Pelayanan di daerah sulit akses oleh Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kemenkes di NTT (Dok. dr. Halik)
Batch pertama bertugas selama dua minggu sejak 24 Agustus sampai 6 September 2026. TCK dikerahkan untuk memastikan warga terdampak bencana di pelosok sekalipun tetap mendapatkan pelayanan kesehatan.
Menuju wilayah kerja di Puskesmas Ndona, Ende, tempat Halik, dua bidan dan satu apoteker bertugas tidaklah mudah, bahkan sulit diakses. Jalan pegunungan yang rusak, tebing dan jurang curam, hingga perjalanan laut selama dua jam harus ditempuh.
“Sebagian besar wilayah kerja puskesmas tempat kami bertugas termasuk daerah sulit akses. Umumnya hanya dapat ditempuh dengan kendaraan yang pengemudinya berpengalaman menghadapi medan ekstrem atau dengan berjalan kaki,” ujar Halik.
Salah satu perjalanan paling menantang dilakukan saat tim memberikan pelayanan kesehatan bergerak atau Mobile Clinic ke Desa Nila. Tim harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam menggunakan mobil atau motor, kemudian berjalan kaki mendaki selama sekitar 2,5 jam untuk mencapai desa tujuan.
Perjalanan pulang pun tidak kalah menantang. Untuk memangkas waktu, tim memilih jalur laut dari dermaga darurat. Dari tebing dan jurang, para relawan langsung naik ke kapal motor dan menempuh perjalanan sekitar dua jam menyusuri pesisir selatan Pulau Ende untuk kembali ke puskesmas.
“Ekstremnya lagi, untuk memangkas waktu pulang dari Desa Nila, tim relawan harus menempuh jalur laut dari dermaga darurat. Dari tebing jurang langsung naik ke kapal,” tuturnya.
Halik menjelaskan, perjalanan panjang tersebut dilakukan karena masyarakat membutuhkan layanan kesehatan, sementara sejumlah fasilitas kesehatan belum dapat berfungsi optimal akibat dampak gempa.
Di lapangan, tim menemukan masyarakat yang masih bertahan di rumah dengan tenda pengungsian mandiri di depan rumah. Sementara itu, warga dengan rumah rusak berat mendapatkan bantuan tenda dan logistik serta menunggu proses pemulihan dan penyediaan hunian sementara.
Kondisi tersebut mulai memunculkan berbagai masalah kesehatan. Keluhan yang banyak ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan, sakit lambung, hipertensi, pegal-pegal atau nyeri persendian, serta gangguan tidur. Pasien dengan penyakit kronis juga mengalami kondisi yang lebih berat karena akses terhadap layanan kesehatan terganggu pascabencana.
Selain masalah kesehatan fisik, sejumlah warga mengalami trauma, kecemasan, dan gangguan tidur akibat gempa susulan yang masih kerap terjadi.
“Tidak jarang ditemukan warga yang mengalami trauma dan gangguan tidur karena serangan panik atau kecemasan,” kata Halik