Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menko Djamari: 107 Ribu Hektare Lahan Terbakar, El Nino Mengintai RI
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan di area Sumatra pada 2026. (Dokumentasi BNPB)
  • Sepanjang 2026, kebakaran hutan telah melanda 107 ribu hektare. Pemerintah memprioritaskan penanganan di enam provinsi berlahan gambut yang rentan terbakar.
  • El Nino diperkirakan bertahan hingga kuartal pertama 2027, memicu kondisi lebih kering dan kemarau panjang. Pemerintah mengerahkan 43 helikopter, 15 pesawat, serta operasi modifikasi cuaca.
  • Pemadaman darat terkendala berkurangnya air permukaan, sehingga satgas memakai tangki fleksibel dan sumur. Pemerintah juga membasahi TPA untuk mencegah kebakaran akibat gas metana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago mengungkap sepanjang 2026 sudah ada 107 ribu hektare hutan yang terbakar. Meski begitu, fenomena El Nino yang mulai menghantam Indonesia dikhawatirkan bakal memperburuk situasi.

"Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia, area hutan yang terbakar terhitung 107 ribu hektare. Semoga tidak bertambah lebih luas karena kesungguhan kita mencegah itu semua," ungkap Djamari di kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat pada Senin (10/8/2026).

Purnawirawan jenderal TNI itu mengadakan rapat koordinasi pada siang tadi dengan mengundang sejumlah pejabat tinggi hingga kepala daerah. Menteri yang ikut hadir yakni Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat dan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni. Selain itu, turut hadir Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto.

Di dalam forum tersebut, Djamari menjelaskan ada enam provinsi yang menjadi prioritas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Keenam provinsi itu yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Djamari menyebut mayoritas wilayah di enam provinsi itu merupakan lahan gambut sehingga mudah terbakar. Dengan adanya fenomena El Nino yang sedang menghantam Tanah Air maka dikhawatirkan area itu jadi mudah terbakar.

"El Nino yang menghantam sampai dengan yang terkuat akan muncul. El Nino itu sendiri adalah satu keadaan yang menyebabkan suatu wilayah menjadi kering. Kemarau pun akan terasa lebih panjang," tutur dia.

Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memperkirakan El Nino akan bertahan di Indonesia hingga kuartal pertama 2027.

1. Pemerintah kerahkan 43 helikopter dan 15 pesawat fixed wing

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago (kemeja putih) usai memimpin rapat koordinasi mengenai karhutla pada Senin, 10 Agustus 2026. (IDN Times/Santi Dewi)

Lebih lanjut, Djamari menjelaskan untuk mengendalikan api, pihaknya mengerahkan satgas udara. Pemerintah mengerahkan 43 helikopter dan 15 pesawat fixed-wing. Jumlah itu bisa ditambah sesuai kebutuhan.

Ia mengatakan metode paling sesuai untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan yakni lewat operasi modifikasi cuaca (OMC). Operasi itu dilakukan oleh BNPB dan BMKG.

"Menimbulkan hujan buatan yang dilakukan oleh BMKG dan BNPB, itu yang paling efektif dan tepat," tutur dia.

Meski begitu, ada satu persyaratan yang harus dihadapi bila ingin menciptakan hujan buatan yakni menemukan awan hujan. "Selama awan hujan tidak bisa kita temukan, maka tidak akan bisa tercipta hujan buatan," katanya.

Itu sebabnya, pemerintah mewaspadai perubahan cuaca sekecil apapun. Bila menemukan awan hujan maka segera dilakukan OMC.

2. Sulit temukan air di permukaan untuk memadamkan karhutla

Kabut asap karhutla selimuti Pontianak. (IDN Times/Teri).

Di sisi lain, tim gabungan juga mengerahkan anggota satgas di darat untuk memadamkan api. Tetapi, hal itu terkendala dengan volume air yang berkurang. Meski begitu, kata Djamari, hal itu bisa diatasi dengan menggunakan flexible water tank (wadah penampungan air lunak).

"Bahkan, kita juga bisa membuat sumur-sumur di daerah-daerah itu. Sumur yang saat-saat itu bisa mengeluarkan air. Kita bisa menggunakan itu. Segala cara kita lakukan," kata Djamari.

3. Tempat Pembuangan Akhir akan dibasahi agar tidak terbakar

Tumpukan Sampah di TPA Tamangapa Makassar (Dokumen Pribadi)

Area lain yang menjadi perhatian pemerintah yakni Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Area tersebut, kata Djamari rentan terbakar lantaran sampah mengandung gas metana.

"Ini pun juga menjadi pengawasan kami. Jangan sampai yang di sana terbakar, di sini (TPA) ikut terbakar juga," kata Djamari.

Salah satu cara untuk mencegah terjadinya kebakaran di TPA yakni dengan membasahi area tersebut. "Area TPA akan selalu dibasahi agar tidak terbakar. Apabila terbakar, kita tahu bahwa ada gas metan yang cukup berbahaya untuk kesehatan kita semua," tutur dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article