ilustrasi perang (IDN Times/Aditya Pratama)
Selain teknologi, JK menyoroti strategi Iran yang menembakkan roket dalam jumlah besar secara bertubi-tubi. Strategi ini, kata dia, bukan semata soal harga roket yang lebih murah dibanding sistem pertahanan seperti rudal patriot milik AS, tetapi soal kuantitas.
“Bukan soal murahnya, roket banyak sehingga tidak sempat terdeteksi oleh Patriot,” ujarnya.
Dengan pola serangan massal, meski sebagian roket berhasil dihancurkan, masih ada yang lolos dan mencapai sasaran.
JK juga menyinggung soal stok persenjataan. Ia menyebut ada analisis yang memperkirakan Iran masih memiliki sekitar 3.000 roket. Jika diluncurkan 100 per hari, persediaan itu bisa bertahan sekitar sebulan, bahkan lebih lama jika intensitasnya berbeda.
Namun, ia mengingatkan bahwa bukan hanya Iran yang berisiko kehabisan pasokan.
“Amerika juga begitu. Israel juga begitu. Bisa kekurangan supply,” katanya.
Pada akhirnya, JK melihat konflik ini berpotensi berubah menjadi perang berbasis drone, mengingat biaya lebih murah dan efektivitasnya dalam perang modern. Ia pun menilai dinamika suplai senjata dan teknologi akan sangat menentukan arah konflik ke depan.