Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Kasus Pemerasan Kerap Menjerat Kepala Daerah?
Barang bukti OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro (IDN Times/Aryodamar)
  • KPK melakukan 21 OTT sejak Januari hingga September 2026, dengan 13 di antaranya menjerat kepala daerah.

  • Kasus dugaan pemerasan dikaitkan dengan tuntutan biaya politik dan kurangnya efek jera.

  • Usulan pencabutan hak politik serta perampasan aset disebut dapat menciptakan efek jera.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa langkah paling efektif untuk mencegah pemerasan kepala daerah?
Vote Now
Januari hingga September 2026

KPK melakukan 21 kali operasi tangkap tangan. Sebanyak 13 OTT di antaranya menjerat kepala daerah.

Selasa (22/9/2026)

Achmad Taufik menyampaikan dugaan permintaan fee proyek oleh Sirajudin Lasena dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa langkah paling efektif untuk mencegah pemerasan kepala daerah?
Vote Now
  • What?
    KPK melakukan 21 operasi tangkap tangan, dengan 13 di antaranya menjerat kepala daerah dalam dugaan pemerasan.
  • Who?
    KPK, sejumlah kepala daerah, termasuk Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena, serta pakar Aan Eko Widiarto dan Agung Baskoro.
  • Where?
    Kasus yang disebut mencakup Kabupaten Bolmut dan daerah lain, sementara konferensi pers berlangsung di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan.
  • When?
    KPK melakukan OTT sejak Januari hingga September 2026. Pernyataan tentang kasus Bolmut disampaikan Selasa (22/9/2026).
  • Why?
    Menurut pakar, tuntutan dan biaya politik yang tinggi, kurangnya pencegahan, serta hukuman yang dinilai kurang memberi efek jera menjadi sejumlah penyebab.
  • How?
    Dugaan pemerasan dilakukan melalui permintaan fee proyek, pengondisian pengadaan barang dan jasa, serta permintaan uang atau setoran dari bawahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa langkah paling efektif untuk mencegah pemerasan kepala daerah?
Vote Now

KPK menangkap beberapa kepala daerah karena diduga meminta uang dari proyek atau bawahannya. Salah satunya Bupati Bolmut Sirajudin Lasena, yang diduga meminta fee dan menerima gratifikasi. Pakar bilang biaya politik dan hukuman yang kurang tegas bisa menjadi penyebab. KPK sudah melakukan 21 OTT, dan 13 melibatkan kepala daerah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa langkah paling efektif untuk mencegah pemerasan kepala daerah?
Vote Now

Pengungkapan dugaan pemerasan melalui OTT KPK membuat praktik yang melibatkan kepala daerah dapat diketahui publik. Pembahasan mengenai pengurangan biaya politik, pencegahan, sanksi yang lebih tegas, pencabutan hak politik, dan perampasan aset juga membuka ruang untuk memperkuat upaya pemberantasan korupsi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa langkah paling efektif untuk mencegah pemerasan kepala daerah?
Vote Now

Jakarta, IDN Times - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak Januari hingga September 2026 telah 21 kali melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 di antaranya menjerat kepala daerah.

Mayoritas kepala daerah yang kena OTT dijerat Pasal 12e Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Pasal tersebut mengatur pemerasan yang diduga dilakukan pejabat.

1. Bupati Bolmut sosok terakhir yang jadi tersangka dugaan pemerasan

Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena (IDN Times/Aryodamar)

Sosok terakhir yang dijerat dengan pasal dugaan tindak pidana pemerasan oleh KPK adalah Bupati Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) Sirajudin Lasena. Ia diduga meminta fee 10 persen dan menerima gratifikasi senilai Rp11,14 miliar.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik, mengatakan Sirajudin Lasena diduga meminta tarif fee proyek sebesar 10 persen dari pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Bolmut, 4 persen untuk Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta 1 persen untuk Kelompok Kerja pengadaan.

Sirajudin Lasena diduga memerintahkan Kepala Dinas PUPR Bolmut untuk menulis daftar vendor yang melaksanakan pekerjaan proyek di Dinas PUPR. Kemudian, Kadis PUPR berkoordinasi dengan Pokja untuk mengondisikan proses pengadaan barang dan jasa, agar dimenangkan vendor yang sudah diploting.

