"Kita harus memberikan pelindungan ekstra kepada kelompok rentan di sekitar kita,” ujarnya, dikutip dari rilis keterangan resmi.
Kasus ISPA Naik akibat Karhutla, Kemenkes Lakukan Sejumlah Tindakan

- Kabut asap karhutla di tujuh provinsi meningkatkan risiko kesehatan kelompok rentan, terutama akibat paparan PM2.5 dan polutan lain yang mengganggu pernapasan serta peredaran darah.
- Kasus ISPA melonjak, termasuk 165.747 kasus di Kalimantan Barat sejak Januari hingga awal Agustus 2026; Kemenkes mengerahkan 321 tenaga kesehatan dan logistik medis.
- Kemenkes menyiapkan PMT, Rumah Oksigen, serta strategi pencegahan, deteksi cepat, dan rujukan darurat; sistem kewaspadaan dini memantau tren penyakit harian di wilayah terdampak.
Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti tujuh provinsi berdampak signifikan terhadap kesehatan kelompok rentan. Merespons kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan di wilayah terdampak untuk memprioritaskan pelindungan ekstra bagi anak-anak, lansia, ibu hamil serta mereka yang memiliki penyakit bawaan (komorbid).
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Dr. dr. Then Suyanti MM, mengingatkan bahwa puncak musim kemarau yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi pada Juli hingga September 2026 memicu risiko karhutla yang sangat tinggi.
Table of Content
Ancaman dari PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun
Ancaman terbesar dari situasi ini adalah paparan partikel halus berbahaya atau PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun yang mampu menembus sistem pernapasan dan peredaran darah tanpa batasan ruang.
Dokter Then menyebut bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling berisiko karena paru-paru dan sistem kognitif mereka masih dalam tahap perkembangan. Sementara pada kelompok lansia, paparan polutan ekstrem dapat memperberat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), memicu gangguan kardiovaskular, peningkatan tekanan darah, gangguan gastrointestinal, hingga iritasi mata dan kulit.
Kasus ISPA melonjak

ilustrasi pasien anak penderita infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA (ANTARA FOTO/Syaiful Arif) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, memaparkan bahwa dampak penurunan kualitas udara sangat nyata, ditandai dengan melonjaknya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Berikut data yang tercatat:
- ISPA di Kalimantan Barat tembus 165.747 kasus sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026.
- ISPA di Kalimantan Selatan tercatat 18.423 kasus.
- ISPA Kalimantan Tengah tercatat lebih dari 3.000 kasus hanya dalam rentang 10 hingga 16 Agustus.
Merespons tren tersebut, Kemenkes telah memobilisasi 321 tenaga kesehatan tambahan untuk memperkuat layanan medis di puskesmas dan rumah sakit rujukan.
Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes juga telah mendistribusikan bantuan logistik berskala besar ke wilayah terdampak, yang meliputi 262.000 masker medis dan N95, 119 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang sarung tangan medis, serta 4.900 set alat pelindung diri.
Langkah antisipatif Kemenkes
Kemenkes secara khusus membagikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk menjaga daya tahan tubuh ibu hamil, balita, dan lansia. Di berbagai titik, mereka juga menyiagakan Rumah Oksigen—ruangan kedap asap yang dilengkapi penyaring udara dan oksigen konsentrator untuk memulihkan pernapasan warga yang mengalami keluhan sesak napas akut.
Dalam menghadapi ancaman kesehatan secara komprehensif, Dr. Then menjelaskan bahwa Kemenkes menerapkan tiga tingkatan strategi pelindungan masyarakat:
- Upaya primer atau pencegahan yang mencakup pengurangan aktivitas di luar ruangan, penutupan rapat sirkulasi udara luar, penggunaan penyaring udara di dalam ruangan, kewajiban memakai masker respirator seperti N95 serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
- Upaya sekunder berupa deteksi dan penanganan cepat dengan menyiagakan ketersediaan obat esensial di puskesmas, melakukan skrining kesehatan berkala, dan mengedukasi masyarakat agar segera berobat saat gejala awal muncul.
- Upaya tersier yang berfokus pada pencegahan komplikasi, penanganan kegawatdaruratan, dan percepatan sistem rujukan rumah sakit bagi populasi yang sudah terinfeksi agar terhindar dari komplikasi berat atau kematian.
Langkah antisipatif Kemenkes telah disusun secara terstruktur yang disiapkan sejak Mei 2026, ketika mereka menerbitkan Surat Edaran Kewaspadaan terkait potensi krisis akibat kemarau dan polusi udara kepada seluruh kepala daerah.
“Saat ini, sistem kewaspadaan dini dan respons Kemenkes terus memantau tren penyakit harian secara langsung untuk mempercepat respons lintas sektor di wilayah terdampak. Lindungi diri kita, lindungi keluarga, dan bersama kita jaga kesehatan masyarakat,” Dr. Then mengatakan.








![[QUIZ] Mau Tahu Jenis Kronotipe Tidur Kamu? Jawab 12 Pertanyaan Ini](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)


![[QUIZ] Kami Tahu Jenis Plank yang Paling Cocok Buat Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260514/1000000974_527de4ae-f27a-4997-8ca1-b3385c1cef0d.jpg)

![[QUIZ] Apakah Easy Run Kamu Benar-Benar Easy? Cek di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)





