Spanyol Kerahkan Militer usai Ribuan Imigran Berenang ke Ceuta

- Spanyol mengerahkan militer ke Ceuta setelah lebih dari 1.500 migran tiba dalam beberapa hari, membuat penampungan penuh dan ratusan orang tidur di luar fasilitas.
- Penyeberangan laut memicu operasi penyelamatan oleh Garda Civil, Dinas Penyelamatan Maritim, dan Palang Merah; sedikitnya 15 orang tewas tenggelam dalam insiden terbaru.
- Putusan Mahkamah Agung melarang pemulangan langsung migran yang dicegat di laut, sementara krisis Ceuta memicu perdebatan antara pemerintah Spanyol dan Italia.
Jakarta, IDN Times – Pemerintah Spanyol mengerahkan angkatan bersenjata demi memperketat keamanan di Ceuta, wilayah enklave Afrika Utara, setelah gelombang migran nekat menyeberang lewat laut dari Maroko. Kedatangan ribuan orang secara masif ini langsung melumpuhkan fasilitas penerimaan dan sistem pengawasan perbatasan di wilayah tersebut.
Pemimpin Pemerintah Ceuta Juan Jesús Vivas pada Rabu (29/7/2026) melaporkan lebih dari 1.500 migran, mencakup dewasa hingga anak-anak, telah tiba dalam beberapa hari terakhir. Ia menyebut pusat penampungan sudah jenuh melebihi kapasitasnya sehingga ratusan orang terpaksa tidur di luar fasilitas, dilaporkan Euronews.
Aksi penyelamatan melibatkan Garda Civil Spanyol, Dinas Penyelamatan Maritim, dan Palang Merah yang menerjunkan kapal untuk mengevakuasi para migran dari perairan. Setidaknya 15 orang tewas tenggelam dalam insiden terbaru ini, sementara tragedi sepanjang tahun lalu mencatat 60 jenazah ditemukan mengapung di laut.
Table of Content
1. Ribuan migran memasuki wilayah Ceuta

Kawasan pantai Spanyol mendadak dipenuhi pelampung karet dan sirip renang usai ribuan orang meluncur dari tanggul beton demi memutari dermaga pembatas. Laporan Reuters yang dikutip BBC menyebut media lokal memperkirakan ada 2.000 hingga 3.000 orang memasuki Ceuta pada salah satu hari puncak, walau Garda Civil belum merilis konfirmasi resmi.
Mayoritas pelaku penyeberangan merupakan warga Maroko, diselingi sebagian kecil warga Aljazair yang sempat menetap di Maroko untuk berburu akses ke Eropa. Pejabat Ceuta pun telah melayangkan permohonan bantuan darurat ke pemerintah pusat di Madrid akibat habisnya sumber daya lokal.
Vivas mendesak pemerintah pusat Spanyol segera turun tangan mengambil alih penanganan situasi darurat ini. Permintaan tersebut direspons Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez yang berjanji segera meninjau Ceuta sekaligus memulihkan ketertiban dalam waktu singkat.
Di lain sisi, otoritas Maroko mulai mengambil tindakan tegas di kota Fnideq yang berbatasan langsung dengan Ceuta lewat tembakan meriam air guna membubarkan kerumunan. Rekaman media lokal dan organisasi hak asasi manusia turut merekam pecahnya bentrokan di titik perbatasan Beni Ansar yang berlokasi di Melilla, kota otonom Spanyol lainnya di Afrika Utara.
2. Putusan pengadilan memicu perubahan penanganan migran

Mahkamah Agung (MA) Spanyol telah memutuskan bahwa migran yang dicegat di perairan saat menuju Ceuta atau Melilla tak boleh langsung dipulangkan ke Maroko tanpa proses hukum. Aturan ini berbanding terbalik dengan prosedur penanganan migran yang melintas lewat jalur darat.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menilai jaringan perdagangan manusia sengaja memanfaatkan celah hukum tersebut untuk memicu lonjakan migran tanpa dokumen. Kemendagri mengonfirmasi bahwa penyiapan angkatan militer ditujukan untuk memperkuat Garda Civil dalam menjaga stabilitas wilayah Ceuta.
Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengakui bahwa pihak kepolisian dan militer sedang berhadapan dengan situasi yang sangat luar biasa.
“Kami menanganinya dengan sarana yang sudah kami tempatkan di sana secara permanen,” tutur Marlaska saat diwawancarai stasion televisi Spanyol laSexta.
Marlaska turut melayangkan apresiasi atas langkah kooperatif yang ditunjukkan oleh otoritas Maroko. Menurutnya, pemerintah Maroko terus menjalin koordinasi yang erat, penuh loyalitas, serta aktif menekan angka keberangkatan ilegal.
3. Respons Italia memicu saling kritik

Krisis migrasi di Ceuta mendadak memicu pemicu ketegangan diplomatik dengan pemerintah Italia. PM Italia Giorgia Meloni menegaskan lewat akun X miliknya bahwa rekaman gambar dari Ceuta mengejutkan sekaligus membuktikan kalau imigrasi ilegal yang tak terkendali menimbulkan ancaman nyata terhadap keamanan perbatasan Eropa, sikap yang juga ditegaskan Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani.
Menanggapi tuduhan tersebut, Menlu Spanyol José Luis Albares menilai wacana itu sangat tidak pantas dilontarkan oleh negara mitra yang semestinya mengedepankan solidaritas Eropa dibanding demagogi partisan. Pemerintah Italia bahkan mengisyaratkan bakal mengambil tindakan tak biasa, termasuk mempertimbangkan penangguhan Perjanjian Schengen terkait akses perbatasan terbuka dengan Spanyol.
Ceuta terletak di pesisir utara Maroko dan terpisah dari daratan utama Spanyol oleh Selat Gibraltar, menyajikan area perbatasan darat tunggal Uni Eropa dengan benua Afrika bersama Melilla. Otoritas Spanyol sejatinya terus memperketat pengawasan, memperkokoh dinding pembatas, dan mempererat kerja sama bilateral dengan Maroko, namun upaya penyeberangan mandiri oleh para migran terus saja terjadi.



















