China Khawatir Konflik Houthi dan Arab Saudi Kian Memanas

China mengecam serangan Houthi terhadap bandara dan infrastruktur energi Arab Saudi.
Beijing menyerukan dialog, negosiasi, dan penahanan diri untuk meredakan ketegangan regional.
Serangan berulang di tengah konflik Yaman meningkatkan ancaman terhadap infrastruktur penting dan stabilitas kawasan.
Jakarta, IDN Times - China mengecam serangan kelompok Houthi terhadap bandara dan infrastruktur energi Arab Saudi. Beijing juga menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan antara Riyadh dan kelompok yang berbasis di Yaman tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyampaikan kecaman itu dalam konferensi pers rutin pada Senin (12/10/2026). Dia mendesak pihak-pihak terkait untuk tidak mengambil tindakan yang dapat memperburuk ketegangan di kawasan.
“China mengecam serangan yang menyebabkan banyak korban jiwa dan menyampaikan keprihatinan serius atas meningkatnya konflik,” kata Mao.
Pernyataan Beijing muncul setelah serangkaian serangan yang diklaim Houthi menyasar wilayah Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional Riyadh. Serangan-serangan tersebut menambah ketegangan di tengah konflik Yaman yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
1. China kecam serangan Houthi ke Arab Saudi

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning. (twitter.com/MFA_China) Mao menegaskan, China menentang serangan yang menimbulkan korban jiwa dan memperburuk situasi keamanan kawasan. Beijing juga menyampaikan kekhawatiran terhadap intensifikasi konflik antara Arab Saudi dan Houthi.
“Kami menyerukan kepada pihak-pihak terkait agar menghindari tindakan yang meningkatkan ketegangan regional, menyelesaikan perbedaan dan perselisihan melalui dialog dan negosiasi, serta mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan sesegera mungkin,” ujar Mao, dikutip dari Channel News Asia, Rabu (13/10/2026).
Pernyataan tersebut menempatkan dialog dan negosiasi sebagai jalan yang didorong China untuk meredakan konflik. Beijing meminta pihak-pihak terkait menahan diri agar rangkaian serangan tidak semakin memperburuk keamanan regional.
Serangan terhadap fasilitas sipil dan infrastruktur energi juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat serta kepentingan ekonomi di kawasan. Namun, pernyataan Mao yang dikutip dalam laporan tersebut tidak merinci langkah konkret yang akan diambil China untuk merespons serangan-serangan itu.
2. Bandara Riyadh jadi sasaran serangan berulang

Ilustrasi Bandara Internasional King Khalid yang terletak di ibu kota Riyadh, Arab Saudi. (Dokumentasi Bandara Riyadh) Serangan terhadap Bandara Internasional Riyadh terjadi pada Minggu (11/10/2026), menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya. Sehari sebelumnya, serangan lain yang diklaim Houthi memaksa penghentian sementara operasional bandara tersebut.
Serangan pada Sabtu (10/10)2026) disebut sebagai serangan paling mematikan di wilayah Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade. Insiden tersebut menjadi eskalasi tajam dalam konflik Yaman, ketika Riyadh telah lama memberikan dukungan militer kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam menghadapi Houthi.
Dalam beberapa hari terakhir, Houthi juga meningkatkan serangan terhadap Bandara Internasional Riyadh dan fasilitas minyak Arab Saudi. Kapal tanker di Laut Merah turut menjadi sasaran serangan, menurut laporan yang menjadi sumber berita ini.
Serangan sebelumnya juga dilaporkan menewaskan tiga orang di Riyadh. Rangkaian insiden tersebut menunjukkan meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur penting Arab Saudi, meski rincian setiap serangan perlu dibedakan berdasarkan waktu dan lokasi kejadiannya.
3. Konflik Yaman membayangi stabilitas kawasan

Pengungsi akibat konflik Yaman (twitter.com/IOM Yemen) Konflik antara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan kelompok Houthi telah berlangsung selama bertahun-tahun. Arab Saudi menjadi salah satu aktor utama dalam konflik tersebut melalui dukungan militernya terhadap Pemerintah Yaman.
Houthi yang didukung Iran, telah terlibat dalam konflik dengan pemerintah Yaman dan pihak-pihak yang mendukungnya. Serangan lintas batas ke wilayah Arab Saudi menjadi salah satu aspek yang memperbesar risiko konflik meluas dan mengganggu stabilitas kawasan.
Dalam situasi tersebut, China menyerukan penyelesaian perbedaan melalui dialog dan negosiasi. Beijing menilai pihak-pihak terkait perlu menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan agar perdamaian dan stabilitas regional dapat segera terwujud.
Seruan China muncul di tengah meningkatnya serangan terhadap wilayah dan infrastruktur Arab Saudi. Namun, pernyataan Mao yang tersedia belum menjelaskan apakah Beijing akan mengambil inisiatif diplomatik khusus untuk mempertemukan pihak-pihak yang bertikai.
Bagi kawasan, meredakan serangan dan membuka jalur dialog menjadi tantangan penting agar konflik Yaman tidak semakin memperburuk keamanan regional, termasuk keselamatan warga sipil dan aktivitas infrastruktur strategis.





















