Jakarta, IDN Times - Direktur eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo, pada peringatan Hari Buruh 2026 kembali menyentil pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai gagal membuka lapangan kerja dan menjamin pekerjaan yang layak. Alhasil, jutaan orang muda yang menganggur terjerat skema forced criminality untuk melakukan berbagai tindakan kriminal di bawah kontrol wilayah Mekong. Wilayah itu meliputi Myanmar, Kamboja, dan Laos.
Berdasarkan data dari KBRI Phnom Penh pada periode 16 Januari hingga 26 Maret 2026, ada 6.308 WNI yang terjerat kasus sindikat penipuan daring di Kamboja. Mereka meminta bantuan untuk dipulangkan. Angka itu belum termasuk tindak kriminal lainnya di Myanmar dan Laos.
"Ini adalah modus perdagangan orang paling mutakhir yang memanfaatkan digital platform sebagai ruang untuk menipu dan merekrut korbannya," ujar Wahyu di dalam keterangan tertulis pada Jumat (1/5/2026).
Ia menilai, tidak ada payung hukum untuk melindungi korban yang terjebak di dalam skema tersebut. Sementara aktor intelektualnya bebas memanfaatkan minimnya akses keadilan.
"Bahkan, dimungkinkan ada pihak yang diuntungkan dalam perputaran ekonomi bawah tanah seperti judi online," katanya.
