Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Peserta deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Kamis (29/10/2026)/ (Instagram @Rafinagita717)

  • Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di Bundaran HI memicu polemik setelah peserta beralmamater diduga bukan representasi kampus; Polda Metro Jaya dan Raffi Ahmad menyampaikan permintaan maaf.
  • Dua narasumber menggambarkan pola aksi berbayar: korlap mengumpulkan, mengabsen, menyediakan atribut dan perlengkapan, lalu menyalurkan uang tunai dari pihak pemesan kepada peserta.
  • Kesaksian menyebut bayaran peserta berkisar Rp50 ribu-Rp100 ribu, sementara informasi lain menduga anggaran Rp250 ribu dipotong korlap; praktik ini dinilai menciptakan stigma terhadap gerakan mahasiswa asli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah identitas peserta aksi diverifikasi lebih ketat?
Vote Now
Kamis (29/10/2026)

Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 digelar Polda Metro Jaya di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

31 Oktober sampai 1 November 2026

RANS Carnival berlangsung di area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejumlah UMKM batal berjualan dan beberapa musisi memilih tidak hadir.

beberapa tahun lalu

Joko mengaku pernah menjadi bagian dari massa aksi berbayar.

H-1

Menurut Yanto, sebagian peserta dapat menghilang menjelang demonstrasi.

satu jam sebelum aksi

Yanto mengatakan sebagian peserta terkadang sudah tidak dapat dihubungi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah identitas peserta aksi diverifikasi lebih ketat?
Vote Now
  • What?
    Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 disorot karena peserta beralmamater disebut tidak seluruhnya mewakili mahasiswa.
  • Who?
    Polda Metro Jaya, Raffi Ahmad, Willie Salim, serta dua narasumber bernama samaran Yanto dan Joko terkait dalam pemberitaan ini.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. RANS Carnival berlangsung di Stadion Maguwoharjo, Sleman.
  • When?
    Deklarasi berlangsung Kamis, 29 Oktober 2026. RANS Carnival berlangsung 31 Oktober sampai 1 November 2026.
  • Why?
    Polemik muncul setelah peserta beralmamater disebut sebagai massa bayaran yang dimobilisasi untuk memeriahkan acara.
  • How?
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah identitas peserta aksi diverifikasi lebih ketat?
Vote Now

Peserta acara di Bundaran HI memakai baju kampus, tetapi dua orang bercerita bahwa orang yang ikut demo bisa saja bukan mahasiswa dan mendapat uang dari korlap. Raffi Ahmad dan Polda Metro Jaya meminta maaf karena acara itu ramai dibicarakan. Sekarang masih ada pertanyaan tentang siapa yang mengumpulkan dan membayar massa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah identitas peserta aksi diverifikasi lebih ketat?
Vote Now

Polemik ini mendorong keterbukaan tentang bagaimana massa aksi dapat dikumpulkan, diarahkan, dan dibayar. Permintaan maaf Raffi Ahmad serta Polda Metro Jaya juga menunjukkan adanya respons terhadap kritik dan evaluasi. Di sisi lain, kesaksian narasumber menegaskan bahwa mahasiswa tetap memiliki hak untuk berkumpul, menyampaikan pendapat, dan mengkritik kekuasaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah identitas peserta aksi diverifikasi lebih ketat?
Vote Now

Jakarta, IDN Times - Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 yang digelar Polda Metro Jaya di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026) berujung blunder fatal. Ternyata peserta yang hadir sembari mengenakan almamater dari beragam kampus itu tidak benar-benar mewakili mahasiswa.

Mereka diduga massa bayaran yang dimobilisasi untuk memeriahkan acara. Mirisnya, kasus ini terjadi setelah mahasiswa "asli" dari berbagai kampus menggelar aksi di Patung Kuda dan kawasan Bundaran HI.

Acara Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 dihadiri Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad serta kreator konten, Willie Salim. Setelah adanya fenomena mahasiswa bayaran terungkap ke publik, nama Raffi Ahmad ikut terseret hingga memunculkan gerakan boikot terhadap berbagai lini bisnisnya.

Salah satu dampaknya terlihat dalam RANS Carnival yang berlangsung di area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 31 Oktober sampai 1 November 2026. Sejumlah UMKM batal berjualan, sementara beberapa musisi yang dijadwalkan tampil memilih tidak hadir.

