Israel Ambil Alih Situs Bersejarah Nabi Samuel di Tepi Barat

- Otoritas Israel mengambil alih 109 dunam lahan di situs Nabi Samuel, termasuk masjid kuno dan lahan pertanian, dengan alasan pelestarian arkeologi demi kepentingan publik.
- Kementerian Wakaf Palestina dan organisasi Peace Now mengecam langkah ini sebagai upaya Yahudisasi serta perampasan sepihak yang berpotensi memicu konflik antaragama di Tepi Barat.
- Situs Nabi Samuel dihormati oleh tiga agama besar dan memiliki nilai sejarah tinggi, namun kini semakin terancam akibat kebijakan Israel yang membatasi akses serta mengubah fungsi kawasan tersebut.
Jakarta, IDN Times - Otoritas Israel mengeluarkan perintah pengambilalihan lahan di situs bersejarah Nabi Samuel yang terletak di wilayah pendudukan Tepi Barat. Lahan tersebut diperkirakan memiliki luas hingga 109 dunam atau setara dengan 11 hektare.
Kawasan yang diambil alih mencakup jalan akses, lahan pertanian, dan sebuah bangunan masjid kuno. Tempat ibadah bersejarah tersebut selama ini dikelola oleh otoritas keagamaan Palestina atau Wakaf Islam.
1. Dalih Israel di balik penyitaan lahan

Administrasi Sipil Israel berdalih bahwa pengambilalihan lahan ini dilakukan demi kepentingan publik. Mereka mengklaim situs arkeologi di sekitar Makam Nabi Samuel perlu dilestarikan dan menuduh pejabat Wakaf Islam menolak bekerja sama dalam prosedur renovasi.
Kritikus menilai pengambilalihan ini merupakan kelanjutan dari upaya panjang Israel dalam membatasi pergerakan masyarakat Palestina. Sebelumnya, otoritas Israel telah berulang kali mengurangi ukuran ruang salat bagi umat Islam di situs tersebut.
Peran otoritas Wakaf Islam di situs Nabi Samuel kini telah sangat dibatasi oleh otoritas Israel. Pakar pemetaan bernama Khalil Toufakji menyebut bahwa wewenang mereka sekarang hanya sebatas membuka dan menutup pintu masjid.
2. Otoritas Palestina dan Peace Now kecam langkah Israel

Penyitaan lahan ini langsung menuai kecaman dari Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Otoritas Palestina. Pihak Palestina menyebut langkah ini sebagai kelanjutan dari proses Yahudisasi yang menargetkan identitas mereka.
"Penyitaan ini bertujuan mengisolasi masjid dari lingkungan Palestina. Langkah ini juga akan mengubahnya menjadi situs arkeologi Yahudi dengan kekuatan senjata," ujar perwakilan kementerian, dilansir The New Arab pada Selasa (26/5/2026).
Menurut Organisasi pengawas permukiman Israel, Peace Now, ini adalah kali pertama Israel mengambil alih situs suci milik Wakaf secara sepihak di Tepi Barat. Mereka khawatir agenda pemerintah Israel dapat menyulut konflik.
"Agenda mesianik pemerintah Israel seharusnya sudah dihentikan sejak lama. Kondisi ini justru semakin membahayakan dan menciptakan celah untuk perang agama," tutur perwakilan Peace Now.
3. Situs Nabi Samuel dihormati tiga agama

Nabi Samuel merupakan figur penting yang dihormati di dalam tradisi agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Situs bersejarah ini diyakini oleh ketiga umat beragama tersebut sebagai makam sang nabi.
Berada di atas bukit sekitar enam kilometer barat laut Yerusalem, situs ini menyimpan warisan arsitektur yang sangat berharga. Masjid yang berdiri di sana memiliki ciri khas elemen bangunan peninggalan dari era Ayyubiyah dan Mamluk.
Jauh sebelum penyitaan ini, sebuah desa Palestina pernah berdiri di kawasan Nabi Samuel. Namun, militer Israel menghancurkan desa itu pada tahun 1971 dan memaksa para penduduknya untuk pindah.
Pada tahun 1995, otoritas Israel mulai mengambil alih sebagian wilayah itu untuk dijadikan sebuah taman nasional. Langkah sistematis tersebut dinilai sebagai taktik Israel yang menggunakan dalih pelestarian arkeologi untuk menghapus narasi dan jejak sejarah Palestina.



















