Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengintip Makanan Sapi Kurban yang Dijual hingga Rp70 Juta, Ada Jamu
Pemilik Kandang Sapi Jowo, Fajar, bersama sapi jenis simmental, di Banjir Kanal Timur (BKT) Jakarta Timur, Minggu (24/5/2026). (dok. IDN Times/Zahira Hilman)
  • Menjelang Idul Adha 2026, penjualan sapi kurban di Jakarta Timur meningkat, dengan pedagang seperti Fajar menjaga kesehatan sapi lewat pakan khusus dan jamu tradisional.
  • Penjualan hewan kurban mulai ramai tiga minggu sebelum Idul Adha, dengan layanan antar ke rumah atau masjid serta promosi melalui media sosial untuk menjangkau pembeli lebih luas.
  • Meskipun kondisi ekonomi tidak stabil, minat masyarakat berkurban tetap tinggi; harga sapi bervariasi dari Rp21,5 juta hingga Rp70 juta tanpa ada pembatalan pembelian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Penjualan hewan kurban di Jakarta menjelang Idul Adha 2026 meningkat, dengan harga sapi mencapai hingga Rp70 juta dan perawatan khusus termasuk pemberian jamu tradisional untuk menjaga kesehatan sapi.
  • Who?
    Fajar, pedagang hewan kurban berusia 40 tahun pemilik Kandang Sapi Jowo di Jakarta Timur, bersama para pembeli yang datang langsung maupun melalui media sosial.
  • Where?
    Kegiatan penjualan dan perawatan sapi berlangsung di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT), Pondok Kopi, Jakarta Timur.
  • When?
    Kegiatan berlangsung sejak tiga minggu sebelum Hari Raya Idul Adha 2026 dan diperkirakan terus ramai hingga hari pemotongan kurban.
  • Why?
    Masyarakat tetap melaksanakan tradisi berkurban setiap tahun meski kondisi ekonomi tidak menentu, sebagai bentuk keyakinan dan kewajiban keagamaan.
  • How?
    Sapi diberi pakan jerami, bungkil kedelai, pollard, serta jamu dari temulawak dan kunyit dua kali sehari. Penjualan dilakukan langsung di kandang maupun secara daring melalui WhatsApp dan Facebook.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Menjelang Idul Adha, banyak orang datang beli sapi buat kurban. Ada bapak namanya Fajar jual sapi di Jakarta Timur. Dia kasih makan sapi dua kali sehari dan kalau sapi sakit dikasih jamu kunyit sama temulawak. Sapi-sapinya ada yang besar banget sampai harganya tujuh puluh juta. Sekarang banyak pembeli datang terus tiap hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah Fajar menunjukkan semangat positif dalam menjaga kualitas dan kepercayaan pembeli hewan kurban di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Dengan perawatan telaten, pemberian pakan bergizi hingga jamu tradisional, serta layanan antar dan promosi daring, usahanya mencerminkan ketekunan dan optimisme masyarakat yang tetap mempertahankan tradisi berkurban dengan penuh keyakinan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menjelang perayaan Idul Adha 2026, masyarakat yang ingin berkurban masih terus mendatangi lapak-lapak pedagang hewan kurban di Jakarta. Seorang pedagang hewan kurban di Jakarta Timur bernama Fajar (40), mengaku penjualan sapi tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau tahun ini kandang kita jauh lebih baik dibandingkan tahun kemarin untuk penjualan,” kata pemilik Kandang Sapi Jowo ini saat ditemui IDN Times, Minggu (24/5/2026). Fajar menjual hewan kurban di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT) Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Untuk menjaga agar sapi-sapinya tetap sehat selama penjualan di perayaan Idul Adha, Fajar mengungkapkan, memberikan pakan khusus seperti jerami, bungkil kedelai, hingga pollard atau dedak gandum.