Raffi Ahmad kemudian menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang muncul setelah kehadirannya dalam kegiatan tersebut menjadi sorotan publik. Melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Raffi mengaku datang sebagai undangan dari penyelenggara.

Ia mengaku tidak memiliki niat merendahkan, apalagi mencederai semangat perjuangan generasi muda. Raffi juga menyebut polemik tersebut menjadi pengingat baginya untuk lebih berhati-hati dalam menerima undangan dan memahami kegiatan yang akan dihadiri.

Senada, Polda Metro Jaya juga ikut menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang terjadi. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Bhudi Hermanto menyebut, beragam tanggapan dan setiap kritik yang disampaikan diterima dengan lapang dada untuk menjadi evaluasi.

Namun, pertanyaan mengenai bagaimana massa dengan berbagai almamater itu bisa hadir dalam satu agenda belum sepenuhnya terjawab. Apakah mereka seluruhnya mahasiswa? Siapa yang mengumpulkan? Bagaimana mereka mendapatkan almamater? Apakah mereka dibayar? Jika dibayar, siapa yang membayar?

IDN Times menelusuri pertanyaan tersebut melalui dua orang dari kampus berbeda yang mengetahui praktik pengerahan massa dalam aksi. Salah satunya merupakan aktivis kampus yang mengetahui dinamika gerakan mahasiswa, sementara satu lainnya mengaku pernah menjadi peserta aksi berbayar.

Keduanya memastikan tidak menjadi bagian dari Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026. Namun, keterangan keduanya memberikan gambaran tentang bagaimana pengerahan massa berbayar yang mereka ketahui dapat berlangsung.

1. Peran korlap jadi penyambung lidah bohir dengan massa demo bayaran hingga keberadaan almamater

Peserta deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Kamis (29/10/2026)/ (Instagram @Rafinagita717)

Seorang aktivis pergerakan mahasiswa yang namanya dirahasiakan, Yanto menjelaskan bagaimana pola dan praktik demo bayaran bisa terjadi hingga melibatkan mahasiswa.

Yanto mengatakan, salah satu rekannya berinisial R tampak hadir dalam acara deklarasi Sumpah Pemuda yang diadakan di kawasan Bundaran HI. Ia mengenal R karena pernah menjadi kelompok yang sama di organisasi mahasiswa.

Namun, menurut Yanto, kehadiran R dipastikan tidak mewakili kampusnya. Pihak kampus sudah memberikan klarifikasi bahwa R hadir secara personal dan tidak membawa nama kampus dalam struktur kelembagaan.

"Dia tidak mewakili nama instansi apapun gitu dalam struktur kelembagaan," kata Yanto saat dihubungi IDN Times.

Di sisi lain, Yanto mengatakan Rahul sulit dihubungi setelah polemik yang terjadi semakin ramai.

"Sejauh ini belum bisa dihubungin mahasiswa itu," ujarnya.

Bagi Yanto, kasus tersebut menunjukkan satu hal penting, keberadaan satu atau beberapa mahasiswa asli tidak otomatis membuat seluruh massa yang memakai atribut kampus dapat dianggap sebagai representasi kampus.

Menurut dia, dalam sejumlah aksi, mahasiswa asli memang bisa bercampur dengan massa yang direkrut untuk kepentingan tertentu.

"Memang kadang-kadang tuh gerakan mahasiswa selalu disusupi hal-hal seperti ini yang dibayar Rp250 ribu, dibayar dengan apa pun itu memang sering," katanya.

Kesaksian serupa datang dari Joko. Bedanya, Joko tidak berbicara dari posisi pihak yang mengamati. Dia mengaku pernah menjadi bagian dari massa aksi berbayar beberapa tahun lalu.

Joko sebagai mahasiswa kerap hadir di berbagai demo bayaran. Tapi kehadirannya di lokasi aksi unjuk rasa sama sekali tidak mengatasnamakan kampus. Ia dan massa lainnya menanggalkan atribut perguruan tinggi tempat berkuliah.

"Kalau demo bayaran itu saya sudah beberapa kali cuma bukan ikut kayak agenda yang pakai almamater mahasiswa yang lagi ramai itu, lebih ke gerakan taktis saja semisal demo di KPK pakai nama gerakan apa gitu," ujar Joko.

