Lithuania Sebut Rusia Palsukan Sinyal GPS Hingga Radius 450 Kilometer

- Pemerintah Lithuania melaporkan Rusia mampu memalsukan sinyal GPS hingga radius 450 kilometer dari Kaliningrad, dengan peningkatan kapasitas pengacakan yang terus berkembang sejak konflik Ukraina dimulai.
- Jumlah antena spoofing di Kaliningrad meningkat dari tiga menjadi 36 unit, menjangkau wilayah Baltik dan sebagian Eropa Utara, memicu gangguan navigasi udara termasuk pada penerbangan pejabat tinggi Eropa.
- Dampak gangguan sinyal juga terasa pada layanan publik seperti jaringan seluler dan sistem pelacakan bus di Lithuania, sementara Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan tersebut.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Lithuania melaporkan bahwa Rusia kini memiliki kemampuan untuk memalsukan sinyal GPS hingga radius 450 kilometer dari wilayah Kaliningrad. Kapasitas pengacakan sinyal ini tercatat terus meningkat sejak tahun lalu, yang menambah deretan kasus dugaan gangguan sinyal elektronik di kawasan Eropa sejak konflik Ukraina dimulai pada 2022.
Wakil Kepala Otoritas Pengatur Komunikasi Lithuania, Darius Kuliesius, menyampaikan bahwa fasilitas pengacak sinyal di Kaliningrad terus bertambah secara terstruktur. Kondisi ini mengubah pola gangguan sinyal di wilayah perbatasan yang awalnya hanya terjadi sesekali, kini menjadi masalah teknis yang berlangsung secara terus-menerus.
1. Jumlah antena pengacak sinyal bertambah dari 3 menjadi 36 unit
Peningkatan kapasitas gangguan ini terlihat dari penambahan perangkat pemalsu sinyal atau antena spoofing. Perangkat ini bekerja dengan memancarkan sinyal buatan untuk memanipulasi sistem navigasi dan pelacakan posisi pesawat atau kendaraan.
"Rusia telah menambah jumlah antena spoofing GPS, yang sebelumnya tiga unit pada awal 2025 menjadi 36 unit saat ini," kata Darius Kuliesius, dilansir Arab News.
Seluruh antena tersebut ditempatkan di Kaliningrad, wilayah basis militer Rusia yang berbatasan langsung dengan kawasan pesisir Baltik di Lithuania dan Polandia. Peta dari pihak berwenang Lithuania menunjukkan bahwa sinyal GPS buatan ini jangkauannya mencakup seluruh negara Estonia, Latvia, Lithuania, sebagian besar Polandia, serta sebagian wilayah Finlandia, Swedia, dan Belarus.
2. Dampak pada keamanan penerbangan di Eropa
Perluasan radius sinyal buatan ini langsung memengaruhi sistem navigasi udara di Eropa. Sejumlah insiden tercatat akibat gangguan ini, salah satunya dialami oleh pesawat militer Spanyol yang membawa Menteri Pertahanan Margarita Robles saat melintas di sekitar wilayah Kaliningrad tahun lalu.
Pada waktu yang berbeda, pesawat yang ditumpangi Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga mengalami kendala penangkapan sinyal saat terbang menuju Bulgaria. Otoritas penerbangan Estonia dan Finlandia juga melaporkan adanya gangguan serupa pada perangkat navigasi di wilayah udara mereka. Meski demikian, aktivitas penerbangan tetap berjalan aman karena sebagian besar pesawat komersial dan bandara utama saat ini sudah dilengkapi alat navigasi cadangan apabila sinyal GPS utama terputus.
3. Sinyal telepon seluler dan jadwal bus ikut terganggu
Selain sektor penerbangan, pancaran sinyal dari Kaliningrad juga memengaruhi fasilitas publik. Kualitas jaringan telepon seluler di wilayah perbatasan Lithuania ikut menurun akibat adanya benturan pada beberapa frekuensi komunikasi. Gangguan ini umumnya semakin terasa saat terjadi peningkatan aktivitas militer udara antara Ukraina dan Rusia.
"Jadwal bus secara daring di kota Klaipeda sempat tidak berfungsi saat gangguan meningkat, karena sistem tersebut bergantung pada pelacakan bus menggunakan GPS," jelas Kuliesius.
Terkait berbagai laporan ini, pihak Kedutaan Besar Rusia di Vilnius belum memberikan tanggapan resmi. Sejak 2022, negara-negara Eropa telah beberapa kali mengeluhkan adanya gangguan elektronik dari arah perbatasan, namun pemerintah Rusia secara konsisten membantah laporan tersebut.



















