Perjuangan Nakes Tembus Jalur Ekstrem Menjangkau Pelosok Ende Pascagempa

- Tim Cadangan Kesehatan Kemenkes diterjunkan ke Ende setelah gempa Flores berkekuatan magnitudo 7,7.
- Tim medis menempuh jalan rusak, medan pegunungan, perjalanan kaki, dan jalur laut untuk melayani warga di pelosok.
- Sejumlah puskesmas beralih menjadi posko tenda, sementara warga menghadapi keluhan kesehatan fisik dan trauma.
Jakarta, IDN Times - Gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB membuat akhir pekan diselimuti duka. Hal itu dirasakan oleh salah satu Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Halik Malik.
Saat gempa berkekuatan magnitudo 7,7, Halik berada di rumah, Jakarta. Pada malam harinya, Halik diminta bergabung dalam zoom koordinasi Pusat Krisis Kesehatan bersama mitra relawan termasuk dari profesi kesehatan yang dipimpin Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.
Koordinasi itu dilakukan untuk memberikan dukungan pemulihan terhadap fasilitas kesehatan yang lumpuh terdampak gempa.
“Saya dari Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) bersama lima sejawat dokter PDUI akhirnya ikut diterjunkan bersama relawan lainnya pada penugasan TCK Kemenkes RI batch pertama,” kata Halik kepada IDN Times, Selasa (8/9/2026).
1. Akses sulit dan ekstrem

Pelayanan di daerah sulit akses oleh Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kemenkes di NTT (Dok. dr. Halik) Batch pertama bertugas selama dua minggu sejak 24 Agustus sampai 6 September 2026. TCK dikerahkan untuk memastikan warga terdampak bencana di pelosok sekalipun tetap mendapatkan pelayanan kesehatan.
Menuju wilayah kerja di Puskesmas Ndona, Ende, tempat Halik, dua bidan dan satu apoteker bertugas tidaklah mudah, bahkan sulit diakses. Jalan pegunungan yang rusak, tebing dan jurang curam, hingga perjalanan laut selama dua jam harus ditempuh.
“Sebagian besar wilayah kerja puskesmas tempat kami bertugas termasuk daerah sulit akses. Umumnya hanya dapat ditempuh dengan kendaraan yang pengemudinya berpengalaman menghadapi medan ekstrem atau dengan berjalan kaki,” ujar Halik.
Salah satu perjalanan paling menantang dilakukan saat tim memberikan pelayanan kesehatan bergerak atau Mobile Clinic ke Desa Nila. Tim harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam menggunakan mobil atau motor, kemudian berjalan kaki mendaki selama sekitar 2,5 jam untuk mencapai desa tujuan.
Perjalanan pulang pun tidak kalah menantang. Untuk memangkas waktu, tim memilih jalur laut dari dermaga darurat. Dari tebing dan jurang, para relawan langsung naik ke kapal motor dan menempuh perjalanan sekitar dua jam menyusuri pesisir selatan Pulau Ende untuk kembali ke puskesmas.
“Ekstremnya lagi, untuk memangkas waktu pulang dari Desa Nila, tim relawan harus menempuh jalur laut dari dermaga darurat. Dari tebing jurang langsung naik ke kapal,” tuturnya.
Halik menjelaskan, perjalanan panjang tersebut dilakukan karena masyarakat membutuhkan layanan kesehatan, sementara sejumlah fasilitas kesehatan belum dapat berfungsi optimal akibat dampak gempa.
Di lapangan, tim menemukan masyarakat yang masih bertahan di rumah dengan tenda pengungsian mandiri di depan rumah. Sementara itu, warga dengan rumah rusak berat mendapatkan bantuan tenda dan logistik serta menunggu proses pemulihan dan penyediaan hunian sementara.
Kondisi tersebut mulai memunculkan berbagai masalah kesehatan. Keluhan yang banyak ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan, sakit lambung, hipertensi, pegal-pegal atau nyeri persendian, serta gangguan tidur. Pasien dengan penyakit kronis juga mengalami kondisi yang lebih berat karena akses terhadap layanan kesehatan terganggu pascabencana.
Selain masalah kesehatan fisik, sejumlah warga mengalami trauma, kecemasan, dan gangguan tidur akibat gempa susulan yang masih kerap terjadi.
“Tidak jarang ditemukan warga yang mengalami trauma dan gangguan tidur karena serangan panik atau kecemasan,” kata Halik
2. Tim harus melakukan persalinan darurat

Pelayanan di daerah sulit akses oleh Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kemenkes di NTT (Dok. dr. Halik) Tim juga menemukan sejumlah kasus yang membutuhkan penanganan segera, termasuk persalinan darurat dan gagal napas akibat infeksi saluran pernapasan pada anak balita. Penanganan dilakukan bersama petugas puskesmas, termasuk melakukan rujukan apabila pasien membutuhkan layanan lebih lanjut.
Menurut dr. Halik, pola pelayanan dengan mendatangi langsung masyarakat menjadi salah satu cara efektif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan selama fasilitas pelayanan kesehatan masih dalam proses pemulihan.
“Tim relawan menyisir wilayah kerja di masing-masing puskesmas untuk memastikan siapa saja yang sakit di pelosok desa sekalipun mendapatkan tindakan medis segera yang seharusnya mereka dapatkan,” ujarnya.
3. Puskesmas beralih menjadi posko tenda pelayanan kesehatan

Pelayanan di daerah sulit akses oleh Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kemenkes di NTT (Dok. dr. Halik) Kedatangan tim medis mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Keterbatasan layanan membuat warga harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan pengobatan, sementara sejumlah pustu di wilayah terdampak belum dapat berfungsi optimal.
Di Kabupaten Ende, dari 28 puskesmas yang ada, sedikitnya 12 puskesmas mendapatkan dukungan relawan kesehatan TCK Kemenkes RI. Dukungan diberikan untuk memperkuat tenda pelayanan kesehatan serta membantu pelayanan kesehatan dari desa ke desa di wilayah kerja puskesmas terdampak.
“Pada umumnya, puskesmas yang sebelumnya melayani masyarakat selama 24 jam kini harus beralih menjadi posko tenda pelayanan kesehatan karena bangunan yang rusak dan sejumlah petugasnya turut menjadi korban bencana,” jelas Halik.
Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri bagi pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Jalur pegunungan dengan jurang dan tebing curam diperberat dengan kerusakan jalan dan longsor di sejumlah titik. Gempa susulan juga membuat masyarakat maupun tenaga kesehatan harus tetap waspada.
Namun demikian, petugas puskesmas bersama relawan terus berupaya menjangkau seluruh wilayah kerja dan memastikan masyarakat mendapatkan hak pelayanan kesehatan.
“Tantangan terbesar adalah kapasitas layanan kesehatan dasar yang belum memadai, bahkan sebelum bencana terjadi. Situasi ini diperberat dengan wilayah terdampak yang sulit diakses dan bertambah sulit pascabencana karena jalan putus atau longsor di sejumlah titik,” ujar Halik.




















