Di Forum INZS 2026, Dino Djalal Harap PLTS 100 Gigawatt Terwujud

- Di INZS 2026, Dino Djalal mendorong percepatan PLTS 100 gigawatt, yang disebut menunggu perpres dan proyek percontohannya dijadwalkan diresmikan Presiden Prabowo dalam dua pekan.
- Dino meminta hutan, gambut, dan mangrove dijaga, serta memperingatkan penggundulan hutan Papua untuk food estate berisiko menghapus capaian emisi dan merugikan ekonomi.
- INZS 2026 didorong sebagai wadah kerja sama transisi energi, dengan Indonesia diharapkan aktif membangun koalisi negara middle power untuk memajukan diplomasi iklim dan energi terbarukan.
Jakarta, IDN Times - Ketua dan pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal resmi membuka acara Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 di Balai Kartini, Jakarta Selatan pada Sabtu (1/8/2026). Ia menggunakan forum tersebut untuk menyampaikan dukungannya terhadap program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surga (PLTS) 100 gigawatt.
Dino mengaku sudah berbicara dengan Asisten Khusus Presiden bidang komunikasi dan analis kebijakan, Dirgayuza Setiawan, proyek itu akan diresmikan Prabowo dalam dua pekan ke depan. Program ini sangat penting lantaran salah satu contoh langkah untuk mengurangi emisi.
"(Proyek) ini harus segera dijalankan. Saya yakin Presiden Prabowo serius mengenai hal ini. Yuza baru saja menunjukkan ke saya, proyek percontohan pertama (PLTS) akan diresmikan dalam dua minggu ke depan," ungkap Dino dalam Bahasa Inggris di Jakarta hari ini.
"Proyek ini harus segera terwujud meski sulit. Tetapi China berhasil membangun pembangkit listrik tenaga surya 100 gigawatt hanya dalam kurun waktu enam bulan. Sedangkan, Indonesia berpeluang besar mencapai itu dalam waktu tiga hingga empat tahun," imbuhnya.
Saat ini, kata mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) tersebut, proyek tersebut tinggal menunggu perpres yang diteken oleh Prabowo. Ia menyebut calon investor akan semakin yakin terhadap Indonesia bila proyek PLTS 100 gigawatt itu tetap terwujud meskipun kondisi perekonomian tengah tidak baik-baik saja.
"Dana ESG (Environmental, Social and Governance) akan mengalir masuk ke Indonesia," tutur dia.
1. Dino berharap Prabowo serius menangani program PLTS 100 gigawatt seperti program MBG

Di forum itu, Dino juga mengurai harapan Prabowo akan serius menjalankan program PLTS 100 gigawatt seperti ketika ia meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keseriusan itu terlihat dari alokasi anggaran yang dikucurkan. Itu sebabnya INZS 2026 mengambil tema 'It's Time to Deliver'.
Sedangkan, untuk program PLTS 100 gigawatt, diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp975 triliun. "Saya berharap Presiden Prabowo serius dengan program PLTS 100 gigawatt seperti sikapnya yang juga serius dalam program MBG. Saya melihat beberapa kepala mengangguk tanda setuju," katanya.
Ia pun kembali meminta kepada Dirgayuza agar melaporkan harapannya itu ke Prabowo.
2. Dino minta hutan di Papua tidak digunduli

Dino juga mengajak semua pihak, termasuk yang ada di dalam pemerintahan Prabowo untuk tetap menjaga keberlangsungan hutan, kawasan gambut dan hutan mangrove. Dino mengutip klaim pemerintahan Presiden ke-7 Joko "Jokowi" Widodo yang berhasil menurunkan tingkat deforestasi hingga 85 persen. Hal itu, kata Dino, diakui oleh dunia internasional.
"Maka, kita tetap harus menjaga momentum itu. Namun, jika kita melakukan penggundulan hutan di Papua, semua yang telah dicapai dalam bidang transportasi, energi akan hilang begitu saja," kata Dino mewanti-wanti.
"Penggundulan hutan di Papua berbahaya secara ekonomi dan memicu pelepasan gas emisi. Tolong jangan biarkan itu terjadi," imbuhnya.
Hutan di Papua yang dirujuk Dino berlokasi di Wanam untuk dialihkan menjadi proyek lumbung pangan (food estate). Pemerintah siap melepas 451 ribu hektare kawasan hutan di Papua untuk mewujudkan Proyek Strategis Nasional (PSN) itu.
3. Indonesia bisa galang dukungan negara lain untuk mendorong energi terbarukan

Di pengujung sambutannya, Dino mengatakan INZS 2026 berupaya menjadi platform bagi para pihak untuk bertukar perspektif, memperkuat kerja sama, dan mengeksplorasi solusi pragmatis agar transisi energi menuju masa depan yang berkelanjutan tetap dapat dicapai secara inklusif.
“Perlu ada sekelompok negara-negara middle power, termasuk Indonesia, yang mengambil alih kemudi. Bukan satu negara, bukan hanya Brazil, tapi juga Indonesia, Brazil, Australia, Jerman, Kanada—yang punya kapasitas, yang mempunyai kemampuan juga untuk menjaga hal-hal yang berbau kerja sama, terutama perubahan iklim. Menurut kami Indonesia perlu aktif sekarang. Dan climate diplomacy saya kira terbuka lebar," kata Dino.
“Sekarang ini, the question is, kalau mereka (negara maju) tidak mau bergerak terlalu jauh, can we change the game? Can we take the lead?” tanya Dino. “Menurut saya bisa. It’s going to be a tough fight. Jadi saya masih berharap kita bisa ada coalition-building negara-negara yang progresif, menjadi motor dan driver dalam COP31 di Turki," imbuhnya.




















