Jakarta, IDN Times - Generasi milenial dan gen Z selama ini kerap dicap sebagai kelompok yang apatis terhadap politik dan demokrasi. Anggapan tersebut muncul karena rendahnya keterlibatan mereka dalam bentuk partisipasi politik formal, seperti bergabung dengan partai politik atau mengikuti forum-forum politik konvensional.
Namun, menyederhanakan sikap politik generasi muda sebagai bentuk apatisme dinilai tidak lagi relevan di tengah perkembangan masyarakat digital. Perubahan cara berinteraksi, mengakses informasi, dan menyampaikan pendapat telah melahirkan pola keterlibatan politik yang berbeda dari indikator partisipasi tradisional.
Kesenjangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari rendahnya tingkat kepercayaan terhadap institusi. Sikap skeptis yang muncul di kalangan milenial dan gen Z banyak dipengaruhi oleh pengalaman langsung maupun paparan informasi mengenai korupsi, ketidakadilan, serta inkonsistensi kebijakan publik.
Dalam situasi demikian, ketidakpercayaan terhadap institusi bukanlah bentuk apatisme, melainkan respons rasional terhadap kondisi politik yang dianggap kurang kredibel.
Dengan kata lain, yang terjadi bukanlah hilangnya kepedulian terhadap politik, melainkan perubahan bentuk kepercayaan dan partisipasi politik itu sendiri.
Kemajuan teknologi juga berperan besar dalam membentuk persepsi generasi muda terhadap demokrasi. Akses informasi yang luas dan cepat memungkinkan mereka membandingkan berbagai perspektif, tetapi sekaligus meningkatkan paparan terhadap disinformasi dan konten sensasional.
Di tengah ekosistem media digital tersebut, institusi politik maupun media arus utama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber legitimasi. Generasi muda cenderung mengembangkan cara mereka sendiri dalam menilai kredibilitas informasi, sering kali berdasarkan pengalaman pribadi maupun komunitas digital yang mereka ikuti.