"Atas permintaan SJL tersebut, maka pihak swasta dimaksud kemudian menyerahkan uang sebesar Rp130 juta atau sebagian fee 10 persen, untuk salah satu paket proyek berupa pembangunan jalan wilayah Sangkub IV, Bolmut bernilai Rp1,9 miliar," ujar Achmad Taufik dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Selasa, 22 September 2026.

2. Biaya politik tinggi jadi salah satu pemicu

ilustrasi kampanye (IDN Times/Imam Faishal)

Pakar Hukum dari Universitas Brawijaya, Aan Eko Widiarto, menilai banyaknya kasus dugaan pemerasan yang menjerat kepala daerah terjaring OTT, salah satu penyebabnya adalah tuntutan politik yang banyak. Hal ini membuat pengeluaran kepala daerah juga meningkat.

"Kalau kepala daerah, misalnya, tidak terlalu banyak tuntutan politik, ya tentunya akan lebih bisa mengendalikan pengeluarannya, dengan cara memanfaatkan gaji yang ada, tunjangan yang ada, tidak sampai kemudian ingin melebihkan dari itu dengan menggunakan cara-cara bisa korupsi, bisa gratifikasi, bisa pemerasan," ujarnya kepada IDN Times.

Menurut Aan, biaya politik kepala daerah bisa dikurangi. Hal ini dinilai bisa menjadi salah satu solusi.

"Seharusnya kesejahteraan ya kesejahteraan, dan ongkos-ongkos politik dari kepala daerah itu yang seharusnya bisa dikurangi atau diantisipasi," katanya.

3. Kurangnya efek jera

Ilustrasi korupsi (IDN Times/Istimewa)

Sementara, pakar politik Agung Baskoro menilai, banyaknya kepala daerah yang menjadi tersangka dugaan pemerasan disebabkan kurangnya pencegahan yang dilakukan penegak hukum. Selain itu, hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku yang telah terbukti korupsi, dinilai kurang memberikan efek jera.

"Secara aturan memang kita tahu bahwa sanksi atas hukuman korupsi di Tanah Air memang masih minimalis, ya. Sehingga memang ke depan perlu dipertimbangkan soal sanksi hukum yang tegas," katanya kepada IDN Times.

4. Usul pencabutan hak politik

Ilustrasi pemilu (IDN Times/Sukma Shakti)

Agung mengatakan ada berbagai cara yang menurutnya akan efektif menciptakan efek jera bagi kepala daerah yang korupsi. Salah satu contohnya adalah pencabutan hak politik dalam jangka waktu yang lama.

"Misalkan terkait soal tidak boleh menggunakan haknya untuk dipilih ya maupun memilih. Ya, jadi hak politiknya dicabut," ujarnya.

Selain itu, kata Agung, perampasan aset bagi para koruptor juga dinilai akan efektif membuat efek jera.

"Jadi dia dimiskinkan semacam itu," jelasnya.

5. Daftar kepala daerah tersangka pemerasan usai OTT KPK

Wali Kota Madiun Maidi dan Bupati Pati Sudewo (IDN Times/Aryodamar)

Diketahui, KPK sudah 21 melakukan OTT sepanjang Januari hingga September 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 di antaranya menjerat kepala daerah. Berikut daftar kepala daerah yang menjadi tersangka dugaan kasus pemerasan:

  1. Wali Kota Madiun, Maidi: Pemerasan fee proyek dan dana CSR

  2. Bupati Pati, Sudewo: Pemerasan dalam pengisan jabatan perangkat desa

  3. Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman: Pemerasan setoran THR dari perangkat daerah

  4. Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo: Pemerasan ke anak buah lewat surat pernyataan mundur

  5. Bupati Sukoharjo, Etik Suryani: Pemerasan perangkat daerah

  6. Bupati Pemalangm Anom Widiyantoro: Pemerasan ke bawahan lewat orang kepercayaan

  7. Bupati Bolaang Mongondow Utara, Sirajudin Lasena: Pemerasan fee proyek jalan.

Sampaikan pendapatmu

Apa langkah paling efektif untuk mencegah pemerasan kepala daerah?

See More

Curated For You

Editorial Team

Related Article