Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jadi Target Pasar, Anak Umur 4 Tahun di Indonesia Sudah Merokok

Jadi Target Pasar, Anak Umur 4 Tahun di Indonesia Sudah Merokok
Acara talkshow pada kampanye #SehatTanpaRokok (IDN Times/Shera Amalia)
Intinya Sih
  • Kemenkes RI menyoroti fenomena anak-anak mulai usia empat tahun yang sudah mencoba vape, dengan peningkatan kasus yang terlihat di media sosial.
  • Industri tembakau dinilai menargetkan anak-anak melalui iklan, influencer, dan rasa vape beragam untuk menarik perokok pemula demi menjaga pasar tetap hidup.
  • Pakar kesehatan menegaskan vape mengandung nikotin dan zat karsinogen berbahaya yang dapat memicu kecanduan, gangguan jantung, serta risiko penyakit paru dan kanker di masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Koordinator Pengendalian Penyakit Akibat Rokok Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), dr. Benget Saragih, menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia mulai terpapar vape dan rokok elektrik pada usia yang sangat dini, yaitu mulai dari usia empat tahun.

"Dan anak-anak kita sudah ada yang mulai merokok usia 4 tahun," ungkap Benget, Rabu (3/6/2026). 

Hal ini disampaikan Benget saat mengisi acara Workshop Kampanye #SehatTanpaRokok dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Hotel JW Marriott, Jakarta, Rabu (3/6/2026).


1. Jumlah anak-anak yang mencoba rokok elektrik meningkat

Kemenkes Soroti Anak Mulai Usia 4 Tahun yang Gunakan Vape
Koordinator Pengendalian Penyakit Akibat Rokok Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), dr. Benget Saragih dalam kampanye #SehatTanpaRokok (IDN Times/Shera Amalia)

Benget mengungkap, di media sosial, kondisi anak-anak usia dini yang mencoba rokok elektrik atau vape meningkat.

"Jadi kalau kita lihat di media sosial banyak yang viral anak-anak sudah mencoba sekarang rokok vape, bukan rokok konvensional, meningkat itu valensinya," jelas Benget.


2. Anak-anak jadi target pasar

WhatsApp Image 2026-06-03 at 21.00.51.jpeg
Acara talkshow pada kampanye #SehatTanpaRokok (IDN Times/Shera Amalia)

Menurut Benget, industri tembakau membutuhkan konsumen baru untuk menjaga keberlangsungan bisnisnya. Karena itu, anak-anak atau perokok pemula menjadi target pasar yang potensial.

"Karena yang sudah tua, dia akan berhenti usia 50 tahun. Karena apa? Sakit atau dia meninggal. Jadi dia harus cari perokok pemula," tambahnya. 

Ia menyebut, upaya yang dilakukan menarik anak-anak untuk merokok adalah melalui iklan, sponsorship, pengaruh influencer, kemasan rokok yang inovatif, dan rasa-rasa vape yang beragam sehingga menarik minat anak-anak. 

3. Vape tetap mengandung berbagai zat berbahaya

Kemenkes Soroti Anak Mulai Usia 4 Tahun yang Gunakan Vape
Penasehat Pengurus Pusat PDPI dan Direktur Rumah Sakit (RS) Persahabatan, dr. Agus Dwi Susanto dalam kampanye #SehatTanpaRokok (IDN Times/Shera Amalia)

Penasehat Pengurus Pusat PDPI dan Direktur Rumah Sakit (RS) Persahabatan, dr. Agus Dwi Susanto menegaskan, vape bukan produk yang bebas risiko. Menurutnya, vape tetap mengandung berbagai zat yang sama dengan rokok konvensional.

Dia menyebut, yang pertama adalah zat nikotin yang terdapat di rokok konvensional juga ada di vape, zat tersebut dapat memicu kecanduan dan gangguan jantung serta gangguan pembuluh darah. 

Kedua, meski dalam vape tidak terdapat tar, namun tetap mengandung zat karsinogen yang dapat memicu kanker. 

“Dalam vape memang tidak terdapat tar, tetapi riset menunjukkan terdapat bahan karsinogen non-tar yang ditemukan pada vape," kata Agus. 

Ketiga, proses pemanasan pada vape dapat melepaskan partikel logam dari komponen elektronik ke dalam cairan vape. Saat cairan tersebut dipanaskan menjadi uap dan dihirup secara terus-menerus, partikel logam itu dapat masuk ke dalam tubuh dan berpotensi meningkatkan risiko kanker. 

Terakhir, Agus menyebut bahwa vape menghasilkan partikel halus yang bersifat toksik dan dapat menyebabkan iritasi di saluran napas dan memicu penyakit seperti asma, penyakit paru kronik hingga berbagai gangguan organ.

"Partikel ini dapat menyebabkan iritasi saluran napas yang artinya dapat menginduksi penyakit-penyakit saluran napas,” kata dia. 


4. Vape berpotensi jadi "bom waktu" penyakit di masa depan

Kemenkes Soroti Anak Mulai Usia 4 Tahun yang Gunakan Vape
Penasehat Pengurus Pusat PDPI dan Direktur Rumah Sakit (RS) Persahabatan, dr. Agus Dwi Susanto dalam kampanye #SehatTanpaRokok (IDN Times/Shera Amalia)

Agus juga mengatakan, kemungkinan penyakit akibat vape terjadi pada 25 tahun mendatang. Namun, sejumlah dampak kesehatan akibat rokok elektrik sudah mulai ditemukan. Di antaranya, gejala asma, pneumonia, batuk kronis, iritasi tenggorokan, hingga kasus paru-paru bocor atau pneumotoraks. 

Dia menambahkan, dampak jangka panjang seperti kanker dan penyakit paru kronik karena vape belum terlihat pada manusia, baik di Indonesia maupun di dunia. Hal ini karena proses tumbuhnya penyakit tersebut butuh waktu selama 15 tahun. 

“Oleh karena itu, kalau kita biarkan generasi muda pakai vape saat ini, maka akan jadi bom waktu penyakit itu sekitar 15-20 tahun lagi,” ujarnya. 

Share Article
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah

Related Articles

See More