Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Benjamin Netanyahu Buka Suara soal Kesepakatan Damai AS-Iran

Benjamin Netanyahu Buka Suara soal Kesepakatan Damai AS-Iran
potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Benjamin Netanyahu menyatakan belum mengetahui detail kesepakatan damai AS-Iran, namun ia tidak menentang perjanjian tersebut karena menganggap tujuan serangan Israel ke Iran telah tercapai.
  • Oposisi Israel menolak keras kesepakatan damai AS-Iran dan menilai Netanyahu gagal mempertahankan posisi Israel, terutama terkait penghentian serangan di Lebanon selatan.
  • Kesepakatan damai AS-Iran yang dicapai pada 14 Juni 2026 akan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni 2026 dan mencakup penghentian perang di seluruh pihak, termasuk Israel dan Lebanon.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akhirnya buka suara soal kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran. Netanyahu menjelaskan, ia saat ini belum mengetahui detail kesepakatan damai antara AS dan Iran. Sebab, dalam konferensi pers pada Senin (15/6/2026), ia menyebut AS dan Iran selama ini sengaja mencampakan Israel dalam proses negosiasi. 

Meski demikian, Netanyahu tidak menentang kesepakatan damai yang akan mengakhiri serangan AS dan Israel ke Iran tersebut. Sebab, Netanyahu mengklaim tujuan Israel menyerang Iran kini sudah tercapai. Oleh karena itu, ia tidak masalah dengan kesepakatan tersebut. Ia juga mendukung langkah Negeri Paman Sam untuk menghentikan program senjata nuklir Iran dan merampas semua cadangan uranium mereka.

1. Oposisi Israel mengecam kesepakatan damai AS dan Iran

Kecaman
ilustrasi kecaman (pexels.com/cottonbro studio)

Sikap yang ditunjukkan Netanyahu tadi berbeda dengan para pejabat oposisi Israel. Sebab, mereka dengan tegas menolak kesepakatan damai antara AS dan Iran. Mereka menyebut kesepakatan damai tersebut akan membuat Israel gagal menguasai wilayah Lebanon selatan. Sebab, dalam kesepakatan itu, Israel diwajibkan untuk berhenti menyerang Lebanon selatan. 

Para oposisi Israel juga menyalahkan Netanyahu soal tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Dilansir Middle East Eye, mereka menyebut di bawah tampuk kepemimpinan Netanyahu, Israel jadi negara yang lemah karena tidak bisa menahan AS untuk menyetujui kesepakatan damai dengan Iran.

2. Kesepakatan damai AS dan Iran disepakati pekan lalu

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Kesepakatan damai antara AS dan Iran sendiri resmi dicapai pada Minggu (14/6/2026) pekan lalu. Kesepakatan ini akhirnya berhasil diraih usai kedua negara menjalani negosiasi alot sejak Mei. Pada awal Juni, Iran sebetulnya sempat menghentikan negosiasi damai dengan AS. Keputusan ini dilakukan sebagai protes karena Israel terus menyerang Lebanon. Namun, Teheran akhirnya bersedia kembali melanjutkan negosiasi dengan Washington.

“Kesepakatan (damai) dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semuanya! Dengan ini, saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol. Bersamaan dengan itu, saya mengizinkan pencabutan segera blokade angkatan laut Amerika Serikat. Kapal-kapal di seluruh dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!” tulis Presiden AS, Donald Trump, dalam sebuah unggahan di Truth Social, seperti dikutip Al Jazeera.

3. Kesepakatan damai AS dan Iran bakal ditandatangani di Swiss

Kota Jenewa, Swiss.
potret Kota Jenewa, Swiss (pexels.com/christine roy)

Nota kesepahaman (MoU) mengenai kesepakatan damai AS dan Iran bakal segera ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6/2026) pekan ini. Setelah ditandatangani, kesepakatan tersebut akan langsung berlaku efektif.

Kesepakatan damai AS dan Iran sendiri berisi 14 poin. Salah satunya adalah penghentian perang di semua pihak, termasuk di Lebanon. Oleh karena itu, penghentian perang juga akan meliputi Israel dan Lebanon karena mereka sudah masuk dalam kesepakatan damai dengan AS. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More