Dalam pengalaman Joko, peserta aksi tidak semuanya mahasiswa. Ada pula masyarakat sipil yang memang langganan untuk dibayar jadi peserta demo.

Di sinilah almamater menjadi bagian penting. Menurut Joko, ada saja peserta yang bukan mahasiswa tetapi diminta mengenakan almamater. Permintaan itu biasanya datang dari koordinator lapangan (korlap).

Joko sendiri tak mengetahui lebih lanjut dari mana almamater itu berasal. Dia hanya memastikan, almamater dari berbagai kampus sudah disiapkan oleh korlap sejak awal.

"Biasanya mereka cuma disuruh pakai sama korlap-nya," ujarnya.

Dengan kata lain, atribut yang secara visual menunjukkan identitas mahasiswa belum tentu menggambarkan identitas sebenarnya dari seluruh orang yang memakainya.

Joko juga menjelaskan bahwa sebelum aksi peserta biasanya dikumpulkan dan didata.

"Biasanya sebelum acara gitu mereka absen dulu," katanya.

Setelah agenda selesai, peserta kemudian menerima uang. Pola tersebut membuat posisi koordinator lapangan atau korlap menjadi penting. Mereka bukan sekadar mengatur barisan, tetapi menurut kesaksian Joko juga menjadi pihak yang berhubungan langsung dengan peserta.

Sementara di atas korlap ada pihak pemesan yang punya kepentingan tertentu dan menyiapkan ongkos logistik. Biasanya orang-orang ini disebut bohir.

Namun, Joko mengatakan orang yang menjadi korlap tidak selalu sama. Dia juga mengaku tidak mengetahui siapa saja pihak yang sering memesan demo.

"Tergantung arahannya kalau yang order itu siapa dan tergantung isunya," ujar Joko.

Karena alasan ekonomi, Joko mengaku tidak terlalu memedulikan siapa pihak di belakang aksi. Sambil berkelakar, ia mengaku lebih tertarik dengan uang hasil yang diterima setelah ikut demo.

"Kalau saya sih biasanya ikut-ikut saja karena kan dapet duit, jadi kurang tahu siapa," tutur dia, sembari tertawa.

2. Uang bergerak lewat korlap, dari Rp50 ribu sampai Rp250 ribu hingga sering "dipotek"

Ilustrasi uang. (IDN Times/Mela Hapsari)

Jika almamater menjadi atribut visual, uang menjadi bagian lain dari mekanisme. Yanto dan Joko sama-sama mengonfirmasi beragam besaran upah dari demo bayaran.

Joko mengaku pernah menerima bayaran sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu untuk satu kali aksi. Bahkan dia sering dapat bonus, misalnya berupa minuman, makanan, hingga rokok.

"Kalau demo bayaran itu saya sudah beberapa kali, sekali demo dikasih Rp50 ribu sampai Rp100 ribu, ditambah ada es dan rokok," ujarnya.

Menurut Joko, pembayaran dilakukan secara tunai. Ada dua mekanisme, biasanya diberikan sebelum demo di titik kumpul atau setelah mengikuti demo di titik lainnya.

Kesaksian Joko menggambarkan mekanisme yang relatif sederhana. Di mana peserta berkumpul di titik tertentu, melakukan absensi, mendapatkan arahan, mengikuti aksi, kemudian menerima uang.

Tidak ada rekening khusus atau mekanisme administrasi rumit yang dia ceritakan. Transaksi berlangsung secara langsung.

Namun, pengalaman Joko bukan satu-satunya cerita mengenai nominal pembayaran.

Yanto mengaku pernah mendapatkan informasi mengenai peserta aksi yang disebut memperoleh bayaran Rp250 ribu per orang. Menurut informasi yang dia terima, nominal itu kemudian dipotong oleh pihak koordinator lapangan. Tak jarang pihak yang menjadi korlap justru berasal dari senior di kampus.

Upah dari peserta demo bayaran juga sering dikorupsi. Mereka mengistilahkan praktik itu sebagai "dipotek". Di mana jatah yang dianggarkan, tidak sesuai dengan nominal yang diberikan.

"Katanya ada yang dia dibayar, mereka tuh dibayar Rp250 per orang kepala, cuman ternyata dipotong sama si korlapnya jadi Rp100. Bahkan kadang ada yang Rp70.000 gitu," kata Yanto.

