Beneran Stop Merokok, Sayangi Keluargamu!

- Kemenkes bersama Kenvue, Guardian, PDPI, dan BPOM menggelar workshop #SehatTanpaRokok untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia dan mendorong tenaga kesehatan aktif dalam kampanye berhenti merokok.
- Wamenkes menyoroti pentingnya edukasi bahaya rokok sejak SMP karena banyak remaja mulai merokok di usia 14 tahun, sementara PDPI menegaskan dampak serius asap rokok bagi keluarga dan anak-anak.
- BPOM mendukung inovasi produk pengganti rokok, sementara Guardian dan Kenvue berkomitmen memperluas akses edukasi kesehatan melalui jaringan toko serta kolaborasi lintas sektor demi masyarakat hidup sehat tanpa rokok.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Kenvue, Guardian Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan Workshop Upaya Berhenti Merokok bagi tenaga kesehatan.
Acara workshop yang mengampanyekan #SehatTanpaRokok ini berlangsung di Hotel JW Marriott, Jakarta pada Rabu (3/6/2026) dan sekaligus memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap 31 Mei.
Turut dihadiri oleh Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus, Ketua Umum PDPI dr. Arief Riadi Arifin, Menurut Penasehat Pengurus Pusat PDPI dan Direktur Rumah Sakit (RS) Persahabatan dr. Agus Dwi Susanto, Deputi Badan Pengawasan Obat Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif dr. William Adi Teja, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi, Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, Direktur Komersial Guardian Indonesia Karlina Elisabet Wirian, Presiden Direktur Kenvue Indonesia Anggia Pramono, dan Direktur Marketing Kenvue Indonesia Fika Yolanda.
1. Jumlah perokok di Indonesia tembus 70 juta

Ketua Umum PDPI, dr. Arief Riadi Arifin, menyoroti tingginya konsumsi rokok di Indonesia. Ia mengatakan jumlah perokok di Indonesia terus tumbuh hingga mencapai 70 juta orang, yang diikuti tingginya angka penyakit dan kematian akibat rokok.
“Perokok kita tembus 70 juta, tadi sudah disebutin di depan. Kemudian jumlah proporsi kematian meningkat, kemudian jumlah penyakit paru akibat rokok juga meningkat semua. Jadi boleh dibilang, ini capaian kita semua sebenarnya,” kata Arief dalam sambutannya, Rabu (3/6/2026).
2. Wamenkes tekankan edukasi rokok sejak SMP

Wakil Menteri Kesehatan, dr. Benjamin Paulus Octavianus, menilai upaya pencegahan harus menjadi fokus utama karena sebagian besar perokok mulai mencoba rokok pada usia remaja. Ia menyebut, anak-anak mulai dari usia 14 tahun menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terpapar pengaruh untuk mulai merokok.
“Menurut saya, kan kita tahu usia merokok yang paling tinggi, itu di saat anak-anak mencoba hidup terhadap perubahan pola hidup dan segala macam pengaruh datang melalui usia 14 tahun ke atas,” kata Benjamin.
Menurutnya, edukasi mengenai dampak rokok perlu dilakukan di lingkungan sekolah, khususnya sejak tingkat SMP, agar anak-anak memiliki pemahaman yang cukup sebelum terpapar berbagai pengaruh yang mendorong mereka untuk merokok.
“Maka gerakan ini harus dimulai di SMP, secara masif, jadi gerakan-gerakan seperti ini yang kita lakukan secara masif dengan demikian orang sudah memahami,” lanjut Benjamin.
3. Dampak rokok bagi perokok pasif

