Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal, Ditjen Pesantren Kemenag, Mastuki (IDN Times/Aldila)
  • Kemenag mengusulkan pembukaan prodi pesantren atau kepesantrenan di UIN untuk memperluas kajian akademik mengenai pesantren.

  • Mastuki menilai pesantren memiliki sejarah panjang serta cakupan pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya yang dapat diteliti lintas disiplin.

  • Gagasan ini dikaitkan dengan pandangan Gus Dur yang menyebut pesantren sebagai subkultur dengan sistem nilai dan tradisi khas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
awal abad 20

Madrasah muncul sebagai respons terhadap sistem persekolahan yang diintrodusir penjajah Belanda.

1960an

Perguruan tinggi Islam kemudian lahir.

Minggu (8/11/2026)

Keterangan Mastuki mengenai usulan pembukaan prodi pesantren atau kepesantrenan dikutip.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kemenag mengusulkan pembukaan program studi pesantren atau kepesantrenan di Universitas Islam Negeri untuk memperluas kajian akademik.
  • Who?
    Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal, Ditjen Pesantren, Mastuki, menyampaikan usulan tersebut.
  • Where?
    Usulan disampaikan dalam Sharing Session Kepesantrenan di UIN Sayyid Ali Rahmathulla (SATU) Tulungagung.
  • When?
    Mastuki menyampaikan keterangan tersebut dan dikutip pada Minggu (8/11/2026).
  • Why?
    Kajian kepesantrenan di lingkungan UIN, IAIN, dan STAIN dinilai masih minim, sementara pesantren memiliki sejarah serta cakupan kegiatan yang luas.
  • How?
    PTKI didorong mengembangkan kajian pesantren melalui pembukaan program studi khusus dan penelitian lintas disiplin ilmu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kemenag mengusulkan kampus Islam membuka jurusan tentang pesantren. Mastuki menyampaikan usul itu di UIN SATU Tulungagung. Ia bilang pesantren punya sejarah panjang, sekolah, usaha, dan kegiatan sosial. Pesantren juga punya aturan dan tradisi sendiri. Sekarang kajian tentang pesantren di kampus masih sedikit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Usulan pembukaan prodi kepesantrenan dapat memperluas ruang akademik untuk mempelajari sejarah, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, serta tradisi keilmuan pesantren. Gagasan ini juga menempatkan beragam aktivitas pesantren sebagai sumber penelitian yang relevan, sehingga kekayaan lembaga tersebut dapat dikaji secara lebih terarah di perguruan tinggi Islam.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Agama (Kemenag) mendorong perguruan tinggi keagamaan Islam untuk memperluas kajian akademik mengenai pesantren. Salah satu langkah yang diusulkan adalah pembukaan program studi (prodi) pesantren atau kepesantrenan di Universitas Islam Negeri (UIN).

Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal, Ditjen Pesantren Kemenag, Mastuki, menyampaikan usulan tersebut dalam Sharing Session Kepesantrenan di UIN Sayyid Ali Rahmathulla (SATU) Tulungagung.

Menurut Mastuki, pesantren memiliki sejarah panjang dan kekayaan tradisi keilmuan yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bidang kajian akademik di perguruan tinggi Islam. Ketersediaan sumber daya, literatur, serta berbagai referensi ilmiah menjadi modal penting untuk membangun disiplin keilmuan kepesantrenan.

Ia menilai, pesantren memiliki posisi istimewa dalam sejarah pendidikan Indonesia. Lembaga pendidikan berbasis pesantren telah berkembang jauh sebelum kemerdekaan, bahkan memiliki perjalanan sejarah selama ratusan tahun.

"Seharusnya pesantren menjadi bagian organik dari pendidikan tinggi keagamaan Islam. Karena secara historis, pesantren lahir terlebih dahulu, baru muncul madrasah pada awal abad 20 (sebagai respon terhadap sistem persekolahan yang diintrodusir penjajah Belanda), kemudian lahir perguruan tinggi Islam 1960-an", ujar Mastuki dalam keterangannya, dikutip Minggu (8/11/2026).

1. Kajian kepesantrenan di perguruan tinggi masih terbatas

Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal, Ditjen Pesantren Kemenag, Mastuki (dok. Kemenag)

Mastuki menyayangkan perhatian terhadap kajian kepesantrenan di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) masih minim. Sejumlah perguruan tinggi memang telah membentuk pusat studi pesantren. Namun, keberadaan lembaga tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menggali berbagai aspek kehidupan pesantren yang memiliki cakupan sangat luas.

Karena itu, ia mendorong perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) agar lebih aktif mengembangkan kajian pesantren melalui pembukaan program studi khusus. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi pesantren sebagai salah satu objek kajian penting dalam dunia akademik.

Mastuki menjelaskan, ruang penelitian mengenai pesantren tidak hanya terbatas pada sistem pendidikan tradisional. Perkembangan pesantren saat ini memperlihatkan beragam aktivitas kelembagaan yang dapat menjadi bahan penelitian lintas disiplin ilmu.

"Ada ruang terbuka kajian pesantren dari sisi pendidikan. Saat ini banyak pesantren seperti holding company yang menyelenggarakan berbagai aktivitas produktif. Lembaga pendidikan formal seperti madrasah, sekolah, diniyah, muadalah, ma'had aly dan universitas umum. Belum lagi kajian kitab yang tetap lestari, PAUD, majelis taklim, atau pengajian untuk orang dewasa", ucap dia.

Menurutnya, keberagaman kegiatan tersebut memperlihatkan pesantren telah berkembang menjadi institusi dengan ekosistem pendidikan yang kompleks. Selain menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal, pesantren tetap mempertahankan tradisi pengajaran kitab serta kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat luas.

2. Pesantren punya potensi ekonomi dan sosial

Mastuki, Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal Kementerian Agama (Dok.IDN Times/Istimewa)

Selain sektor pendidikan, Mastuki menyoroti peran pesantren dalam mendorong kemandirian ekonomi umat. Sejumlah lembaga pesantren telah mengembangkan berbagai unit usaha yang mendukung keberlangsungan operasional sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Potensi tersebut menjadikan pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Kemandirian finansial melalui pengelolaan unit bisnis dapat menjadi salah satu topik penelitian yang relevan untuk dikembangkan di perguruan tinggi.

Ia juga mengingatkan, pesantren memiliki fungsi sosial dan kebudayaan yang kuat. Lembaga ini berperan sebagai pusat dakwah, pelindung masyarakat melalui jaring pengaman sosial (social safety net), penjaga tradisi budaya, serta penguat ketahanan sosial dan moral bangsa.

3. Singgung pemikiran Gus Dur

Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal, Ditjen Pesantren Kemenag, Mastuki (dok. Istimewa)

Mastuki turut mengaitkan pemikiran tersebut dengan pandangan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, mengenai pesantren sebagai subkultur. Konsep tersebut menggambarkan pesantren sebagai lingkungan kehidupan yang mempunyai sistem nilai, norma, tradisi, dan pola interaksi tersendiri, tetapi tetap menjadi bagian dari masyarakat luas.

"Gus Dur menulis esai secara khusus bahwa pesantren itu sub-kultur. Suatu sistem kehidupan mandiri yang memiliki nilai, norma, tradisi, dan pola pergaulan khas yang berbeda dari budaya masyarakat luas (budaya dominan), namun tetap menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Artinya, pesantren lebih dari cukup menyediakan sumber sebagai wilayah kajian akademik yang menarik dan potensial", kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article