Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hari Skizofrenia Dunia: 1 dari 3 Remaja Indonesia Alami Masalah Mental
Ilustrasi siswa SD (IDN Times/Rohmah Mustaurida).
  • Kemen PPPA menekankan pentingnya peran orangtua dan sekolah dalam mendeteksi dini gangguan mental anak, termasuk skizofrenia, bertepatan dengan Hari Skizofrenia Dunia 27 Mei 2026.
  • Data I-NAMHS 2022 menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental; Kemen PPPA siapkan pedoman dan pelatihan guru untuk deteksi dini.
  • Sekolah diminta menjadi ruang aman dan suportif bagi anak, dengan guru serta tenaga pendidik peka terhadap perubahan perilaku dan kondisi emosional siswa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hari itu banyak orang bicara tentang anak dan remaja yang sedih atau bingung di pikirannya. Bu Titi dari Kemen PPPA bilang satu dari tiga remaja di Indonesia punya masalah mental, ada juga yang kena skizofrenia. Katanya orang tua dan guru harus cepat lihat kalau anak berubah jadi murung atau susah belajar. Sekolah juga harus jadi tempat aman supaya anak bisa cerita tanpa takut. Sekarang para guru sedang diajari cara bantu anak supaya tidak makin sakit hatinya dan bisa senang lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Peringatan Hari Skizofrenia Dunia tahun ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam memperkuat perhatian terhadap kesehatan mental remaja. Melalui pelatihan guru, penyusunan pedoman penanganan psikososial, dan dorongan membangun komunikasi aman antara anak dan lingkungan sekitarnya, Kemen PPPA bersama Kemendikdasmen menegaskan langkah nyata menuju sistem pendidikan yang lebih peka, suportif, dan berorientasi pada kesejahteraan emosional anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menekankan pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam mendeteksi dini gangguan kesehatan mental pada anak, termasuk skizofrenia. Seruan itu disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Skizofrenia Dunia pada 27 Mei 2026.

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Titi Eko Rahayu mengatakan kemampuan mengenali tanda awal gangguan mental harus dimiliki orang tua, keluarga, hingga tenaga pendidik.

"Gangguan mental pada anak sering kali muncul melalui perubahan perilaku sehari-hari, seperti penurunan motivasi belajar, perubahan emosi, menarik diri dari lingkungan sosial, sulit berkonsentrasi, hingga tekanan psikologis akibat kekerasan, perundungan, tekanan akademik, maupun persoalan pengasuhan. Kondisi ini harus diketahui orangtua, keluarga terdekat, guru, dan masyarakat pada umumnya," ujar Titi Eko, dikutip Kamis (28/5/2026).

1. Satu dari tiga remaja alami gangguan kesehatan mental

Ilustrasi siswa SD mengenakan masker (IDN Times/Wayan Antara)

Dari data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sebanyak satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Salah satu gangguan yang menjadi perhatian ialah skizofrenia, yang gejalanya sering terlambat dikenali karena dianggap sebagai perubahan emosi remaja biasa.

Kemen PPPA juga telah menyusun pedoman penanganan gangguan psikososial bagi peserta didik serta memberikan pelatihan kepada guru BK dan tenaga pendidik guna memperkuat deteksi dini kesehatan mental anak.

2. Deteksi dini bisa dilakukan untuk kenali perubahan perilaku

Ilustrasi siswa SD (IDN Times/Sukma Sakti)

Titi menjelaskan deteksi dini dapat dilakukan dengan mengenali perubahan perilaku secara cepat serta membangun komunikasi yang aman dan tidak menghakimi anak. Selain itu, lingkungan sekitar juga diminta lebih memperhatikan kondisi emosional anak sehari-hari agar pendampingan dan rujukan ke fasilitas kesehatan dapat dilakukan lebih cepat.

"Kita tidak boleh menunggu sampai anak berada dalam situasi krisis. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem yang mampu mengenali tanda-tanda awal, menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita, dan memastikan adanya respons yang cepat, tepat, serta berpihak pada kepentingan terbaik anak," ujarnya.

3. Sekolah harus jadi tempat aman

Ilustrasi siswa SD (IDN Times/Galih Persiana)

Sementara Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani menyebut sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak. Satuan pendidikan perlu menjadi ruang aman dan suportif bagi anak.

"Guru, wali kelas, maupun tenaga kependidikan perlu memiliki sensitivitas dalam mengenali perubahan perilaku dan kondisi emosional anak agar penanganan dapat dilakukan sejak dini," ungkap Nunuk Suryani.

Editorial Team

Related Article