Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kepala BNPB Lapor Prabowo, Riau Disebut Sudah Tak Ada Titik Api Karhutla

3 min read
Kepala BNPB Lapor Prabowo, Riau Disebut Sudah Tak Ada Titik Api Karhutla
Kepala BNPB, Letjen TNI Kristomei Sianturi (dok. Sekretariat Presiden)
  • Riau dikeluarkan dari daftar prioritas karhutla setelah BNPB tidak menemukan kemunculan titik api baru.

  • BNPB kini memusatkan penanganan pada lima provinsi, dengan kenaikan titik api yang belum terlalu signifikan di Sumatera Selatan dan Jambi.

  • Penyemaian dry ice sejak 20 Oktober 2026 dilaporkan menurunkan PM2,5 dan meningkatkan jarak pandang di Palembang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Kristomei Sianturi, melaporkan perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam laporan tersebut, Riau tidak lagi masuk daftar provinsi prioritas penanganan karhutla, karena tidak ditemukan kemunculan titik api baru.

Laporan tersebut disampaikan pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026. Namun, momen tersebut baru diunggah di kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Jumat (23/10/2026).

“Jadi mohon izin Bapak Presiden, melaporkan bahwa sejak kami dilantik per 15 Oktober 2026, kami terus mengambil langkah, memperbaiki metode penghitungan dengan menggunakan citra satelit, Bapak. Hari ini terjadi penurunan di beberapa tempat dari lima provinsi prioritas, awalnya enam provinsi, Bapak, tapi di Riau sudah kami keluarkan karena di Riau tidak ada pemunculan titik api lagi, sehingga ada lima provinsi prioritas hari ini: Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat," ujar Kristomei.

  1. 1. Fokus penanganan karhutla BNPB sekarang lima povinsi

    Kepala BNPB Lapor Prabowo, Riau Disebut Sudah Tak Ada Titik Api Karhutla
    Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi saat memimpin rapat koordinasi terkait karhutla di Sumsel. (Dok. BNPB).

    Dengan keluarnya Riau dari daftar prioritas, BNPB kini memusatkan perhatian pada lima provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat.

    Meski kondisi di sejumlah wilayah menunjukkan perbaikan, BNPB masih mencatat kenaikan titik api di Sumatra Selatan dan Jambi. Namun, Kristomei menyebut, peningkatan tersebut belum terlalu signifikan.

    “Dan untuk yang mengalami kenaikan, Bapak, itu adalah di Provinsi Sumatra Selatan dan Jambi hari ini, Pak, tapi tidak terlalu signifikan. Kami terus berkoordinasi, Pak, dengan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Kami kemarin beserta Kepala Staf Angkatan Darat, Ketua BMKG, BPGMN (Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional), kami mengunjungi Sumsel dan Kalteng, Kalsel untuk melihat langsung bagaimana operasi penanganan karhutla ini di lapangan, Bapak," ucap Kristomei.

    Kristomei menyebut, BNPB terus berkoordinasi dengan BMKG untuk mendukung upaya penanganan karhutla. Pemantauan langsung ke sejumlah wilayah juga dilakukan guna mengevaluasi pelaksanaan operasi di lapangan.

  2. 2. BNPB lakukan penyemaian Dry Ice

    Kepala BNPB Lapor Prabowo, Riau Disebut Sudah Tak Ada Titik Api Karhutla
    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi. (IDN Times/Trio Hamdani)

    Selain mengerahkan personel, BNPB juga melakukan upaya penanganan melalui penyemaian dry ice atau es kering. Kristomei melaporkan, sejak 20 Oktober 2026, sebanyak 3.900 kilogram dry ice telah disemai dalam lima sorti penerbangan.

    Sementara itu, penyemaian di Sumatra Selatan mencapai 800 kilogram melalui satu sorti penerbangan. Upaya tersebut dilaporkan turut diikuti penurunan partikular halus PM2,5 yang berdampak pada kualitas udara.

    Kristomei juga menyampaikan adanya peningkatan jarak pandang di Palembang. Dari sebelumnya sekitar 700 meter, jarak pandang dilaporkan meningkat hingga 7.000 meter.

    “​​Kemudian untuk semai dry ice sendiri, Pak, dari tanggal 20 Oktober itu ada 3.900 kg yang sudah kita semai dengan menggunakan 5 sorti. Kemudian di Sumatera Selatan ada 800 kg 1 sorti, Bapak. Sehingga ada penurunan PM, PM 2,5 turun. Kemudian jarak pandang atau visibility dari di Palembang saya bisa dari 700 meter menjadi 7.000 meter, Bapak," ujar Kristomei.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More