Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Imigrasi Siapkan Pagar Digital untuk Awasi 3.111 Km Perbatasan RI
Press briefing Dirjen Imigrasi, Rabu (12/8/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • Direktorat Jenderal Imigrasi menyiapkan Pagar Digital berbasis drone untuk mengawasi perbatasan darat sepanjang sekitar 3.111 kilometer.
  • Pengembangan sistem dilakukan bersama ITB untuk memantau jalur tidak resmi yang sulit dijangkau patroli konvensional.
  • Sistem dapat dilengkapi face recognition dan terhubung ke command center untuk mencatat pergerakan serta mendeteksi anomali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rabu (12/8/2026)

Hendarsam Marantoko menyampaikan bahwa Direktorat Jenderal Imigrasi menyiapkan Pagar Digital berbasis drone dalam media briefing di kantor Ditjen Imigrasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Direktorat Jenderal Imigrasi menyiapkan Pagar Digital berbasis drone untuk pengawasan perbatasan darat Indonesia.
  • Who?
    Direktorat Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, dan Institut Teknologi Bandung terlibat dalam pengembangan sistem.
  • Where?
    Pengembangan diprioritaskan di Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Riau, dan Batam.
  • When?
    Hendarsam Marantoko menyampaikan rencana itu dalam media briefing pada Rabu (12/8/2026).
  • Why?
    Sistem disiapkan menghadapi jalur tidak resmi yang rawan digunakan untuk penyelundupan manusia dan barang serta wilayah sulit dijangkau patroli konvensional.
  • How?
    Drone akan memantau aktivitas, sementara face recognition dan command center dapat mencatat pergerakan serta mendeteksi anomali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Imigrasi sedang membuat Pagar Digital dengan drone bersama ITB. Drone akan melihat jalan-jalan kecil di perbatasan Indonesia yang susah didatangi patroli. Pagar Digital juga bisa memakai face recognition dan tersambung ke command center. Sistem ini akan mencatat orang yang lewat dan melihat apakah ada gerakan yang tidak normal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengembangan Pagar Digital bersama ITB membuka ruang pemanfaatan teknologi drone yang dinilai dapat dikembangkan di dalam negeri. Pengalaman ITB dalam penggunaan drone untuk pengawasan pertanian dan perkebunan menjadi dasar pengembangan sistem. Keterhubungan drone, face recognition, dan command center juga dirancang untuk mendukung pencatatan pergerakan di titik tertentu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Direktorat Jenderal Imigrasi menyiapkan “Pagar Digital” berbasis drone untuk mengawasi perbatasan darat Indonesia, yang membentang sekitar 3.111 kilometer. Teknologi ini dikembangkan bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menghadapi jalur-jalur tidak resmi yang rawan digunakan untuk penyelundupan manusia dan barang.

“Nah, itu rentang batas daratnya 3.111 kilo kurang lebih. Mau kita pagerin gak mungkin," kata Direktur Imigrasi, Hendarsam Marantoko, dalam media briefing di kantor Ditjen Imigrasi, Rabu (12/8/2026).

1. Drone jadi mata di jalur tikus

Press briefing Dirjen Imigrasi, Rabu (12/8/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Hendarsam menjelaskan Pagar Digital sudah berjalan dalam tahap pengembangan bersama ITB. Sistem tersebut diarahkan untuk memperkuat border protection, terutama di wilayah yang sulit dijangkau patroli konvensional.

“Termasuk yang masalah penyelundupan manusia, kemudian juga itu barang dan lain sebagainya, kan barang itu dibawa sama manusia kan gitu kan? Nah ini kita menggunakan teknologi drone," ujarnya.

2. Imigrasi ingin teknologi buatan anak bangsa

Warga perbatasan Indonesia-Malaysia terima bendera. (IDN Times/istimewa).

Hendarsam mengatakan pengembangan drone dilakukan karena Imigrasi menilai teknologi tersebut dapat dikembangkan di dalam negeri. Dia menyebut ITB telah memiliki pengalaman menggunakan teknologi drone untuk pengawasan sektor pertanian dan perkebunan, termasuk dengan tenaga surya.

“Kenapa kita selalu apa namanya penginnya mindset-nya itu ke produk-produk luar terus gitu loh? Drone ini menurut kami itu bukan sesuatu hal yang, yang sulit untuk dibuat gitu loh," katanya.

3. Face recognition masuk command center

Ilustrasi pelayanan paspor di Kantor Imigrasi Tangerang (dok. Imigrasi Tangerang)

Pagar Digital nantinya dapat dilengkapi teknologi face recognition dan terhubung dengan command center. Sistem tersebut ditujukan untuk mencatat pergerakan orang di titik tertentu, dan mendeteksi pola yang dinilai tidak normal sebagai basis langkah pencegahan.

“Paling tidak setidaknya setiap orang yang lewat keluar-masuk wilayah di tempat-tempat tertentu itu masuk ke bank data kita, masuk ke command center kita, siapa yang melintas hari itu, pergerakannya ada anomali atau tidak, itu kita lakukan," kata dia.

Direktorat Jenderal Imigrasi mengembangkan “Pagar Digital” berbasis drone bersama Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, untuk memperkuat pengawasan perbatasan Indonesia. Inovasi ini disiapkan menghadapi tantangan pengawasan garis perbatasan darat sepanjang 3.111 kilometer yang berbatasan dengan Malaysia, Timor Leste, dan Papua Nugini.

Sistem tersebut akan memanfaatkan drone untuk memantau aktivitas di jalur tidak resmi yang berpotensi digunakan untuk penyelundupan manusia dan barang. Teknologi drone juga dapat dilengkapi face recognition dan terhubung dengan command center untuk merekam pergerakan serta mendeteksi anomali. Pengembangan diprioritaskan di Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Riau, dan Batam.

Curated For You

Editorial Team

Related Article