasa, 11 November 2025, Afia menjelaskan, kejadian tersebut berawal dari enam siswa yang membuat tanda menyerupai tato di dada mereka, dengan cara menjepit kulit pakai penjepit hingga membentuk huruf. Setelah diketahui wali asrama, para siswa dikumpulkan dan diberikan pembinaan.
Lebih lanjut, Afia mengeklaim, tidak ada ancaman atau tindakan kekerasan dari guru, wali asrama, maupun tenaga kependidikan.
“Peristiwa ini bukan dilakukan oleh tenaga pendidik atau wali asrama. Kami pastikan tidak ada kekerasan di lingkungan SRMA 40 Ambon,” kata dia.
3. Ratusan siswa dipulangkan karena pasokan air bersih

Orang tua dan murid saat menunggu acara pembukaan Sekolah Rakyat di Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (14/7/2025) (IDN Times/Linna Susanti) Persoalan lain muncul di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Empat Lawang, Sumatra Selatan. Pada September 2026, sebanyak 270 siswa dipulangkan sementara karena ketersediaan air bersih tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari di asrama.
Kepala Sekolah, Suparno, mengatakan, pasokan air yang sebelumnya berasal dari PDAM terhenti. Saat itu, sekolah juga tengah melakukan perbaikan gedung sekolah dan asrama.
Akibatnya, kegiatan belajar mengajar dilanjutkan melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pihak sekolah belum dapat memastikan kapan siswa kembali menjalani pembelajaran tatap muka dan tinggal di asrama.
4. Siswa SR di Pati alami pengeroyokan di asrama

Seorang siswa SD Sekolah Rakyat Rowosari menangis tersedu di pelukan ibundanya. (IDN Times/Fariz Fardianto) Persoalan yang lebih serius muncul di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Empat Lawang pada 10 September 2026. Seorang siswa berinisial ES, 13 tahun, dilaporkan mengalami patah tulang tangan kanan setelah diduga menjadi korban perundungan oleh lima teman asramanya.
Peristiwa tersebut diduga bermula dari keributan saat pembagian bantal di kamar asrama. Polresta Pati menetapkan 14 siswa sebagai anak yang berhadapan dengan hukum dalam kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswa kelas X berinisial DA.
Berbagai kejadian tersebut menunjukkan tantangan yang perlu ditangani dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat, mulai dari adaptasi siswa terhadap kehidupan berasrama, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga pencegahan dan penanganan kekerasan.
Sementara, Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, meminta seluruh kepala Sekolah Rakyat memastikan siswa mendapatkan pengawasan penuh selama 24 jam. Pengawasan itu dinilai penting untuk mencegah perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi.
"Di dalam dunia pendidikan ada tiga hal yang tidak boleh terjadi, harus kita cegah, agar tidak terjadi apa yang disebut dengan bullying, perundungan, tidak boleh terjadi kekerasan fisik dan seksual, dan yang ketiga tidak boleh terjadi intoleransi," ucap Mensos di hanggar Skuadron Udara 18 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (9/10/2026).





















