Comscore Tracker

Sosok RA Kartini, Jago Masak hingga Dakwah Islam ke Kolega Belanda

Kartini suka menunjukkan keindahan Islam ke teman Belandanya

Jakarta, IDN Times – Sosok Raden Ajeng Kartini atau R.A. Kartini dikenal sebagai pahlawan hak kaum perempuan di Indonesia. Sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya di masa lampau, tanggal kelahiran Kartini pun diperingati sebagai hari pahlawan yang ditetapkan oleh Presiden Sukarno pada 2 Mei 1964, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) No. 108 Tahun 1964.

Berikut beberapa hal tentang Kartini yang penting untuk diketahui lebih lanjut. Yuk, simak. 

Baca Juga: Made Citra Dewi: Jadi Anggota TNI Itu Berat, tapi Indah

1. Kartini mahir berbahasa Belanda

Sosok RA Kartini, Jago Masak hingga Dakwah Islam ke Kolega BelandaMuseum RA Kartini di Jalan Alun-alun Jepara, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

Fakta menarik pertama Kartini adalah, beliau mahir berbahasa Belanda. Sebagai seorang anak bangsawan Jawa, Kartini mendapatkan pendidikan yang cukup. Dari pendidikan itu, Kartini memperoleh kesempatan untuk mempelajari Bahasa Belanda. Kemampuannya berbahasa Belanda itulah yang membuat ia memiliki akses untuk berkomunikasi dengan berbagai elemen pemerintahan Belanda masa itu.

Bahkan, ia mampu menuliskan permohonan beasiswa pendidikan kepada Pemerintah Belanda saat berusia 20 tahun. Permohonan itu sempat disetujui. Hanya saja, kala itu Kartini sudah menikah sehingga beasiswa pun diberikan kepada orang lain.

Tidak hanya itu, Kartini juga sempat menuliskan surat protes kepada pemerintahan Hindia Belanda. Dalam suratnya, Kartini meminta pemerintah Hindia Belanda untuk memasukkan Bahasa Melayu dan Bahasa Belanda dalam kurikulum pendidikan kaum pribumi.

Kemampuannya merangkai kata-kata dalam Bahasa Belanda itulah, salah satu hal yang dikagumi banyak sahabat dari kalangan bangsa Belanda. 

2. Jago masak dan sempat menulis resep masakan dalam aksara Jawa

Sosok RA Kartini, Jago Masak hingga Dakwah Islam ke Kolega BelandaMuseum RA Kartini di Jalan Alun-alun Jepara, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

Selain membaca dan menulis, hobi Kartini yang cukup dikuasainya ialah memasak. Ia mampu memasak beragam masakan, khususnya masakan khas Jawa. Kartini sempat mengumpulkan dan menuliskan resep-resep masakannya. Resep-resep itu ditulis dengan menggunakan aksara Jawa. Penulisan resep dengan aksara Jawa tersebut menunjukkan Kartini masih menguasai tradisi budaya leluhur.

Adapun, Kartini menggunakan kemahiran memasaknya sebagai sarana diplomasi kebudayaan dengan pemerintahan Hindia Belanda kala itu. Melalui masakannya, Kartini berhasil mengenalkan budaya Jawa kepada bangsa Belanda sehingga mereka menghormati kebudayaan Jawa.

Resep-resep itu kemudian ditulis kembali oleh Suryatini N. Ganie, cicit Kartini, dalam buku berjudul “Kisah & Kumpulan Resep Putri Jepara; Rahasia Kuliner R.A. Kartini, R.A. Kardinah, dan R.A. Roekmini.” 

3. Nama Kartini dijadikan nama jalan di Belanda

Sosok RA Kartini, Jago Masak hingga Dakwah Islam ke Kolega BelandaKONTRADIKSI. Kehidupan Kartini yang penuh kontradiksi. Foto oleh Dodo Karundeng/ANTARA

Seorang Kartini tidak hanya dicintai dan dihormati di Indonesia. Ia juga dihormati di Belanda. Hal ini dibuktikan dengan adanya nama jalan R.A. Kartini di Belanda, yakni di Kota Utrecht, Venlo, Amsterdam, dan Haarlem.

Di Utrecht, Jalan R.A Kartini terletak di kawasan deretan perumahan yang tertata apik. Jalan tersebut dihuni oleh kalangan menengah. Jalan utamanya berbentuk huruf ‘U’ yang ukurannya lebih besar dibandingkan jalan-jalan yang menggunakan nama-nama tokoh Eropa lain.

Di Venlo, nama jalan RA Kartinistraat terletak di kawasan Hagerhof. Bentuk jalannya berupa huruf ‘O’ di mana di sekitarnya juga terdapat nama jalan dari tokoh Anne Frank dan Mathilde Wibaut.

