Ahmadiyah Berharap Ruang Dialog Usai Pembubaran Camping di Karanganyar

- Jemaah Ahmadiyah Indonesia berharap pemerintah dan masyarakat membuka ruang dialog setelah pembubaran kegiatan camping remaja di Karanganyar, Solo, untuk saling mengenal secara langsung.
- Amir Nasional JAI, Zaki Firdaus Syahid, menegaskan misi Ahmadiyah adalah membawa pesan perdamaian dengan prinsip 'cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun'.
- Zaki menyebut masih banyak persepsi keliru tentang Ahmadiyah dan mengajak masyarakat berdialog langsung agar memahami keyakinan mereka tanpa prasangka.
Jakarta, IDN Times - Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) berharap pemerintah dan masyarakat dapat membuka lebih banyak ruang dialog untuk mengenal Ahmadiyah secara langsung.
Harapan tersebut disampaikan Amir Nasional (Amirnas) JAI, Zaki Firdaus Syahid, dalam wawancara bersama IDN Times pada program Ngobrol Seru, usai pembubaran kegiatan camping remaja dan anak-anak Ahmadiyah di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, Jumat, 5 Juni 2026.
Table of Content
1. Ahmadiyah tegaskan misi Cinta untuk Semua

Zaki mengatakan, Jemaah Ahmadiyah memiliki pesan yang terus dibawa dalam kehidupan bermasyarakat, yakni mengedepankan perdamaian dan menjauhi kebencian: Love for All, Hatred for None atau Cinta untuk Semua, Tiada Kebencian untuk Siapapun.
“Kami Jemaah Muslim Ahmadiyah, baik di Indonesia maupun di semua tempat di dunia, sebetulnya hanya punya satu pesan dan juga satu misi, yaitu cinta untuk semua dan kebencian tidak untuk siapa pun,” kata Zaki saat wawancara bersama IDN Times dalam program Ngobrol Seru.
Menurut Zaki, pesan tersebut merupakan upaya untuk menerjemahkan nilai Islam yang rahmatan lil alamin atau menjadi rahmat bagi seluruh alam.
2. Banyak persepsi tentang Ahmadiyah dinilai tidak sesuai fakta

Amir nasional itu juga menyebut masih banyak persepsi dan opini di masyarakat yang menurutnya tidak sesuai dengan keyakinan yang dianut Ahmadiyah. Zaki mencontohkan sejumlah anggapan yang kerap ditujukan kepada Ahmadiyah.
“Sebetulnya banyak persepsi dan opini publik di masyarakat yang keliru ya terhadap Ahmadiyah. Contohnya, seperti misalkan Ahmadiyah kitab sucinya bukan Al Qur’an, kemudian Ahmadiyah kiblatnya bukan ke Makkah atau bahkan ibadah hajinya tidak ke Makkah, nabi sucinya bukan Nabi Muhammad SAW,” kata dia.
Menurut Zaki, banyak hal-hal lain yang tidak sesuai dengan fakta yang ada, maupun keyakinan yang mereka yakini sendiri oleh Ahmadiyah.
3. Berharap ruang dialog dan perjumpaan lebih terbuka

Kendati, Zaki menyebut, masyarakat yang ingin mengenal Ahmadiyah dapat memperoleh informasi langsung dari anggota Ahmadiyah melalui ruang dialog dan perjumpaan.
“Kami mengharap kepada pemerintah dan juga kelompok-kelompok masyarakat, serta masyarakat umum kalau ingin mengenal Ahmadiyah tentu harus bertanya langsung kepada Ahmadiyah, bukan kepada pihak-pihak yang sebetulnya tidak ada kaitannya dengan Ahmadiyah,” ucapnya.
Zaki mengatakan, masjid-masjid Ahmadiyah terbuka bagi siapa saja yang ingin berdiskusi dan bertukar pikiran mengenai Ahmadiyah, sehingga masyarakat dapat saling memahami tanpa harus menghakimi satu sama lain.
“Kami orang-orang Ahmadiyah sangat terbuka untuk menerima siapapun untuk bertemu dan juga untuk berdiskusi dan berdialog, tentu dalam cara-cara yang baik, dalam cara-cara yang positif, yang tujuannya bukan untuk menghakimi atau untuk merusak ya, tetapi lebih kepada bagaimana kita bertukar pikiran,” kata Zaki.


















