Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla dalam Dimensi Ekoteologi, Masyarakat Juga Harus Berperan
Manggala Agni melakukan pemadaman Karhutla di Kalimantan (dok. Kemenhut)
  • Asap karhutla dari Kalimantan dan Sumatra mengganggu masyarakat lokal, Malaysia, serta Singapura.

  • Kesadaran, moral, dan nilai agama disebut penting dalam menjaga serta mengelola hutan.

  • Relawan membantu pemadaman di Palangka Raya dengan pengalaman dan peralatan untuk menangani lahan gambut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Karhutla melanda wilayah Kalimantan dan Sumatra, sementara asapnya mencapai Malaysia dan Singapura serta mengganggu pernapasan.
  • Who?
    Masyarakat lokal, Malaysia, Singapura, Normuslim, Nurul Fajar Desira, Asrul Putra Nanda, relawan, dan Jelang Ramadhan.
  • Where?
    Kebakaran terjadi di wilayah Kalimantan dan Sumatra, dengan aksi pemadaman di Palangka Raya.
  • When?
    Per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Karhutla sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia dan dapat dihindari melalui kesadaran serta pengelolaan alam yang baik.
  • How?
    Relawan membantu pemadaman, berbagi pengetahuan, dan membawa nozzle tanam untuk menjangkau bara api di bawah permukaan tanah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Asap dari kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra sampai ke Malaysia dan Singapura. Banyak orang jadi susah bernapas. Normuslim dan Nurul bilang manusia harus menjaga alam. Asrul bersama relawan Rumah Zakat membantu memadamkan api di Palangka Raya. Sekarang mereka juga berbagi pengetahuan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keterlibatan masyarakat terlihat melalui relawan yang datang membantu pemadaman, berbagi pengalaman, dan membawa peralatan untuk menangani bara di lahan gambut. Pandangan tentang moral, nilai agama, dan pengelolaan alam juga memperlihatkan adanya landasan pemikiran untuk menjaga hutan sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menghadapi karhutla.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bencana kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan dan Sumatra tak cuma menjadi perhatian di skala nasional. Lebih jauh, karhutla sudah menjadi sorotan negeri jiran karena asapnya sudah mencapai Malaysia dan Singapura.

Masyarakat di Malaysia dan Singapura sudah cukup terganggu dengan asap karhutla yang muncul dari wilayah Kalimantan dan Sumatra. Kehidupan masyarakat lokal pun terganggu karena asap terlalu pekat hingga menimbulkan gangguan pernapasan dan lainnya.

1. Tugas manusia memang memelihara alam

Relawan bantu padamkan api karhutla di Kalteng. (IDN Times/istimewa).

Guru Besar UIN Palangka Raya, Normuslim, menyatakan bahwa karhutla sebenarnya bisa dihindari lewat kesadaran. Dia menyatakan jika seluruh elemen memahami hubungannya dengan alam dari konteks keagamaan, maka masalah tersebut bisa dihindari.

"Sebagai manusia, kita diciptakan oleh Allah, dengan dua tujuan. Pertama, Allah menciptakan kita sebagai pengabdi, yakni untuk Allah. Kemudian yang kedua, kita selaku manusia bertujuan sebagai khalifah di muka bumi. Apa artinya? Yakni pemimpin, pemelihara, pengelola bumi ini, mengelola alam ini dengan baik," ujar Normuslim, dalam keterangannya.

2. Moral jadi landasan dasar

Relawan bantu padamkan api karhutla di Kalteng. (IDN Times/istimewa).

Moral, menurut Nurul Fajar Desira, Dewan Pakar Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, merupakan kunci utama dalam pengelolaan hutan. Dijelaskan Nurul, nilai agama memberikan landasan etik agar manusia bisa bersikap lebih bijak dalam berinteraksi dengan alam. Jika itu dilakukan, maka hutan bisa memberikan manfaat.

"Keberlanjutan membutuhkan empat hal yang berjalan bersama, yaitu alam yang dijaga, nilai hidup di masyarakat, keterlibatan, dan manfaat ekonomi. Ketika keempatnya berjalan bersama, konservasi alam menjadi bagian dari kehidupan sekaligus sumber kesejahteraan," kata Nurul.

3. Tindakan relawan jadi bentuk nyata penerapan ekoteologi

Asrul, Relawan asal Kalbar bantu padamkan karhutla di Kalteng. (IDN Times/istimewa).

Peran masyarakat sebenarnya sudah tercermin dari aksi sejumlah relawan yang turun langsung ke wilayah terdampak karhutla. Salah satunya adalah Asrul Putra Nanda, yang rela bergerak dari Pontianak bersama lima relawan lainnya dari Rumah Zakat Kalimantan Barat untuk membantu pemadaman karhutla di Palangka Raya.

Berbekal pengalaman menangani karhutla di Kalbar, Asrul dan tim datang untuk membantu upaya pemadaman sekaligus berbagi pengetahuan dengan tim gabungan di lapangan. Mereka juga membawa nozzle tanam, peralatan untuk menjangkau bara api di bawah permukaan tanah, terutama pada lahan gambut.

Mereka menyatakan, tindakannya didasari atas alasan kemanusiaan dan merasa perlu hadir untuk membantu sesama agar mendapatkan kehidupan yang layak dengan memadamkan api di hutan sekitar.

Anggota riset dari Graduate School of Sustainable Development Universitas Indonesia, Jelang Ramadhan, menyatakan tindakan Asrul dan kawan-kawan mencerminkan penerapan ekoteologi dalam mengatasi karhutla di Palangka Raya.

"Kebakaran hutan dan lahan sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia. Jangan lagi ada kebakaran hutan yang disengaja demi kepentingan korporasi yang sangat merugikan masyarakat Kalimantan dan ASEAN. Jika tidak ada tindakan kuat dari pemerintah, sudah seharusnya masyarakat yang bergerak," ujar Ramadhan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

KPK OTT Pejabat di BNPB13 Oct 2026, 19:39 WIB