Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pesan Menag ke Santri: Santri Kuasai Ilmu Teknologi dan Jaga Pesantren

3 min read
Pesan Menag ke Santri: Santri Kuasai Ilmu Teknologi dan Jaga Pesantren
Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta (dok. Kemenag)
  • Menag Nasaruddin Umar meminta seluruh keluarga pesantren menjaga nama baik, martabat, dan kepercayaan masyarakat melalui pengelolaan pendidikan yang sesuai aturan.

  • Kemenag siap mengambil tindakan terhadap pesantren yang menyimpang, dengan pengawasan dan kerja sama berbagai unsur pesantren.

  • Santri didorong menguasai teknologi, memperkuat kemandirian ekonomi, serta memadukan pengetahuan, akhlak, dan semangat berkarya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, mengingatkan kiai, nyai, pengasuh, pengelola, dan santri agar menjaga nama baik pesantren. Menurutnya, kehormatan dan martabat pesantren menjadi tanggung jawab seluruh pihak yang berada dalam ekosistem pendidikan Islam tersebut.

Nasaruddin menilai, citra pesantren harus dijaga melalui pengelolaan lembaga yang baik, serta perilaku seluruh warganya yang mencerminkan nilai-nilai luhur pendidikan Islam. Ia juga meminta tidak ada lagi persoalan negatif yang mencoreng nama pesantren.

“Marilah kita memelihara citra luhur pondok pesantren. Marwah dan citra pondok pesantren sangat tergantung kepada kita semuanya, para pengelolanya. Jangan lagi ada isu negatif di sekitar pondok pesantren,” ujar Nasaruddin dilansir dari laman resmi Kemenag, saat memberi arahan pada acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, dikutip Minggu (1/11/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Menteri Koperasi Ferry Juliantoro, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, serta Sekretaris Jenderal dan jajaran pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama.

Nasaruddin mengatakan, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi bangsa. Keberadaan pesantren tidak hanya menjadi tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga wadah untuk membangun karakter, memperkuat akhlak, dan menanamkan semangat pengabdian kepada masyarakat.

Karena itu, ia meminta seluruh pengelola pesantren menjaga kepercayaan masyarakat dengan menyelenggarakan pendidikan sesuai aturan dan nilai-nilai Islam. Pesantren diharapkan mampu mencetak generasi yang memiliki pengetahuan luas sekaligus karakter yang kuat.

“Kita ingin pondok pesantren menjadi wadah terbaik untuk melahirkan manusia-manusia utuh di Indonesia ini,” kata dia.

  1. 1. Kemenag bakal tindak pesantren bila ada yang langgar aturan

     Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta (dok. Kemenag)
    Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta (dok. Kemenag)

    Nasaruddin juga menegaskan, Kementerian Agama (Kemenag) tidak akan membiarkan penyimpangan dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren. Pemerintah siap mengambil tindakan apabila ditemukan lembaga yang menjalankan aktivitas di luar ketentuan.

    Menurutnya, penegakan aturan bukan semata-mata untuk memberikan sanksi, melainkan juga melindungi masyarakat dan mempertahankan kehormatan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam.

    “Kementerian Agama sangat tegas. Manakala ada pondok pesantren yang menyimpang dari ketentuan-ketentuannya sebagaimana seharusnya, pemerintah tidak segan-segan untuk mengambil tindakan yang tegas,” ucap dia.

    Nasaruddin juga meminta Majelis Masyayikh mengambil peran dalam mengawasi dan menjaga martabat pesantren. Upaya tersebut membutuhkan kerja sama berbagai pihak, terutama kiai, pengasuh, dan pengelola yang bertanggung jawab langsung terhadap kegiatan pendidikan.

    Nasaruddin menilai, menjaga kehormatan pesantren tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Seluruh keluarga besar pesantren perlu memiliki komitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang baik, aman, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

  2. 2. Menag ingatkan peran pesantren dalam sejarah Indonesia

     Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta (dok. Kemenag)
    Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta (dok. Kemenag)

    Lebih lanjut, Nasaruddin mengingatkan pesantren sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, jauh sebelum negara ini merdeka. Selama perjalanan sejarah, pesantren turut berkontribusi dalam mencerdaskan masyarakat, membentuk karakter, menjaga martabat manusia, serta menumbuhkan semangat kebangsaan.

    Nasaruddin mengatakan, kontribusi pesantren tidak bisa dilepaskan dari proses panjang berdirinya Republik Indonesia. Peran ulama dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan menjadi salah satu bukti pentingnya keberadaan lembaga pendidikan tersebut bagi bangsa.

    “Pesantren bukan hanya bagian dari sejarah Indonesia. Pesantren adalah bagian dari fondasi berdirinya Republik Indonesia,” ujar dia.

  3. 3. Santri harus bisa kuasai ilmu teknologi

     Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta (dok. Kemenag)
    Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta (dok. Kemenag)

    Karena itu, kata Menag, menjaga kehormatan pesantren juga menjadi bagian dari upaya meneruskan perjuangan para pendahulu. Jika dahulu santri ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan, generasi saat ini memiliki tantangan untuk membangun Indonesia melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Nasaruddin mendorong santri tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga meningkatkan kemampuan di bidang teknologi, memperkuat kemandirian ekonomi, serta menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

    Menurutnya, perpaduan antara ilmu pengetahuan, keterampilan teknologi, akhlak mulia, dan semangat berkarya menjadi bekal penting bagi santri untuk menghadapi perkembangan zaman.

    “Sebab kita menginginkan pondok pesantren menjadi salah satu tempat terbaik untuk melahirkan manusia-manusia Indonesia yang utuh," imbuhnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More