Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kritik Try Sutrisno soal MPR yang Tak Lagi Jadi Penentu Arah Negara
Try Sutrisno saat memberikan pesan di Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI pada Selasa (17/8/2021). (youtube.com/Sekretariat Presiden)
  • Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, wafat di RSPAD Gatot Subroto dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata sebagai bentuk penghormatan atas jasa pengabdiannya bagi bangsa.
  • Try Sutrisno menilai sistem demokrasi Indonesia kini terlalu liberal dan menjauh dari nilai-nilai Pancasila, sehingga perlu evaluasi terhadap amandemen UUD 1945 yang dianggap melemahkan dasar negara.
  • Ia juga mengkritik MPR yang tak lagi berfungsi sebagai lembaga tertinggi pembuat GBHN, menyebabkan arah kebijakan negara lebih ditentukan oleh kepentingan jangka pendek partai politik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-6, Try Sutrisno, wafat pada Senin (2/3/2026) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Meski demikian, pandangan dan kritik Try dipandang tetap relevan hingga saat ini.

Salah satu yang pernah berinteraksi langsung adalah Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini. Dia mengaku, setiap bertemu Try saling menyapa dengan senyum.

"Kalau kami bertemu, meskipun tidak saling bersahabat dekat, beliau menepuk-nepuk punggung saya seakan sudah kenal lama," ujar Didik dalam keterangan tertulis, Senin.

Gestur menepuk-nepuk punggung, kata dia, sudah terjadi berkali-kali di dalam berbagai forum. Itu sebabnya pula Didik kerap memperhatikan gagasan-gagasan Try yang dilontarkan di publik baik pada masa orde baru maupun reformasi. Salah satu pandangan Try yang diingatnya disampaikan di acara Pembinaan Ideologi Pancasila Dalam Rangka Peringatan 80 Tahun Membumikan Pancasila dan Peluncuran Pancasila Virtual Expo 2025 di Universitas Indonesia (UI) pada Juli 2025 lalu.

"Di momen itu Try menyampaikan kehidupan bangsa Indonesia saat ini cenderung berkarakter liberal sehingga mengikis moral serta etika kehidupan sesuai Pancasila," kata dia.

1. Generasi muda dinilai tak lagi mengenal falsafah dasar bangsa

gambar pancasila ditembok (https://unsplash.com/@lightenup_cc)

Didik menilai, generasi muda masa kini tak lagi mengenal falsafah dasar bangsanya. Pancasila telah memudar dan tak dijadikan dasar di dalam UUD NRI 1945. Fakta itu, kata Didik, terlihat jelas sudah terjadi inkonsistensi dan inkoherensi dengan pembukaan UUD 1945.

"Pak Try memandang pelaksanaan demokrasi sangat liberal bahkan lebih liberal dari sistem yang berlaku di Amerika Serikat," kata Didik.

Amandemen UUD 1945 yang dilakukan secara mendadak bahkan tanpa kajian dan perenungan mendalam memiliki banyak kelemahan setelah lebih dari dua dekade terakhir. Try berharap ada evaluasi dan kaji ulang terhadap sistem ketatanegaraan yang mengacu pada UUD NRI 1945 hasil amandemen.

2. MPR tak lagi berfungsi sebagai lembaga tertinggi negara pembuat GBHN

Pindad Maung Garuda terparkir di Gedung MPR/DPR saat acara pelantikan presiden dan wapres terpilih, Prabowo-Gibran pada Minggu (20/10/2024). (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Poin lain yang dikritisi oleh Try Sutrisno, kata Didik, hilangnya pilar musyawarah bangsa di dalam ketatanegaraan Indonesia. MPR kini tak lagi berfungsi sebagai lembaga tertinggi negara pembuat GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara). Dengan begitu, rakyat Indonesia tak lagi menjadi penentu arah kebijakan dan kehidupan negara Indonesia.

"Kini arah-arah politik dibuat oleh partai politik yang ritme kehidupannya hanya berjangka pendek untuk menang setiap lima tahun sekali. Saya berpandangan kritik negarawan senior ini perlu untuk direnungkan sebagai diskursus penting dalam kehidupan bernegara," kata Didik.

Menurut dia, kini tidak ada lagi pemimpin negarawan dan pemikir seperti Bung Karno, Bung Hatta hingga Sjahrir.

"Yang ada adalah pemburu rente, pedagang yang bertransaksi jangka pendek atau anak ingusan yang dipaksa menjadi pemimpin dengan merusak pilar konstitusi," kata dia.

Dia mengatakan, Try mencermati perjalanan dan pelaksanaan reformasi. Dalam pandangannya, reformasi tak bisa lagi berdasarkan prinsip liberal yang tak sesuai dengan nilai-nilai dasar keIndonesiaan.

"Beliau menekankan reformasi seharusnya berakar pada diri bangsa Indonesia dan bukan sekadar perubahan yang terpengaruh oleh gelombang luar liberalisasi," kata dia.

3. Try Sutrisno dimakamkan di TMP Kalibata

Mantan Wapres Tri Sutrisno tiba di Gedung MPR/DPR hadiri Sidang Tahunan MPR (IDN Times/Fauzan)

Sementara, usai disemayamkan di rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat, jenazah Try Sutrisno dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

"Insyaallah setelah tadi dimandikan (dan) dikafankan, beliau akan dibawa ke kediaman di Jalan Purwakarta Nomor 6 untuk segera dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata," ujar anak Try Sutrisno, Taufik Dwi Cahyono, di RSPAD Gatot Subroto pada hari ini.

Pemakaman dilakukan usai waktu zuhur. Pemakaman di TMP merupakan bentuk penghormatan terhadap mendiang atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara.

Editorial Team