Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
582 Hotspot Terpantau, Kemenhut Kerahkan Operasi Darat dan Udara
Kementerian Kehutanan terus memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui peningkatan kesiapsiagaan personel, pemantauan kondisi lapangan, serta operasi pemadaman darat dan udara di sejumlah wilayah rawan. Penguatan langkah pengendalian dilakukan seiring dengan dinamika perkembangan titik panas (hotspot) yang masih terpantau di beberapa wilayah Indonesia. (Dok. Kemenhut)
  • Kementerian Kehutanan mendeteksi 582 hotspot berkepercayaan tinggi pada 1 Oktober, naik dari 521 sehari sebelumnya; Kalimantan Tengah mencatat 205 titik, terbanyak secara nasional.

  • Pemerintah mengerahkan operasi terpadu darat dan udara, termasuk 61 armada untuk patroli, modifikasi cuaca, dan water bombing, serta menangani satwa liar terdampak karhutla.

  • Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan membakar, melaporkan asap atau titik api, serta memantau kualitas udara dan membatasi aktivitas luar ruangan saat kondisi memburuk.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kementerian Kehutanan meningkatkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan setelah 582 titik panas berkepercayaan tinggi terdeteksi, melalui pemantauan, verifikasi lapangan, pemadaman darat, dan operasi udara.
  • Who?
    Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, BMKG, Manggala Agni, BKSDA, serta unsur masyarakat terlibat dalam pencegahan, pemadaman, dan penanganan satwa liar terdampak.
  • Where?
    Titik panas terpantau terutama di Kalimantan Tengah 205 titik, Sumatera Selatan 78 titik, Kalimantan Selatan 63 titik, dan Riau dua titik. Kalimantan Barat serta Jambi tercatat nol titik.
  • When?
    Pada Kamis, 1 Oktober, pukul 21.10 WIB, SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 582 titik panas. Jumlah ini meningkat dari 521 titik pada pemantauan Rabu, 30 September.
  • Why?
    Penguatan pengendalian dilakukan karena titik panas masih terpantau dan terdapat potensi karhutla di wilayah kering, yang dapat berdampak pada lingkungan, kualitas udara, kesehatan, satwa liar, dan aktivitas masyarakat.
  • How?
    Sebanyak 61 armada udara disiagakan untuk patroli, modifikasi cuaca, dan water bombing. Petugas juga menjalankan patroli, pengecekan hotspot, pemadaman darat, pendinginan, pemantauan udara, serta verifikasi satwa terdampak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Kehutanan terus memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui peningkatan kesiapsiagaan personel, pemantauan kondisi lapangan, serta operasi pemadaman darat dan udara di sejumlah wilayah rawan. Penguatan langkah pengendalian dilakukan seiring dengan dinamika perkembangan titik panas (hotspot) yang masih terpantau di beberapa wilayah Indonesia. Pemerintah terus melakukan pemantauan secara intensif dan memastikan setiap indikasi kebakaran dapat segera diverifikasi serta ditangani bersama oleh seluruh unsur terkait.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan, Kamis (1/10) pukul 21.10 WIB, terdeteksi sebanyak 582 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) berdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan pemantauan sebelumnya pada Rabu (30/9) yang mencatat sebanyak 521 titik panas.

1. Sebanyak 205 hotspot terpantau di Kalimantan Tengah

Ilustrasi karhutla api membakar lahan (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

Adapun sebaran titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tercatat berada di beberapa wilayah, yaitu:

• Kalimantan Tengah sebanyak 205 titik;

• Sumatera Selatan sebanyak 78 titik;

• Kalimantan Selatan sebanyak 63 titik;

• Riau sebanyak 2 titik;

• Kalimantan Barat sebanyak 0 titik; dan

• Jambi sebanyak 0 titik.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa data hotspot merupakan indikator awal berdasarkan deteksi satelit terhadap anomali suhu permukaan. Setiap indikasi hotspot tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi aktual di lokasi. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas, sehingga informasi satelit menjadi salah satu dasar bagi petugas dalam menentukan lokasi prioritas pengecekan dan penanganan.

Selain pemantauan titik panas, pemerintah juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi kualitas udara sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat terdampak karhutla. Pemantauan kualitas udara dilakukan berdasarkan parameter PM2,5, yaitu partikel udara berukuran sangat kecil dengan diameter kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer yang dapat menjadi indikator keberadaan partikulat di udara.

Berdasarkan pemantauan terkini, kondisi kualitas udara di sebagian wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Pemerintah terus melakukan pemantauan perkembangan kualitas udara, terutama pada wilayah yang terdapat aktivitas kebakaran maupun potensi terdampak asap. Masyarakat diimbau untuk tetap memperhatikan informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila terjadi penurunan kualitas udara, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan kesehatan pernapasan.

2. Siagakan 61 armada udara dan perkuat penyelamatan satwa

Ilustrasi helikopter pemadaman karhutla (IDN Times/Rangga Erfizal)

Dalam menghadapi kondisi tersebut, pemerintah terus memperkuat operasi pengendalian karhutla secara terpadu bersama BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, BMKG, Manggala Agni, serta berbagai unsur terkait lainnya. Sebanyak 61 unit armada udara disiagakan untuk mendukung patroli udara, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta pemadaman melalui metode water bombing.

Selain dukungan operasi udara, pengendalian karhutla juga dilakukan melalui patroli pencegahan, pemantauan wilayah rawan, pengecekan lapangan terhadap indikasi hotspot, pemadaman darat, serta pendinginan (mopping up) untuk memastikan api tidak kembali muncul.

Selain melakukan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, Kementerian Kehutanan juga melakukan penyelamatan terhadap satwa liar yang terdampak akibat kejadian karhutla. Penanganan satwa dilakukan melalui mekanisme respons terpadu oleh unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Kehutanan, khususnya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), bersama para pihak terkait.

Setiap laporan keberadaan satwa liar terdampak karhutla dilakukan melalui tahapan verifikasi dan asesmen lapanganuntuk memastikan kondisi satwa serta menentukan tindakan penanganan yang sesuai. Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak kebakaran, terluka, terjebak, atau masuk ke kawasan permukiman untuk tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri.

Masyarakat diharapkan menjaga jarak aman, tidak memberikan perlakuan yang dapat membahayakan satwa, serta segera melaporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat agar dapat dilakukan penanganan secara tepat.

3. Kemenhut ingatkan masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar

ilustrasi pembakaran hutan untuk pembukaan lahan (pixabay.com/Ylvers)

Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat dan seluruh pihak untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama pada wilayah yang masih mengalami kondisi kering. Masyarakat diingatkan untuk tidak melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakarkarena dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran yang berdampak terhadap lingkungan, kesehatan, satwa liar, dan aktivitas masyarakat.

Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan, masyarakat dapat segera melaporkan agar respons dapat dilakukan sedini mungkin. Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BNPB, BMKG, Manggala Agni, serta seluruh unsur masyarakat akan terus memperkuat kolaborasi dalam pencegahan dan pengendalian karhutla untuk melindungi hutan, lingkungan, keanekaragaman hayati, dan masyarakat. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article