Ketika ditanya berapa uang yang akhirnya diterima peserta, Yanto menyebut kisaran Rp70 ribu hingga Rp100 ribu.

"Biasanya dikasih anak-anak tuh biasanya Rp70 ribu atau Rp100 itu beda-beda," ujarnya.

Keterangan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara nominal yang disebut sebagai bayaran awal dengan uang yang diterima peserta di lapangan.

Namun, penting dicatat, Yanto tidak menyaksikan sendiri transaksi tersebut. Dia menyampaikan informasi yang menurutnya diperoleh dari rekan-rekan yang ditawari maupun yang terlibat. Berbeda dengan Joko yang mengaku mengalami sendiri pemberian uang.

Keduanya bertemu pada satu pola yang sama. Di mana uang diberikan kepada massa yang hadir, sedangkan korlap berada di antara peserta dan pihak yang mengatur aksi.

Joko mengatakan pembayaran biasanya dilakukan di titik kumpul. Yanto menyebut adanya kemungkinan pemotongan oleh korlap atau senior.

Joko lantas memberikan gambaran mengenai durasi. Menurutnya, aksi yang pernah dia ikuti bisa berlangsung hingga tiga jam. Jika hanya berupa deklarasi atau kegiatan seremonial, durasinya biasanya lebih singkat.

"Kalau misalnya cuma deklarasi atau semacamnya, paling dua jam itu juga lama ngobrol dulu," ujarnya.

Tidak semua peserta, menurut Joko, mendapatkan instruksi untuk melakukan tindakan tertentu.

"Nggak ada ke arah sana sih," katanya, ketika ditanya mengenai arahan untuk membuat kericuhan atau meneriakkan sesuatu secara khusus.

Sementara perlengkapan aksi seperti spanduk biasanya sudah disediakan.

"Kalau pokoknya alat alat kaya sepanduk itu udh di suapin," ujar Joko.

Kesaksian ini menggambarkan bahwa peserta tidak selalu diminta merancang aksi sendiri. Sebagian kebutuhan aksi telah disiapkan sebelum massa tiba di lokasi.

3. Ketika gerakan mahasiswa disebut bisa "diamankan", siapa yang berada di belakangnya?

Perempuan bernama Sari aksinya mengenakan jas almamater Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) pada acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Jakarta Pusat (Instagram/kbm_ubsi.dws)

Jika cerita Joko menggambarkan mekanisme paling dasar, Yanto membawa persoalan tersebut ke level yang lebih kompleks. Menurutnya, pengerahan massa tidak selalu berhenti pada pembayaran peserta. Ada pula kemungkinan pengaruh senior, perubahan isu, hingga pihak bohir.

Yanto mengaku tidak mengetahui siapa koordinator Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026. Namun, ia mengatakan pernah melihat sosok yang menurut pengamatannya kerap berperan sebagai penghubung.

Dia menyebut adanya keterlibatan senior yang mendatangi kampus dan mendekati mahasiswa.

"Bukan sering ke kampus, tapi ada senior yang pergi ke kampus terus kooptasi anak oknum-oknum, anak-anak, anak-anak mahasiswa," katanya.

Menurut dia, senior yang terlibat bisa satu orang ataupun kelompok. Yanto juga menyebut dugaan keterlibatan pihak eksternal dalam mengarahkan gerakan mahasiswa.

Dia bahkan menyatakan, berdasarkan apa yang menurutnya pernah dia lihat dalam dinamika gerakan mahasiswa, pihak yang disebut sebagai bohir dapat berasal dari kalangan politikus maupun aparat.

"Bohirnya bisa politikus, bisa kementerian, bisa polisi tergantung siapa yang ini," kata Yanto.

"Bisa saja politikus, bahkan polisi sendiri tuh bisa jadi," sambungnya.

Namun, dia memberikan contoh mengenai dugaan perubahan isu dalam sebuah gerakan mahasiswa. Menurut Yanto, ada aksi yang awalnya membawa isu dugaan korupsi kepala daerah, tetapi kemudian isu tersebut disebut dialihkan menjadi aksi terhadap seorang pejabat pemerintah pusat.

Kemudian, menurut cerita yang dia dengar dari senior-senior mahasiswa, muncul arahan untuk mengubah isu.

