Jakarta, IDN Times - Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) pada 27 sampai 31 Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur, desakan agar organisasi tersebut memilih ketua umum yang berintegritas dan independen dari partai politik menguat. Aktivis NU, Hatim Gazali, menilai muktamar kali ini bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan momentum menentukan arah organisasi memasuki abad kedua.
Hatim menegaskan, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendatang harus mampu menjaga kemandirian organisasi dengan tidak menjadi bagian dari partai politik maupun sedang menduduki jabatan politik. Menurutnya, independensi menjadi syarat penting agar NU tetap berperan sebagai kekuatan masyarakat sipil yang kritis sekaligus konstruktif.
"Pemimpin NU perlu memiliki wawasan nasional dan global, menjaga independensi organisasi dengan tidak menjadi bagian dari partai politik maupun tidak sedang menduduki jabatan politik, serta mampu menjadikan NU sebagai kekuatan masyarakat sipil yang tetap kritis sekaligus konstruktif," kata Hatim di Jakarta, Minggu (2/8/2026).
