Jakarta, IDN Times - Inisiator Kabinet Bayangan, Ahmad Jilul Qur'ani, mengungkap alasan akademisi dan masyarakat sipil mencetuskan ide tersebut lantaran kanal penyampaian aspirasi pada era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sudah tersumbat. Sikap partai politik yang duduk di parlemen pun mayoritas mendukung kebijakan pemerintah.
"Kami melihat kanal formal (penyampaian aspirasi) sudah buntu, termasuk di DPR. Proses check and balances gak kejadian. Jadi akhirnya tercetus ide untuk membuat sesuatu yang lebih berdampak," ungkap Jilul ketika dihubungi IDN Times melalui telepon, Minggu, 27 Juli 2026.
Saat ini jumlah anggota Kabinet Bayangan mencapai 15 orang. Sedangkan, menteri di Kabinet Merah Putih berjumlah tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah anggota Kabinet Bayangan, yakni 48. Itu pun bisa bertambah lebih gemuk, lantaran Prabowo juga membuka posisi wakil menteri di kabinetnya.
Jilul turut mengkritisi lewat jumlah anggota kabinet yang ramping. Selain itu, pemilihan anggota Kabinet Bayangan juga didasari lewat penelusuran rekam jejak dan meritokrasi.
"Cara kami memilih orang didasari merit bila dicek background-background-nya. Di medsos juga kami tampilkan background orang ini apa dan mengapa orang ini dipilih. Ini semua bagian dari kritik. Karena memang kabinet saat ini terlalu gemuk dan gak efisien," tutur dia.
Sedangkan, bila diprioritaskan hanya untuk sektor yang esensial, maka jumlah 15 anggota Kabinet Bayangan dinilai sudah cukup.
