Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
TNI, Andrie Yunus, dan Keadilan yang Tak Kunjung Datang
(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Eva Meliani Pasaribu, anak jurnalis korban pembunuhan Rico Sempurna Pasaribu, mengecam keras penyerangan air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus dan menyerukan solidaritas bagi para korban kekerasan.
  • Eva menyoroti sulitnya mencari keadilan saat berhadapan dengan aparat TNI, mengungkap pelaku pembunuhan keluarganya masih bebas sementara dirinya terus memperjuangkan kebenaran bersama dukungan Andrie.
  • Lenny Damanik, ibu korban kekerasan TNI lainnya, mendesak seluruh warga negara bersuara menuntut keadilan bagi Andrie dan korban lain agar pelaku militer diadili secara terbuka dan setimpal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
24 Mei 2024

Michael Histon Sitanggang, anak dari Lenny Damanik, diduga dianiaya oleh prajurit TNI Sertu Reza Pahlevi hingga meninggal dunia.

27 Juni 2024

Rico Sempurna Pasaribu, jurnalis di Kabupaten Karo, bersama keluarganya tewas akibat pembakaran rumah mereka. Eva Meliani Pasaribu menduga ada keterlibatan oknum TNI dalam peristiwa ini.

20 Oktober 2025

Pengadilan Militer Medan menjatuhkan hukuman 10 bulan penjara kepada Sertu Reza Pahlevi atas kematian Michael Histon Sitanggang, memicu kekecewaan keluarga korban.

8 April 2026

Eva Meliani Pasaribu menggelar aksi damai di depan Gedung Mahkamah Konstitusi Jakarta untuk menyuarakan solidaritas terhadap Andrie Yunus yang diserang air keras oleh prajurit TNI.

kini

Keluarga korban kekerasan dan aktivis terus menuntut keadilan serta mendesak pengusutan tuntas kasus kekerasan oleh aparat TNI.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada ibu namanya Eva. Dulu keluarganya meninggal karena rumahnya dibakar dan katanya ada tentara jahat yang buat itu. Sekarang ada orang baik namanya Andrie disiram air keras oleh tentara juga. Eva marah dan sedih, dia teriak minta keadilan di depan gedung besar. Ada juga ibu Lenny yang anaknya dipukul tentara sampai meninggal. Mereka berdua mau semua orang bantu bicara supaya tidak ada lagi orang disakiti dan supaya hukum adil untuk semua orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Keluarga korban dugaan kekerasan prajurit TNI, Eva Meliani Pasaribu, menyerukan solidaritas terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, yang mengalami penyerangan dengan air keras oleh prajurit TNI. Eva mengecam keras aksi kekerasan tersebut.

Dukungan solidaritas itu disampaikan Eva saat menggelar aksi damai di depan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026).

"Hidup korban, jangan diam, jangan diam, lawan. Mata Andrie adalah mata rakyat yang memperjuangkan keadilan," kata Eva memulai orasinya.

1. Disuarakan keluarga Rico Sempurna Pasaribu, jurnalis yang jadi korban pembunuhan berencana di Sumut

Warga memadati lokasi rekonstruksi kasus pembunuhan dengan pembakaran rumah wartawan Tribrata TV, Rico Sempurna Pasaribu, Jumat (20/7/2024). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Eva adalah anak dari Rico Sempurna Pasaribu, seorang jurnalis yang menjadi korban pembunuhan berencana bersama seluruh keluarganya di Kabupaten Karo, Sumatra Utara.

"Pada saat kejadian, bukan hanya ayah saya yang meninggal, tetapi ibu, adik, dan anak saya juga meninggal akibat peristiwa pembakaran rumah kami di Jalan Nabung Surbakti, Kabanjahe, pada 27 Juni 2024. Kami menduga kuat kematian empat orang keluarga saya ada keterlibatan oknum TNI yang sampai saat ini belum terungkap," ujarnya.

Sebagai perempuan yang kehilangan seluruh keluarga, Eva mengaku sangat mengetahui bagaimana rasanya menjadi korban, dan menunggu keadilan yang tak kunjung datang.

"Sebagai orang yang pernah kehilangan seluruh keluarga saya, saya tahu persis bahwa korban tidak boleh dibiarkan sendirian. Keadilan tidak akan datang kalau kita diam. Kebenaran tidak akan muncul kalau kita takut, dan negara tidak akan bertanggung jawab jika kita tidak menuntutnya," tegasnya.

1. Disuarakan keluarga Rico Sempurna Pasaribu, jurnalis yang jadi korban pembunuhan berencana di Sumut

Eva Pasaribu selaku anak Rico Sempurna saat berada di Pomdam I/BB (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Eva adalah anak dari Rico Sempurna Pasaribu, seorang jurnalis yang menjadi korban pembunuhan berencana bersama seluruh keluarga saya di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

"Pada saat kejadian, bukan hanya ayah saya yang meninggal, tetapi ibu, adik, dan anak saya juga meninggal akibat peristiwa pembakaran rumah kami di Jalan Nabung Surbakti, Kabanjahe, pada 27 Juni 2024. Kami menduga kuat kematian empat orang keluarga saya ada keterlibatan oknum TNI yang sampai saat ini belum terungkap," ujarnya.