Menurut Penasehat Pengurus Pusat PDPI dan Direktur Rumah Sakit (RS) Persahabatan, dr. Agus Dwi Susanto mengingatkan bahwa dampak rokok tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif, tetapi juga anggota keluarga yang terpapar asap rokok, termasuk anak-anak.
Ia mengungkapkan hasil penelitian yang menunjukkan anak-anak dari orang tua perokok telah terpapar nikotin meskipun mereka tidak merokok.
“Anak-anak yang tidak merokok, yang orang tua merokok, itu sudah terpapar nikotin sejak di rumah,” ungkapnya.
Agus menambahkan, paparan nikotin dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gejala gangguan pernapasan, seperti batuk dan sesak napas.
Selain itu, ia menyebut dari data riset di RS Persahabatan, ibu hamil yang terpapar asap rokok memiliki kadar nikotin yang lebih tinggi dibandingkan ibu hamil yang tidak terpapar. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan janin.
“Ketika lahir, bayinya lebih kecil. Data yang kita temukan, rata-rata lebih kecil dan lebih ringan,” jelasnya.
4. Keberhasilan berhenti merokok dipengaruhi beberapa faktor

Menurut Agus, terdapat empat aspek yang perlu diperhatikan dalam program berhenti merokok, yakni adiksi, withdrawal(gejala putus nikotin), perilaku, dan lingkungan.
“Keberhasilan berhenti merokok adalah kombinasi mengatasi withdrawal, behavior, dan environmental factor,” ujarnya.
Dalam terapi berhenti merokok, ia melanjutkan, terdapat dua jenis terapi yaitu non farmakoterapi dan farmakoterapi. Non farmakoterapi meliputi konseling, terapi perilaku, psikoterapi, hingga rehabilitasi medis. Sementara itu, terapi farmakoterapi menggunakan obat seperti untuk membantu mengurangi ketergantungan nikotin dan gejala putus nikotin.
Ia menjelaskan bahwa salah satu obat yang diberikan untuk orang yang ingin berhenti merokok yang tersedia di Indonesia adalah Nicotine Replacement Therapy (NRT) berbentuk gum.
“Yang tersedia di Indonesia sekarang adalah NRT ya, tentunya di dalam NRT ini kita bisa berikan ada dua dosis dan ini sudah disetujui oleh Badan Pom," jelasnya
5. BPOM dukung pengembangan produk alternatif pengganti rokok

Deputi Badan Pengawasan Obat Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif dr. William Adi Teja menjelaskan bahwa BPOM memiliki peran dalam pengawasan produk tembakau yang telah beredar di pasaran, termasuk memantau kandungan dan kemasannya.
Selain itu, BPOM juga mendukung pengembangan produk inovasi pengganti rokok sebagai salah satu bagian dari upaya berhenti rokok.
"Karena untuk menggantikan rokok itu sangat banyak caranya. Salah satunya ada produk pengganti tentunya, ada juga kawasan dewasa rokok, kemudian juga adanya edukasi. Banyak hal yang bisa kita lakukan sebenarnya," ucapnya.
6. Kemauan diri jadi kunci berhenti merokok

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, mengaku pernah menjadi perokok sejak duduk di bangku SMP dan mulai berhenti merokok dengan kebiasaan berolahraga.
Selain berbagi pengalaman pribadi, Tirta menilai keberhasilan berhenti merokok sangat bergantung pada niat dari dalam diri perokok itu sendiri.
“Seorang perokok tidak akan berhenti merokok kalau gak ada niat di dalam hatinya. Ya kalau saya sih, punya niat, jadinya selesai,” jelasnya.
7. Komitmen perluas akses masyarakat terhadap edukasi kesehatan

Direktur Komersial Guardian Indonesia, Karlina Elisabet Wirian, menegaskan komitmen pihaknya untuk memperluas akses masyarakat terhadap edukasi hidup sehat tanpa rokok dengan memanfaatkan 350 jaringan toko yang dimiliki.
“Oleh sebab itu kami berkomitmen untuk mendukung perluasan akses edukasi #SehatTanpaRokok ini melalui seluruh jaringan toko kami, melalui tim nakes yang ada di toko kami dan juga frontline yang tersebar di seluruh toko kami,” kata Karlina dalam sambutannya.
Sejalan dengan Karlina, Presiden Direktur Kenvue Indonesia, Anggia Pramono juga menyebutkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat dengan memastikan informasi, dukungan, dan pilihan yang berbasis bukti ilmiah dapat diakses oleh masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan inisiatif tersebut bergantung pada kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
“Kekuatan utama dari inisiatif ini terletak pada kolaborasi lintas sektor yang menyatukan peran strategis seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Anggia.


















