Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Panglima TNI Tetapkan Siaga 1, Sinyal Perang atau Waspada?
Ilustrasi anggota TNI AD Foto: ANTARA FOTO/Rahmad
  • Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menetapkan status siaga satu sebagai respons atas meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
  • TNI memperketat pengamanan objek vital nasional serta meningkatkan patroli dan pengawasan udara 24 jam untuk menjaga stabilitas keamanan dalam negeri, terutama di wilayah Jakarta.
  • Badan Intelijen Strategis TNI menyiapkan skenario evakuasi WNI dari zona konflik dengan koordinasi bersama Kementerian Luar Negeri guna memastikan keselamatan warga Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, memberikan perintah siaga satu. Perintah ini tertuang dalam Telegram Panglima TNI NomorTR/283/2026 yang diteken Asisten Operasi Panglima TNI, Letnan Jenderal Bobby Rinal Makmun, Sabtu (7/3/2026).

Langkah strategis ini diambil sebagai respons cepat negara atas memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pengamat militer Universitas Nasional, Dr. Selamat Ginting, menilai keputusan ini harus dibaca sebagai bentuk kewaspadaan tingkat tinggi, bukan tanda Indonesia akan terlibat perang.

1. Perketat penjagaan objek vital, dari bandara hingga gardu listrik

rudal Rusia (commons.wikimedia.org/Andrey Korchagin)

Panglima TNI memerintahkan pengamanan ekstra di pusat-pusat aktivitas publik, seperti bandara, pelabuhan, stasiun, hingga fasilitas energi. Infrastruktur ini dianggap sebagai urat nadi kehidupan ekonomi yang dapat mengganggu stabilitas keamanan nasional.

Peningkatan patroli di lokasi-lokasi tersebut merupakan langkah untuk mencegah aksi pihak-pihak yang ingin menciptakan instabilitas di dalam negeri. Gangguan pada satu fasilitas vital saja dinilai bisa memicu efek domino yang merugikan masyarakat luas.

"Dalam situasi geopolitik global yang memanas, objek vital strategis memang kerap menjadi sasaran kelompok-kelompok yang ingin menciptakan instabilitas. Oleh karena itu, peningkatan patroli dan kesiapsiagaan merupakan langkah preventif yang lazim dilakukan oleh militer di banyak negara," kata Selamat Ginting dalam keterangan resminya.

2. Pantau langit 24 jam dan jaga ketat Jakarta

TNI AU bersama RSAF menggelar latihan AAR (IDN Times/ dok Lanud Rsn)

Komando Pertahanan Udara Nasional diperintahkan untuk melakukan pengamatan udara secara intensif selama 24 jam tanpa jeda. Langkah deteksi dini memang krusial untuk mengantisipasi potensi pelanggaran wilayah udara oleh pesawat asing maupun drone mencurigakan.

Selain itu, Kodam Jaya mendapat tugas khusus memperketat penjagaan di kawasan kedutaan besar negara asing di Jakarta. Sebab, Ibu Kota dipandang sebagai titik sensitif yang rawan menjadi pusat demonstrasi atau ekspresi politik imbas konflik internasional.

"Instruksi kepada Komando Pertahanan Udara Nasional untuk melaksanakan deteksi dan pengamatan udara selama 24 jam juga memiliki arti penting dalam perspektif militer. Sistem pertahanan udara merupakan salah satu elemen utama dalam menjaga kedaulatan wilayah," ujar Selamat.

3. Siapkan skenario evakuasi WNI di zona konflik

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto (pakai topi di tengah) sambut ketibaan 1.980 taruna Akademi TNI yang bantu bencana Sumatra. (Dokumentasi Puspen TNI)

Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI diminta memetakan situasi terkini guna merancang skenario evakuasi Warga Negara Indonesia (WNI). Koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri harus diperkuat demi menjamin keselamatan warga jika eskalasi perang di Timur Tengah makin memburuk.

"Dalam sejarahnya, Indonesia telah beberapa kali melakukan operasi evakuasi besar terhadap warga negaranya di wilayah konflik, mulai dari Lebanon, Yaman, hingga Sudan. Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi negara dalam merancang skenario evakuasi yang efektif," ucap Selamat.

Editorial Team