Identitas Milenial dan Gen Z Dibangun Pilihan Sehari-hari

- Laporan IMGR 2027 menyoroti bahwa identitas Milenial dan Gen Z terbentuk dari pilihan sehari-hari yang mencerminkan kendali diri, kemandirian, serta adaptasi terhadap sistem yang dianggap kurang responsif.
- Praktik seperti urban farming dan produksi mandiri menjadi simbol otonomi dan martabat, mengubah cara generasi muda memaknai konsumsi sebagai sarana pemberdayaan, bukan sekadar fungsi atau harga.
- IMGR 2027 menegaskan pentingnya dukungan ekosistem berkelanjutan melalui kebijakan konsisten agar potensi ekonomi kreatif dan praktik keberlanjutan berbasis individu dapat tumbuh secara inklusif di Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Survei Indonesia Millenial Gen Z Report (IMGR) 2027 menunjukkan identitas para milenial dan gen Z dibangun dari pilihan sehari-hari mereka.
Dalam sub laporan IMGR 2027 berjudul Giving Meaning to a Sustainable Identity, disebutkan, identitas berkelanjutan merupakan cara individu membangun rasa diri melalui praktik-praktik yang memberikan rasa kendali, kesinambungan hidup, dan kemandirian. Hal ini terutama dalam konteks sistem yang terasa kurang dapat diandalkan.
"Tren seperti gaya hidup berkelanjutan, berkebun perkotaan (urban farming), dan eksplorasi solusi energi mandiri semakin terlihat dalam kehidupan generasi milenial dan gen Z. Namun, menafsirkan fenomena ini semata-mata sebagai ekspresi kepedulian lingkungan akan menyederhanakan makna sebenarnya," tulis laporan tersebut, dikutip Rabu (17/6/2026).
Laporan itu menyebutkan, praktik-praktik ini muncul sebagai respons terhadap sistem yang sering terasa tidak responsif. Dengan demikian, saat seseorang tidak memiliki kendali atas variabel besar, seperti harga pangan, inflasi, atau rantai pasokan, maka mereka mencari kendali terhadap skala yang lebih kecil dan terjangkau.
"Aktivitas seperti menanam sayuran sendiri, mengelola limbah rumah tangga, atau memproduksi kebutuhan pokok secara mandiri menjadi cara untuk menciptakan ruang kendali tersebut," demikian dalam laporan tersebut.
1. Pola yang konsisten

IMGR 2027 menyebut, pola tersebut merupakan pola yang konsisten. Contohnya, saat kepemilikan rumah menjadi semakin sulit dicapai, maka seseorang akan mengalihkan energinya untuk memperbaiki dan memaksimalkan ruang yang sudah mereka miliki.
"Ketika konsumsi tidak lagi dapat berkembang secara linier, strategi yang diadopsi adalah mengoptimalkan apa yang tersedia. Logika yang sama berlaku dalam konteks keberlanjutan. Ketika sistem tingkat makro sulit dikendalikan, individu menciptakan ekosistem mikro yang dapat mereka kelola sendiri," tulis laporan itu.
Menurut IMGR 2027, kegiatan seperti urban farming tidak lagi sekadar aktivitas konsumsi alternatif, tetapi telah menjadi bagian dari pembentukan identitas. Laporan itu menyebut, aktivitas-aktivitas tersebut mewakili nilai-nilai otonomi, kemampuan untuk bertahan, dan keinginan untuk tidak sepenuhnya bergantung pada sistem yang tidak pasti.
"Dalam konteks ini, keberlanjutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal martabat. Memiliki kendali, sekecil apa pun skalanya, menjadi bentuk penegasan diri atas kemampuan seseorang dalam menjalani hidup," kata laporan tersebut.
2. Pengaruhi memaknai konsumsi

Perubahan itu juga dinilai mempengaruhi pemaknaan konsumsi. Misalnya, ketika produk dan layanan tidak lagi dinilai berdasarkan fungsi atau harga, tetapi berdasarkan sejauh mana hal-hal tersebut memungkinkan seseorang merasa lebih berdaya.
"Kategori seperti produk DIY, perlengkapan bertani perkotaan, dan solusi energi skala kecil menjadi relevan karena menawarkan lebih dari sekadar kegunaan. Mereka menawarkan pengalaman akan kendali dan partisipasi," tulis laporan itu.
IMGR 2027 memaparkan, identitas tidak selalu diekspresikan secara eksplisit sebagai gerakan lingkungan. Dalam banyak kasus, praktik keberlanjutan terwujud secara pragmatis dan personal, bukan ideologis.
"Akumulasi praktik-praktik kecil ini secara kolektif membentuk arah baru dalam pola konsumsi dan produksi. Dengan kata lain, perubahan signifikan tidak selalu dimulai dari kesadaran kolektif yang terorganisir, melainkan dari keputusan individu yang berulang," demikian tulisan di laporan tersebut.
Identitas berkelanjutan merupakan pola adaptasi yang lebih luas karena generasi milenial dan gen Z belum sepenuhnya meninggalkan sistem yang ada. Mereka juga tidak sepenuhnya bergantung pada sistem tersebut dan menempati posisi di antara keduanya. Termasuk membangun alternatif sambil terus berinteraksi dengan struktur yang lebih besar.
"Posisi ini membuat praktik-praktik keberlanjutan menjadi fleksibel, kontekstual, dan terus berkembang," tulis IMGR 2027.
3. Relevan bagi pasar dan kebijakan publik

Fenomena tersebut juga dinilai relevan bagi pasar hingga kebijakan publik. Apalagi, IMGR 2027 menuliskan, perkembangan ekonomi kreatif Indonesia, termasuk di sektor-sektor keberlanjutan, tidak terjadi tiba-tiba. Hal ini merupakan hasil dari akumulasi praktik, percobaan, dan adaptasi yang telah berlangsung selama periode waktu yang lama.
"Oleh karena itu, pendekatan kebijakan yang sporadis dan didorong oleh tren tidak akan cukup untuk mempertahankan momentum ini. Identitas ini tidak selalu diekspresikan secara eksplisit sebagai gerakan lingkungan hidup. Dalam banyak kasus, praktik keberlanjutan terwujud secara pragmatis dan personal, bukan ideologis," tulis IMGR 2027.
Menurut IMGR 2027, saat ini yang dibutuhkan adalah dukungan ekosistem yang konsisten. Mulai dari akses ke sumber daya dan regulasi yang mendorong inovasi skala kecil, hingga infrastruktur yang memfasilitasi pertumbuhan praktik keberlanjutan. Sebab, tanpa hal tersebut maka potensi yang terbentuk dari bawah ke atas akan kesulitan berkembang secara berkelanjutan.
"Pada akhirnya, identitas berkelanjutan bukan hanya tentang bagaimana individu berkontribusi terhadap lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana mereka mendefinisikan ulang hubungan mereka dengan sistem. Dalam kondisi, kendali atas struktur berskala besar semakin terbatas, kemampuan untuk menciptakan ruang kendali pada skala yang lebih kecil menjadi semakin berharga. Keberlanjutan bukan lagi sekadar masalah lingkungan, melainkan telah menjadi bagian dari cara generasi ini memahami otonomi, keamanan, dan martabat dalam kehidupan sehari-hari," tulis laporan itu.
IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.


