Kemudian, di Ibukota Belanda, yakni Amsterdam, jalan Raden Adjeng Kartini ada di daerah Zuidoost atau dikenal dengan Bijlmer. Di sekitar jalan tersebut, terdapat nama-nama jalan dari tokoh-tokoh ternama yang berkontribusi kepada sejarah dunia, seperti Jalan Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, dan Isabella Richaards.

Paling menarik, ialah di Haarlem. Nama jalan Kartini berdampingan dengan nama jalan dari tokoh-tokoh perjuangan Indonesia. Jalan R.A. Kartini berdekatan dengan Jalan Mohammed Hatta, Jalan Sutan Sjahrir, dan langsung tembus ke Jalan Chris Soumokil, Presiden Kedua Republik Maluku Selatan (RMS).

4. Menjadi seorang juru dakwah Islam

Sosok RA Kartini, Jago Masak hingga Dakwah Islam ke Kolega BelandaMurid TK dan SD berpawai mengenakan busana tradisional untuk menyambut Hari Kartini, Bulak Banteng, Surabaya. ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Siapa yang menyangka, Kartini juga dikenal sebagai juru dakwah agama Islam. Ia belajar menekuni ajaran agama Islam dari Kyai Sholeh bin Umar, seorang ulama dari Darat, Semarang.

Kartini mulai menekuni ajaran Islam secara mendalam ketika Kyai Sholeh berceramah mengenai tafsir Surat Al-Fatihah. Dari penjelasan Kyai Sholeh tentang makna ayat Al-Fatihah tersebut, Kartini semakin tertarik mendalami Al Qur’an. 

Bahkan, ia pun ikut berdakwah dan menunjukkan wajah Islam yang ramah kepada bangsa Belanda. Kartini, melalui surat-suratnya kepada koleganya di Belanda, selalu menjelaskan ajaran dan menunjukkan sisi keindahan Islam. Pertemuan Kartini dengan Kyai Sholeh dapat dikatakan sebagai bagian perjalanan spiritual penting dalam hidupnya.

5. Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” menuai kontroversi

Sosok RA Kartini, Jago Masak hingga Dakwah Islam ke Kolega BelandaSumber Gambar: idntimes.com

“Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan salah satu buku yang cukup identik dengan R.A. Kartini. Buku tersebut merupakan kumpulan 53 surat R.A. Kartini yang ditujukan kepada sahabat orang Belanda, Rosa Abendanon.

Surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan oleh J.H. Abdendanon. Total ada 150 surat yang berhasil dikumpulkan Abdendanon. Namun, tidak semua surat tersebut ditampilkan dalam buku yang dalam Bahasa Belanda berjudul “Door Duisternis tot Licht” tersebut.

Dalam buku tersebut, banyak pemikiran Kartini yang mengkritik kondisi sosial yang ditemui di sekitar, khususnya terhadap posisi perempuan dalam struktur sosial masyarakat kala itu.

Isi buku itu sempat diragukan kebenarannya oleh para sejarawan. Sebab, tidak ada bukti bahwa seluruh surat yang ada di dalam buku tersebut adalah tulisan R.A. Kartini. 

6. Cerita Kartini diangkat ke layar lebar oleh Hanung Bramantyo

Sosok RA Kartini, Jago Masak hingga Dakwah Islam ke Kolega Belandaimdb.com

Pada tahun 2017, Kartini diangkat menjadi film layar lebar dengan judul Kartini oleh sutradara kondang Hanung Bramantyo. Sosok Kartini sendiri diperankan oleh Dian Sastrowardoyo.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama film layar lebar mengangkat tokoh besar tersebut. Sebelumnya pada tahun 1984, Sjumandjaya telah menghasilkan film biografi dengan judul R.A Kartini. Kemudian pada tahun 2016, sebuah film fiksi kisah asmara berjudul Surat Cinta Untuk Kartini juga diproduksi.

7. Orang tua memaksa Kartini menikah muda

Sosok RA Kartini, Jago Masak hingga Dakwah Islam ke Kolega BelandaLomba peragaan busana daerah kategori PAUD dan TK, Bogor, untuk menyambut Hari Kartini. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Orang tua Kartini meminta ia untuk menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang yang sudah pernah memiliki tiga orang istri. Ia menikah pada 12 November 1903. Beruntungnya, sang suami mengerti keinginan Kartini sehingga diberi kebebasan dan didukung secara penuh untuk mendirikan Sekolah Wanita yang terletak di timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang.

Di usia yang ke-25, Kartini melahirkan seorang putera yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat, tepatnya pada 13 September 1904. Empat hari setelah melahirkan, Kartini harus berpulang. Konon, nama Soesalit merupakan singkatan kata-kata dalam Bahasa Jawa “susah naliko alit” yang berarti susah di waktu kecil karena tidak pernah mengenal sang ibu.

Baca Juga: Peringati Hari Kartini, Banyuwangi Akan Gelar Women Cycling Challenge

Topic:

  • Elfida
  • Anata Siregar
  • Jumawan Syahrudin
  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya