Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kabinet Bayangan Deklarasikan Diri Jadi Pesaing Menteri Prabowo
11 dari 15 anggota Kabinet Bayangan yang menggelar rapat kerja perdana pada Senin, 27 Juli 2026 di Jakarta. (IDN Times/Santi Dewi)
  • Kabinet Bayangan beranggotakan akademisi, peneliti, dan masyarakat sipil menggelar rapat perdana di Cikini, Jakarta, sebagai pengawas sekaligus pesaing positif bagi menteri pemerintahan Prabowo.
  • Empat program disiapkan: dialog dengan Istana dan publik, kunjungan kampus, crowdfunding untuk proyek kecil yang tak dikerjakan pemerintah, serta rapor dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran berbasis data.
  • Kabinet berisi 15 anggota, jauh lebih ramping dari 48 menteri Kabinet Merah Putih; pemilihannya mengacu rekam jejak dan meritokrasi, tanpa presiden atau wakil presiden bayangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sejumlah akademisi, peneliti dan masyarakat sipil yang menjadi anggota di dalam Kabinet Bayangan resmi menggelar rapat kabinet perdana di area Cikini, Jakarta Pusat pada Senin (27/7/2026). Total ada 11 dari 15 anggota kabinet yang ikut hadir.

Kabinet Bayangan ini merupakan salah satu alternatif kanal penyampaian aspirasi yang sudah tersumbat. Kehadiran mereka untuk menjadi pengawas melekat terhadap menteri yang menjadi mitranya. Rapat perdana Kabinet Bayangan digelar secara sederhana dan dapat disaksikan oleh awak media.

"Semua menteri memiliki basis atau pegangan terhadap konstitusi, ke arah itu lah Kabinet Bayangan ini hendak didirikan, sebagai checks and balances untuk pemerintahan yang sedang bekerja," ungkap akademisi dari Universitas Andalas, Feri Amsari, yang juga menjabat Menteri Sekretaris Negara.

Ia tak menampik format kabinet bayangan lazim diterapkan di sebuah negara yang menganut sistem pemerintahan parlemen. Sedangkan sistem pemerintahan di Indonesia adalah presidensial. Meski begitu, Feri mengatakan saat ini sistem tata negara sudah dikacaukan lebih dulu oleh negara.

"Sebagai contoh, ada Wakil Ketua DPR yang melaporkan hasil kerja DPR ke pejabat eksekutif. Ada pula menteri-menteri yang melapor kepada Wakil Ketua DPR. Ada DPR yang jadi penunggu tamu ketika kabinet disusun. Jadi, pada praktiknya di sini juga sudah ada rasa parlementer. Lalu, kami pikir kenapa tidak ada mekanisme yang sama, seolah-olah kabinet parlementer sedang bekerja," tutur dia.

Namun, kabinet parlementer itu, kata Feri, memiliki tujuan baik yakni menjadi pesaing positif terhadap kinerja pemerintah.

1. Kabinet Bayangan punya 4 program yang bakal dilakukan

11 dari 15 anggota Kabinet Bayangan yang menggelar rapat kerja perdana pada Senin, 27 Juli 2026 di Jakarta. (IDN Times/Santi Dewi)

Lebih lanjut, pria yang juga menjadi salah satu pemeran utama di film dokumenter Dirty Vote itu mengungkapkan, ada empat program yang bakal dilakukan Kabinet Bayangan dalam waktu dekat. Pertama, Kabinet Bayangan akan membuka dialog dengan banyak pihak, termasuk dengan Istana.

"Kami juga akan membuka dialog dengan publik luas," kata Feri.

Kabinet Bayangan telah menyiapkan mekanisme seolah-olah debat parlemen antara anggota kabinet dengan orang-orang yang ingin menanyakan lebih jauh mengenai program yang seharusnya dikerjakan oleh negara.

Program kedua, Kabinet Bayangan akan berkeliling ke sejumlah kampus di daerah-daerah. "Kami akan berdialog dengan teman-teman mahasiswa mengenai program yang seharusnya dikerjakan oleh pemerintah," tutur dia.

Program ketiga, Kabinet Bayangan bakal melakukan pemungutan dana publik atau crowd funding untuk mengeksekusi program-program yang tak mampu dikerjakan oleh pemerintah. Meskipun itu program yang kecil dan tak membutuhkan dana yang besar.

"Misalnya ada sekolah yang murid-murid dan gurunya harus nyeberang, maka kami akan berpikir bagaimana membangun sesuatu atas dasar dana publik. Kalau selama ini pemerintah sudah memungut pajak tapi gagal melakukan sesuatu, kami ingin membuktikan bahwa kerja negara mudah kok kalau niatnya baik," imbuhnya.

Program keempat, Kabinet Bayangan akan meluncurkan rapor kinerja dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. "Rapor ini disusun dalam perspektif checks and balances yang kami lakukan. Kami akan lengkapi data dan bukti," katanya.

2. Kabinet Bayangan sengaja tak memilih presiden dan wapres bayangan

Presiden Prabowo dan Wapres Gibran berjalan bersama saat masuk ke Ruang Sidang Kabinet Paripurna, 20 Juli 2026 (dok. Sekretariat Presiden)

Feri juga merespons mengapa tidak ada presiden dan wakil presiden bayangan untuk melengkapi kabinet. Ia menegaskan, presiden kabinet bayangan adalah rakyat.

