Jakarta, IDN Times - Korban kasus dugaan pembakaran di sebuah pondok pesantren di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai mengalami kebingungan setelah terlalu banyak dimintai keterangan. Kondisi itu membuat kepolisian membatasi akses terhadap para korban selama menjalani perawatan untuk mencegah tekanan psikologis yang lebih berat.
Direktur Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Perlindungan Orang (PPO) Polda NTB Ni Made Pujewati mengatakan anak-anak korban mulai kesulitan memberikan keterangan karena terus-menerus diwawancarai berbagai pihak.
"Korban mulai menunjukkan kebingungan saat dimintai keterangan. Mereka beberapa kali mengatakan lupa, bingung, dan merasa terlalu banyak orang yang bertanya," ujar Ni Made, dikutip Kamis (16/7/2026).