Sebagai perempuan yang kehilangan seluruh keluarga, Eva mengaku sangat mengetahui bagaimana rasanya menjadi korban, dan menunggu keadilan yang tak kunjung datang.

"Sebagai orang yang pernah kehilangan seluruh keluarga saya, saya tahu persis bahwa korban tidak boleh dibiarkan sendirian. Keadilan tidak akan datang kalau kita diam. Kebenaran tidak akan muncul kalau kita takut. Dan negara tidak akan bertanggung jawab jika kita tidak menuntutnya," tegasnya.

2. Sulitnya mencari keadilan ketika kita berhadapan dengan aparat TNI

Bebas Ginting alias Bulang, pembunuh wartawan Rico Sempurna Pasaribu saat melakukan adegan rekonstruksi, Kamis (19/3/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Yang lebih menyakitkan lagi, kata Eva, ketika harus mengalami sulitnya mencari keadilan dan berhadapan dengan aparat TNI.

"Saat ini, terduga pelaku masih hidup bebas, bertugas, dan digaji negara. Sedangkan saya? Saya hidup sebatang kara. Saya sudah kehilangan keluarga saya, anak yang saya lahirkan. Tapi saya tahu saya tidak pernah kehilangan harapan ketika saya menjalani proses hukum ini. Karena saya tahu, ada teman-teman baik yang mendampingi saya, yang salah satunya adalah Bang Andrie Yunus," ucap dia.

Eva merasa sedih, kecewa, dan marah atas apa yang menimpa Andrie Yunus. Menurutnya, sosok Andrie selalu berdiri mendampingi korban-korban.

"Ini harus diusut tuntas. Keadilan dan kebenaran tidak boleh lagi mati, seperti api yang sudah mengambil anggota keluarga saya. Supaya tidak lagi ada orang yang berani yang dibungkam seperti ini. Saya mengutuk keras tindakan penyiraman yang terjadi kepada Bang Andrie," kata Eva.

3. Seluruh warga negara harus menyuarakan dukungan untuk Andrie Yunus

Lenny Damanik ketika membawa foto anaknya, MHS, berusia 15 tahun yang meninggal akibat tindak kekerasan anggota TNI. (Dokumentasi LBH Medan)

Pada kesempatan yang sama, korban lainnya, Lenny Damanik, juga menyerukan solidaritas serupa. Menurutnya, kasus Andrie Yunus adalah panggilan bagi masyarakat luas untuk tidak diam.

"Untuk memastikan bahwa kekerasan oleh aparat, apapun bentuknya, baik itu pemukulan yang merenggut nyawa anak saya, maupun penyiraman air keras terhadap Andrie, tidak lagi dianggap biasa, tidak lagi dibiarkan, tidak lagi diselesaikan dengan hukuman yang tidak sebanding dengan penderitaan korban," tuturnya.

Lenny menegaskan, seluruh warga negara harus menyuarakan dukungan untuk Andrie, agar ke depan tidak ada lagi korban seperti Andrie dan anaknya.

"Keadilan harus hadir untuk semua, bukan hanya untuk mereka yang punya pangkat. Keadilan harus melindungi rakyat, bukan menutupi pelaku. Dan kita akan terus bersuara sampai keadilan itu benar-benar bisa dirasakan oleh korban. Adili para pelaku dan aktor intelektualnya di peradilan umum," paparnya.

Lenny adalah korban yang masih memperjuangkan keadilan untuk anaknya, Michael Histon Sitanggang. Pada 24 Mei 2024, sang buah hatinya diduga dianiaya prajurit TNI Sertu Reza Pahlevi hingga meninggal dunia.

Sakit itu semakin nyata, ketika 20 Oktober 2025, Pengadilan Militer Medan menjatuhkan putusan yang menghancurkan hatinya, yaitu hukuman 10 bulan penjara kepada Sertu Reza.

"Hanya 10 bulan, untuk seorang prajurit yang telah menghilangkan nyawa seorang anak berusia 15 tahun. Di ruang sidang, ketika hakim mengatakan terdakwa 'masih muda' dan 'masih dibutuhkan di satuannya', saya merasakan seolah negara sedang mengatakan bahwa nyawa anak saya tidak bernilai apa-apa," katanya.

Lenny menceritakan, pengalamannya dalam mencari keadilan atas kematian anaknya mengungkap sejumlah persoalan mendasar, yang tidak hanya menyangkut kasus individu, tetapi menyentuh persoalan yang lebih besar.

Persoalan tersebut berkaitan dengan akses keadilan bagi warga sipil korban tindak pidana oleh anggota militer, keterbukaan peradilan militer, serta jaminan perlindungan terhadap warga negara.

Editorial Team