Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dugaan Pelecehan Mahasiswa FH UI, BEM Tuntut 5 Hal Ini
Konferensi Pers Aliansi BEM se-UI, di Pusgiwa UI, Selasa (14/4/2026). (IDN Times/Yovita Arnelia)
  • Kasus dugaan pelecehan seksual nonfisik di FH UI mencuat setelah percakapan grup chat 16 mahasiswa tersebar di media sosial, memicu sorotan publik dan kecaman luas.
  • Aliansi BEM UI menilai kasus ini mencerminkan krisis moral serta hukum di kampus, dengan pelaku dianggap menormalisasi pelecehan dan merasa kebal dari sanksi.
  • Ada lima tuntutan utama dari Aliansi BEM UI, termasuk audit investigatif, sidang etik transparan, sanksi drop out bagi pelaku, penuntasan kasus kekerasan seksual, dan pembekuan organisasi terkait.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
12 April 2026

Percakapan dalam grup chat yang melibatkan 16 mahasiswa FH UI bocor ke media sosial melalui akun bernama Sampah FH UI. Isi percakapan tersebut mengandung pelecehan dan objektifikasi terhadap perempuan di lingkungan fakultas.

14 April 2026

Aliansi BEM se-UI menggelar konferensi pers di Pusgiwa UI untuk memaparkan kronologi kasus dan menyampaikan tuntutan terhadap para pelaku. Mereka menilai kasus ini mencerminkan krisis moral dan hukum di kampus serta menuntut sanksi tegas, audit investigatif, sidang etik, hingga pemberhentian pelaku.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kasus dugaan pelecehan seksual nonfisik yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia mencuat setelah isi percakapan grup chat mereka tersebar di media sosial dan menimbulkan tuntutan dari Aliansi BEM UI.
  • Who?
    Enam belas mahasiswa FH UI diduga terlibat dalam percakapan berisi pelecehan, sementara Aliansi BEM UI, termasuk Fathimah Azzahra dan Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, menyuarakan tuntutan terhadap pihak kampus dan kementerian terkait.
  • Where?
    Kejadian ini berpusat di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, dengan konferensi pers digelar di Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) UI.
  • When?
    Percakapan grup chat bocor pada 12 April 2026, dan konferensi pers Aliansi BEM se-UI berlangsung pada Selasa, 14 April 2026.
  • Why?
    Kasus ini memicu reaksi karena dianggap mencerminkan krisis moral dan hukum di kampus serta menunjukkan sikap pelaku yang dinilai menormalisasi pelecehan dan merasa kebal hukum.
  • How?
    Aliansi BEM UI menggelar konferensi pers untuk menuntut audit investigatif, sidang etik terbuka, sanksi drop out bagi
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada 16 mahasiswa hukum di kampus UI yang ngobrol di grup chat dan katanya ngomong hal tidak sopan tentang perempuan. Obrolan itu bocor ke internet dan banyak orang marah. Kakak-kakak dari BEM bilang mereka harus dihukum keras, bisa sampai dikeluarkan dari kampus. Sekarang semua orang tunggu tindakan dari kampus dan pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah kasus dugaan pelecehan yang mencoreng nama kampus, sikap tegas Aliansi BEM UI menunjukkan kesadaran moral dan keberanian mahasiswa dalam menegakkan nilai hukum yang mereka pelajari. Dengan menuntut audit, sidang etik, serta sanksi tegas bagi pelaku, gerakan ini mencerminkan semangat kolektif untuk memulihkan integritas dan keadilan di lingkungan akademik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kasus dugaan pelecehan seksual nonfisik yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) menjadi sorotan publik, setelah percakapan dalam grup chat mereka tersebar di media sosial.

Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI menilai, kasus ini bukan hanya persoalan individu, tetapi juga mencerminkan krisis moral dan hukum di lingkungan kampus.

Perwakilan Aliansi BEM UI memaparkan kronologi hingga sikap tegas terhadap para pelaku, di Konferensi Pers Aliansi BEM se-UI, Pusgiwa UI, Selasa (14/4/2026).

1. Kronologi kasus bermula dari bocornya grup chat pada 12 April 2026

Konferensi Pers Aliansi BEM se-UI, di Pusgiwa UI, Selasa (14/4/2026). (IDN Times/Yovita Arnelia)

Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, menjelaskan bahwa kasus ini mencuat setelah percakapan dalam grup chat yang melibatkan 16 mahasiswa FH UI tersebar melalui media sosial.

“Sebelumnya izinkan saya memulai dari kronologi yang terjadi pada 12 April 2026, di mana Ikatan Mahasiswa (IKM) UI dan masyarakat Indonesia dikejutkan oleh terbongkarnya isi percakapan sebuah grup chat yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia, melalui sebuah akun eks yang bernama Sampah FH UI,” ungkapnya.

Isi percakapan tersebut mengandung pelecehan dan objektifikasi terhadap perempuan, termasuk mahasiswa dan dosen di lingkungan fakultas.

2. Pelaku dinilai menormalisasi pelecehan dan merasa kebal hukum

Konferensi Pers Aliansi BEM se-UI, di Pusgiwa UI, Selasa (14/4/2026). (IDN Times/Yovita Arnelia)

Fathimah menyoroti adanya sikap tidak menyesal dari para pelaku, bahkan terkesan merasa dilindungi oleh relasi dan kekuasaan.

“Banyak yang menyampaikan percakapan-percakapan yang kembali bocor yang mengatakan bahwa mereka menyatakan diri aman, mereka seolah kebal hukum, mereka bahkan mengatakan sendiri mereka punya power di kampus ini,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini menjadi ironi karena pelaku merupakan mahasiswa hukum yang seharusnya menjunjung tinggi supremasi hukum

3. Aliansi BEM UI tuntut sanksi tegas, dorong audit hingga DO pelaku

Konferensi Pers Aliansi BEM se-UI, di Pusgiwa UI, Selasa (14/4/2026). (IDN Times/Yovita Arnelia)

Ketua BEM FH UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, menegaskan bahwa pelaku harus mendapatkan sanksi berat sesuai aturan yang berlaku, baik di tingkat kampus maupun hukum nasional.

“Mereka tidak boleh lolos dari peraturan yang disusun oleh negara dan oleh kampus, di mana mengacu pada peraturan rektor yang merupakan peraturan lanjutan dari Permendikbud Ristek Nomor 55 Tahun 2024,” kata dia.

Mengacu pada peraturan rektor yang merupakan turunan dari Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024, kampus dinilai wajib memberikan sanksi administratif berat, termasuk pencabutan hak akademik hingga pemberhentian (drop out).

Selain itu, berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, tindakan dalam percakapan tersebut dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual nonfisik, dengan ancaman pidana kurungan hingga 9 bulan atau denda maksimal Rp10 juta.

Adapun tuntutan yang diajukan antara lain:

  • Mendesak Kementerian Pendidikan Tinggi untuk melakukan audit investigatif terhadap penanganan kasus, termasuk evaluasi Satgas PPK UI.

  • Mendesak Dewan Guru Besar UI menggelar sidang etik secara transparan dan akuntabel.

  • Mendesak Rektor UI menjatuhkan sanksi pemberhentian (drop out) kepada para pelaku.

  • Mendesak penuntasan seluruh kasus kekerasan seksual di lingkungan UI.

  • Mendesak pembekuan permanen organisasi yang menaungi para pelaku.

Ia juga menegaskan bahwa setiap keterlambatan dalam penanganan akan menjadi penilaian publik terhadap komitmen Universitas Indonesia dalam menegakkan nilai-nilai keadilan dan hukum.

Editorial Team