Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai rapat terbatas penangan banjir di Balai Kota
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai rapat terbatas penangan banjir di Balai Kota, Jumat (23/1/2025)/ IDN Times Dini Suciatiningrum

Intinya sih...

  • Pramono mengungkapkan banjir Jakarta disebabkan perilaku warga yang membuang sampah sembarangan.

  • Pramono merespons kritik terkait penanganan banjir dan menegaskan normalisasi sungai belum pernah dilakukan sebelumnya.

  • Pramono mengakui normalisasi sungai bukan kebijakan populer karena membutuhkan biaya besar dan relokasi warga.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan banjir yang melanda Jakarta tidak hanya disebabkan oleh cuaca ekstrem, namun juga perilaku warga yang masih membuang sampah sembarangan.

"Selain cuaca ekstrem tentunya ada persoalan-persoalan internal yang terjadi di Jakarta. Apa itu salah satunya? Orang masih buang sampah sembarangan, orang masih membangun di atas Bantaran Sungai, itu yang sebenernya udah enggak boleh lagi," ucap Pramono di Balai Kota, Jumat, (23/1/2026).

1. Pramono dikritik cara tangani banjir

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengecek kondisi Kali Cakung Lama di Jakarta Utara, Jumat (23/1/2025). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Pramono juga merespons kritik yang dilontarkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan sejumlah kelompok masyarakat sipil terkait penanganan banjir di Ibu Kota. Pramono menegaskan, kritik merupakan hal yang wajar dan justru dibutuhkan dalam proses pengambilan kebijakan.

“Kalau teman-teman LBH enggak mengkritik itu menurut saya kurang. Jadi saya memang pengin dikritik juga,” kata Pramono di

2. Normalisasi belum pernah dilakukan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengecek kondisi Kali Cakung Lama di Jakarta Utara, Jumat (23/1/2025). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Namun demikian, Pramono membantah anggapan bahwa pemerintahannya hanya mengulang pola lama dalam menangani banjir Jakarta. Ia menegaskan sejumlah proyek normalisasi sungai yang kini direncanakan atau berjalan justru belum pernah dilakukan sebelumnya.

“Sebenarnya saya tidak mengulang hal yang lama. Termasuk normalisasi Ciliwung, normalisasi Krukut, normalisasi Kali Cakung Lama itu belum pernah dilakukan,” ujarnya.

3. Normalisasi bukan kebijakan populer

Banjir di Cilincing Jakarta Utara, Jumat (23/1/2025)/IDN Times Dini Suciatiningrum

Pramono mengakui, normalisasi sungai membutuhkan biaya yang besar dan berpotensi menimbulkan dampak sosial. Pasalnya, pemerintah harus melakukan relokasi warga dan menyiapkan rumah susun bagi masyarakat terdampak.

“Ini memang enggak populer karena harus memindahkan masyarakat, harus menyiapkan rumah susun, dan di lapangan pasti ada singgungan. Tapi enggak apa-apa dikritik, kami tetap akan menangani itu,” katanya.

Editorial Team