Menurut dia, pola pengaruh terhadap gerakan mahasiswa juga dapat berbentuk pembatasan isu. Dia mengatakan pernah melihat mahasiswa yang awalnya kritis kemudian diarahkan agar tidak terlalu keras terhadap aparat.

"Laporan untuk mereka tuh ambil uangnya biasa dari politikus, ambil uangnya biasa dari polisi misalnya dan mereka tuh akhirnya gerakannya dilemahkan," katanya.

Bentuk pelemahan tersebut, menurut Yanto, dapat berupa nasihat agar mahasiswa tidak berhadapan dengan polisi.

"Lo jangan ginilah, jangan lawan polisi lah, lo miskin nanti lawan polisi jangan gitu bahasanya," ujarnya.

4. H-1 bahkan satu jam sebelum aksi, massa bisa menghilang

Demo masyarakat dan mahasiswa di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Ada bagian lain dari kesaksian Yanto yang menarik, bukan hanya massa bisa dikumpulkan, tetapi sebagian peserta juga dapat tiba-tiba tidak hadir. Menurut dia, pengondisian tersebut bisa terjadi menjelang demonstrasi.

"Bukan H-1 lagi , kadang satu jam sebelum aksi itu udah nggak ada yang bisa dihubungin," katanya.

Dia menyebut kondisi tersebut sebagai mahasiswa yang "diamankan" oleh senior. Menurutnya, setiap organisasi mahasiswa memiliki jaringan senior yang masih memiliki pengaruh terhadap anggota atau aktivis di bawahnya.

"Karena ya itu bahasanya itu diamankan sama senior mereka, kan mereka punya senior masing-masing," ujarnya.

Yanto juga menyinggung sejumlah dinamika antara organisasi mahasiswa dari kampus berbeda. Contohnya, mengapa kelompok mahasiswa tertentu memilih lokasi aksi tertentu dan tidak bergabung dalam aksi di lokasi lain.

5. Stigma akhirnya menghantam mahasiswa yang benar-benar bergerak

Demo mahasiswa di Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Chantika)

Bagi Yanto, dampak paling serius dari fenomena ini bukan hanya soal uang. Menurut dia, praktik pengerahan massa dan penggunaan atribut mahasiswa untuk kepentingan tertentu membuat seluruh gerakan mahasiswa ikut dicurigai.

Stigma tersebut, menurut dia, justru membuat sebagian mahasiswa memilih tidak berorganisasi.

"Mahasiswa kadang-kadang tuh jadi tidak pingin berorganisasi karena sering sekali digituin," ujarnya.

Dia menolak anggapan bahwa generasi muda sepenuhnya apatis terhadap persoalan sosial dan politik. Yanto menjelaskan, ada mahasiswa yang sebenarnya peduli, tetapi memilih menjaga jarak karena melihat gerakan mahasiswa kerap dicurigai membawa kepentingan tertentu.

"Mereka cuma resah melihat potret gerakan-gerakan mahasiswa itu sering dilabelin ini lah, segala macam," katanya.

Pada titik ini, polemik mahasiswa dalam Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 menjadi lebih dari sekadar persoalan almamater.

Jika kesaksian mengenai aksi berbayar benar terjadi di sejumlah tempat, maka persoalannya menyentuh rantai yang lebih panjang: siapa yang merekrut massa, siapa yang menyediakan atribut, siapa korlapnya, siapa yang menyediakan uang, siapa yang memesan aksi, dan untuk kepentingan apa.

Namun, kesaksian dua narasumber ini juga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh peserta Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 merupakan massa bayaran. Joko bahkan menegaskan dirinya tidak mengikuti acara tersebut. Yanto juga mengakui terdapat mahasiswa yang memang berasal dari kampusnya dan hadir dalam kegiatan tersebut.

Yang jelas, kontroversi tersebut telah membuka pertanyaan serius tentang batas antara gerakan mahasiswa dan pengerahan massa.

Di satu sisi, mahasiswa memiliki hak untuk berkumpul, menyampaikan pendapat, dan mengkritik kekuasaan.

Di sisi lain, penggunaan atribut kampus oleh orang yang bukan bagian dari kampus tersebut dapat menyesatkan publik dan merusak kredibilitas gerakan yang benar-benar lahir dari keresahan mahasiswa.

Bagaimana menurutmu soal polemik ini?

Perlukah identitas peserta aksi diverifikasi lebih ketat?

See More

Curated For You

Editorial Team

Related Article