Jakarta, IDN Times - Pengendalian rokok di Indonesia dinilai dapat mengambil pelajaran dari pengalaman Selandia Baru yang berhasil mempercepat penurunan prevalensi merokok melalui kombinasi kebijakan pengendalian tembakau dan pendekatan tobacco harm reduction (THR) atau pengurangan bahaya tembakau.
Studi berjudul “New Zealand's accelerating smoking decline: Lessons for tobacco harm reduction” yang diterbitkan The Lancet Regional Health – Western Pacific menunjukkan laju penurunan prevalensi merokok orang dewasa di Selandia Baru meningkat signifikan sejak 2018.
Sebelum 2018, prevalensi merokok di negara tersebut menurun sekitar 3,5 persen per tahun. Namun, pada periode 2018–2023, laju penurunannya meningkat menjadi sekitar 17,9 persen per tahun.
Para peneliti mengaitkan percepatan tersebut dengan sejumlah perubahan, termasuk semakin luasnya penggunaan rokok elektronik dan perubahan kebijakan terhadap produk nikotin alternatif.
