Jakarta, IDN Times - Direktur Trias Politika, Agung Baskoro, menilai reshuffle terbatas kabinet yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (27/4/2026) lebih condong mengutamakan kepentingan politis dibandingkan demokratis dan yuridis. Salah satu indikator faktor politis condong mendorong Prabowo mengocok ulang kabinet dengan memasukkan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup (LH) menggantikan Hanif Faisol. Padahal, Jumhur tak memiliki rekam jejak di bidang lingkungan sebelumnya.
"Kalau ditanya lebih lanjut, mana yang paling dominan (mendorong reshuffle), dari alasan itu ya alasan politis. Itu sulit dibantah dengan masuknya nama Jumhur Hidayat," ujar Agung ketika dihubungi oleh IDN Times, Selasa (28/4/2026).
Di sisi lain, Agung memandang semangat merangkul semua pihak masih kental dimiliki oleh Prabowo. Pada Pemilu 2024 lalu, Jumhur merupakan salah satu tim sukses pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. Namun, karena memiliki relasi baik dengan Syahganda Nainggolan dan Sufmi Dasco Ahmad, maka hal tersebut menjadi pertimbangan khusus.
"Dengan demikian politik rangkulisme presiden, baik dengan merangkul kawan dan lawan masih dipraktikan," kata dia.
