Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus gelar demo di Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (12/6/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)
Idrus menegaskan, pemerintah harus konsisten melanjutkan reformasi tata kelola ekonomi nasional. Jika ditemukan potensi kebocoran ekonomi yang terjadi selama puluhan tahun, maka diperlukan langkah penelusuran dan pengawasan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.
Menurut dia, perbedaan antara gerakan mahasiswa dan Presiden hanya terletak pada posisi serta kewenangan yang dimiliki masing-masing.
“Presiden memiliki kekuasaan sehingga setelah menyampaikan itu bisa dilanjutkan dengan kebijakan. Sementara mahasiswa memiliki kekuatan pada wacana, konsep, kekuatan moral dan kontrol publik,” ujar dia.
Dia mengatakan, upaya pembenahan ekonomi nasional tidak bisa dilakukan secara instan dan membutuhkan gerakan yang berkelanjutan.
“Ini bukan pekerjaan satu hari. Kalau ini menjadi gerakan, maka harus dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan,” kata dia.
Sementara, tentang program Makan Bergizi Gratis, Idrus menilai persoalan hukum yang muncul harus menjadi momentum evaluasi dan pembenahan program agar tujuan utamanya tetap tercapai.
“Kalau ada yang terlibat, siapa pun dia, hukum harus ditegakkan, tetapi di sisi lain, program ini juga harus diperbaiki agar benar-benar mencapai tujuan untuk rakyat,” kata dia.
Idrus juga menyoroti pentingnya penempatan pejabat berdasarkan kompetensi. Menurut dia, evaluasi yang dilakukan Presiden terhadap jajaran pembantunya merupakan bagian dari upaya memastikan pemerintahan berjalan efektif.
“Orang yang ditempatkan pada posisi tertentu harus sesuai dengan kompetensinya. Kalau tidak, produktivitas bangsa bisa terganggu,” ujar dia.
“Kalau ada orang yang tidak produktif dan tidak sesuai dengan kebutuhan, tentu harus dilakukan evaluasi,” kata Idrus.
Idrus berharap, komunikasi antara pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat terus dibangun dengan semangat kebangsaan serta etika demokrasi.
“Ini sebenarnya sudah hampir ada titik temu. Tinggal bagaimana dikomunikasikan dan ditekankan pada moralitas serta kepentingan bangsa. Demokrasi membutuhkan kebebasan, tetapi juga membutuhkan etika. Niat yang baik harus disampaikan dengan cara yang tetap menjaga nilai kebangsaan,” kata Idrus.