"Presiden kami adalah rakyat, publik yang mau kami patuhi kehendak-kehendaknya. Tentu kehendak-kehendak publik adalah kehendak-kehendak rakyat, yang hak-hak konstitusionalnya tidak dipenuhi oleh negara. Di sana lah kami akan bekerja," kata Feri.

3. Perbandingan formasi anggota Kabinet Bayangan dengan Kabinet Merah Putih

Daftar menteri di kabinet bayangan dibandingkan dengan Kabinet Merah Putih [Hal 1]. (IDN Times/Sukma Shakti)
Daftar menteri di kabinet bayangan dibandingkan dengan Kabinet Merah Putih [Hal 2]. (IDN Times/Sukma Shakti)
Daftar menteri di kabinet bayangan dibandingkan dengan Kabinet Merah Putih [Hal 3]. (IDN Times/Sukma Shakti)

Saat ini jumlah anggota Kabinet Bayangan mencapai 15 orang. Sedangkan jumlah menteri di Kabinet Merah Putih berjumlah tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah anggota Kabinet Bayangan, yakni 48. Itu pun bisa bertambah lebih gemuk, lantaran Prabowo juga membuka posisi wakil menteri di kabinetnya.

Salah satu inisiator pembentuk Kabinet Bayangan, Ahmad Jilul Qur'ani, pihaknya turut mengkritisi lewat jumlah anggota kabinet yang ramping. Selain itu, pemilihan anggota Kabinet Bayangan juga didasari lewat penelusuran rekam jejak dan meritokrasi.

Berikut perbandingan formasi anggota Kabinet Bayangan dan Kabinet Merah Putih:

  1. Menteri Sekretaris Negara: Feri Amsari, counterpart: Menteri Sekretaris Negara (Prasetyo Hadi), Kepala Staf Presiden (Dudung Abdurachman) dan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Muhammad Qodari)

  2. Menteri Dalam Negeri dan Keamanan Negara: Armand Suparman, counterpart: Menteri Dalam Negeri (Tito Karnavian), Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Djamari Chaniago), Kapolri (Listyo Sigit Prabowo), dan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Yandri Susanto)

  3. Menteri Luar Negeri: Shofwan Al-Banna Choiruzzad, counterpart: Menteri Luar Negeri (Sugiono)

  4. Menteri Pertahanan: Curie Maharani, counterpart: Menteri Pertahanan (Sjafrie Sjamsoeddin)

  5. Menteri Hak Perempuan dan Kelompok Marginal: Khoirunnisa Nur Agustyati, counterpart: Menteri PPPA (Arifatul Choiri Fauzi) dan Menteri HAM (Natalius Pigai)

  6. Menteri Hukum dan Kebijakan Negara: Yance Arizona, counterpart: Menteri Koordinator Bidang Hukum (Yusril Ihza Mahendra), Menteri Hukum (Supratman Andi Agtas), Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Agus Andrianto), Menpan RB (Rini Widyantini) dan Jaksa Agung (ST Burhanuddin)

  7. Menteri Perekonomian: Media Wahyudi Askar, counterpart: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Airlangga Hartarto), Menteri Perindustrian (Agus Gumiwang), Menteri Investasi dan Hilirisasi (Rosan Roeslani), Menteri UMKM (Maman Abdurahman), Menteri Koperasi (Ferry Juliantono), Menteri Perdagangan (Budi Santoso), BP BUMN (Donny Oskaria), Menteri Pariwisata (Widiyanti Putri Wardhana), Menteri Ekonomi Kreatif (Teuku Rifky)

  8. Menteri Keuangan dan Tata Kelola Anggaran: Bhima Yudhistira Adhinegara, counterpart: Menteri Keuangan (Purbaya Yudhi Sadewa)

  9. Menteri Perlindungan Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim: Iqbal Damanik, counterpart: Menteri Lingkungan Hidup (Jumhur Hidayat), Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia), Menteri Kehutanan (Raja Juli Antoni), dan Menteri ATR (Nusron Wahid)

  10. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Iman Zanatul Haeri, counterpart: Mendikdasmen (Abdul Mu'ti), Mendiksaintek (Brian Yuliarto), Menteri Kebudayaan (Fadli Zon), dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Pratikno)

  11. Menteri Riset, Teknologi dan Digital: Nenden Sekar Arum, counterpart: Menteri Saintek (Brian Yuliarto) dan Menkomdigi (Meutya Hafid)

  12. Menteri Kesehatan: Irma Hidayana, counterpart: Menteri Kesehatan (Budi Gunadi Sadikin)

  13. Menteri Sosial dan Layanan Dasar: Nabiyla Risfa Izzati, counterpart: Menteri Sosial (Saifullah Yusuf), Menko Pemberdayaan Masyarakat (Muhaimin Iskandar), Menteri Kependudukan/BKBN (Wihaji), Menteri Ketenagakerjaan (Yassierli), Menteri Pekerja Migran (Mukhtarudin), Menteri PU (Doddy Hanggodo), Menteri Perumahan (Maruarar Sirait)

  14. Menteri Pertanian dan Kedaulatan Pangan: Isnawati Hidayah, counterpart: Menteri Koordinator Bidang Pangan (Zulkifli Hasan), Menteri Pertanian (Andi Amran Sulaiman), Menteri Kelautan dan Perikanan (Wahyu Trenggono), Kepala Badan Gizi Nasional (Sudaryono)

  15. Sekretaris Kabinet: Ahmad Jilul QF, counterpart: Sekretaris Kabinet (Teddy Indra Wijaya)

Curated For You

Editorial Team

Related Article