1. Cara pedagang merawat sapi tetap sehat hingg tiba waktu dikurban

Sapi kurban di Kandang Sapi Jowo, Banjir Kanal Timur (BKT) Jakarta Timur, Minggu (24/5/2026). (dok. IDN Times/Zahira Hilman)

Menurut Fajar, kulit kedelai yang diberikan kepada sapi direndam terlebih dahulu selama sekitar satu jam, sebelum diberikan sebagai pakan. 

Sapi-sapi tersebut diberi makan sebanyak dua kali sehari saat pagi dan sore hari. “Kalau kita kasih dua kali. Jadi pagi itu sekitar jam delapan. Nanti ketemu lagi sore, sekitar jam empat. Kalau udah kenyang gini, tinggal kasih jerami buat cemilan,” ujarnya. 

Selain itu, sapi yang mengalami penurunan nafsu makan juga diberi jamu tradisional, seperti temulawak dan kunyit agar tetap fit selama masa penjualan. 

“Kalau sapi gak mau makan, biasanya saya kasih jamu-jamu aja pakai temulawak sama kunyit,” ucapnya. 

2. Penjualan hewan kurban mulai ramai sejak tiga minggu sebelum Idul Adha

Pakan sapi bungkil kedelai (dok. IDN Times/Zahira Hilman)

Fajar mengungkapkan, masa penjualan hewan kurban mulai ramai sejak tiga minggu sebelum Idul Adha hingga hari pemotongan kurban. 

“Kita tiga minggu sebelum Lebaran Haji ini sudah bisa dibeli, sapi-sapi sudah siap di kandang kita. Sampai hari Idul Adha juga biasanya masih ada yang beli,” sebutnya. 

Ia menyediakan layanan antar hewan kurban ke rumah maupun masjid yang ditunjuk pembeli. Menurutnya, akhir pekan menjadi waktu paling ramai didatangi calon pembeli hewan kurban. Ia pun optimistis penjualan hewan kurban masih akan terus meningkat hingga mendekati Hari Raya Idul Adha 2026.

Selain datang langsung ke kandang, sejumlah pembeli kini memilih mencari hewan kurban melalui media sosial. Fajar sendiri juga melakukan promosi melalui WhatsApp dan Facebook. 

3. Minat masyarakat berkurban tak berkurang meski kondisi ekonomi tak menentu

Sapi premium di Kandang Sapi Jowo, Banjir Kanal Timur (BKT) Jakarta Timur, Minggu (24/5/2026). (dok. IDN Times/Zahira Hilman)

Di kandangnya, Fajar menyediakan sekitar 50 ekor sapi kurban yang didatangkan dari Solo, Jawa Tengah. Beberapa jenis sapi favorit yang banyak dicari pembeli, yakni sapi limosin dan simmental. 

Salah satu sapi premium jenis simmental berbobot sekitar 900 kilogram, telah terjual dengan harga lebih dari Rp70 juta. Sementara harga termurah yakni sapi Jawa berkisar Rp21,5 juta. 

Meski kondisi ekonomi saat ini tidak menentu dan rupiah anjlok, Fajar menyebut, hal itu tidak mengurangi niat masyarakat untuk tetap berkurban. Masyarakat tetap menjaga tradisi berkurban setiap tahunnya. Paling yang terjadi sebagian masyarakat mungkin beralih dari membeli sapi ke kambing. 

“Balik lagi karena keyakinan, ya. Semacam kewajiban, kalau shohibul qurban (pemilik hewan kurban) setiap tahun berkurban udah gak mikir angka. Misal tahun kemarin beli sapi, tapi tahun ini ekonomi menurun ya pindah ke kambing. Pasti tetap berkurban,” ungkap Fajar. 

Ia juga mengaku belum menemukan pembeli yang membatalkan pembelian hewan kurban karena alasan ekonomi. 

“Rata-rata kalau sudah cocok sama sapi kita, pasti langsung DP. Jadi jarang, bahkan ga ada tahun ini yang batal beli,” tambahnya.

Editorial Team