Musim Kemarau, Listrik PLN Bantu Petani Bekasi Tetap Produktif

PLN memasang listrik 10.600 VA untuk irigasi 40 hektare di Desa Cicau, Bekasi, sehingga petani lebih mudah mengatur air saat kemarau dan tidak terlalu bergantung pada BBM.
Penggunaan listrik meningkatkan pola tanam dari dua menjadi tiga kali setahun, menghemat biaya operasional, menaikkan pendapatan sekitar Rp12 juta per tahun, serta mengurangi BBM 2.560 liter per tahun.
Selain irigasi, PLN menyediakan traktor listrik, mesin pertanian, bibit, dan pelatihan; hingga Agustus 2026, pelanggan EA-EM nasional mencapai 450.654 dengan daya 5.646 MVA.
Jakarta, IDN Times - Memasuki puncak musim kemarau, Masum dan petani lain yang tergabung dalam Kelompok Tani Berkah Sakabeh di Desa Cicau, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tetap bisa menggarap lahan pertanian. Pengairan lahan sekitar 40 hektare tersebut kini didukung sistem berbasis listrik melalui program Electrifying Agriculture (EA) dari PT PLN (Persero).
Sebelumnya, para petani mengandalkan pompa berbahan bakar minyak (BBM) untuk mengairi lahan. Kondisi tersebut membuat biaya operasional menjadi salah satu pengeluaran yang perlu diperhitungkan.
Melalui program EA, PLN menghadirkan sambungan listrik baru berkapasitas 10.600 volt ampere (VA) yang terintegrasi dengan pompa air irigasi dan instalasi kelistrikan. Pemanfaatan listrik tersebut membantu petani mengatur pengairan lahan tanpa terlalu bergantung pada ketersediaan BBM.
1. Pengairan lebih praktis, pola tanam bertambah

Ilustrasi petani menggunakan alat perontok padi berbasis listrik. Elektrifikasi dalam pertanian ini membantu meningkatkan efisiensi proses kerja sekaligus mendorong produktivitas petani. (dok. PLN) Masum mengatakan penggunaan listrik membuat proses pengairan lahan menjadi lebih praktis. Ketersediaan air yang lebih mudah diatur juga memungkinkan petani meningkatkan intensitas tanam dari dua menjadi tiga kali dalam setahun.
"Dulu kami harus membeli BBM untuk menjalankan pompa air dan tetap bergantung pada musim. Sekarang air tersedia kapan saja karena menggunakan listrik. Biaya operasional jauh lebih hemat, pekerjaan lebih cepat, dan kami bisa menanam tiga kali dalam setahun. Pendapatan petani juga meningkat sekitar Rp12 juta setiap tahun. Perubahan ini sangat membantu kami dalam mengembangkan usaha tani," tutur Masum.
Pemanfaatan listrik tersebut juga tercatat dalam aktivitas Kelompok Tani Berkah Sakabeh. Dalam setahun, pemakaian listrik mencapai 11.994 kilowatt hour (kWh) dan turut mengurangi penggunaan BBM sekitar 2.560 liter per tahun.
Program ini menjadi salah satu bentuk pemanfaatan listrik untuk kegiatan produktif di sektor pertanian. PLN sendiri mengembangkan Electrifying Agriculture untuk mendukung kebutuhan pertanian dari pengairan hingga pengolahan hasil panen.
2. Dukungan PLN mencakup pengolahan lahan hingga pascapanen

lustrasi petugas PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah saat melakukan pemeriksaan infrastruktur kelistrikan agar pasokan listrik optimal untuk mendukung program Electrifying Agriculture di Kabupaten/Kota Bekasi dan sekitarnya. (dok. PLN) Dukungan kepada petani tidak berhenti pada penyediaan sistem pengairan. PLN juga menyediakan dua unit traktor listrik, mesin perontok padi, mesin pemotong rumput listrik, serta saung petani yang dilengkapi panel listrik. Para petani turut mendapatkan bibit padi dan cabai serta pelatihan pengolahan hasil panen dan pemasaran produk.
Rangkaian sarana tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas petani mulai dari pengolahan lahan hingga pascapanen. Dengan dukungan tersebut, pemanfaatan listrik tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan irigasi, tetapi juga untuk membantu berbagai aktivitas dalam rantai produksi pertanian.
Direktur Retail dan Niaga PLN M. Fahrur Rozy mengatakan pemanfaatan listrik di sektor pertanian dapat memberikan nilai tambah bagi kegiatan produktif masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan.
“Electrifying Agriculture merupakan salah satu upaya PLN untuk memperluas manfaat listrik bagi sektor produktif seperti pertanian dan juga mendukung program ketahanan pangan dari Pemerintah. Ketika akses energi mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan memperkuat pendapatan petani, maka listrik menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kami berharap model ini dapat direplikasi di lebih banyak wilayah yang memiliki potensi pengembangan pertanian,” ujar Rozy.
3. Pelanggan Electrifying Agriculture terus bertambah

Ilustrasi pertanian (Pexels.com/Karolina Kaboompics) Pemanfaatan listrik untuk sektor produktif juga tercermin dari pertumbuhan pelanggan Electrifying Agriculture dan Electrifying Marine (EA-EM) secara nasional.
Hingga Agustus 2026, realisasi pelanggan EA-EM PLN mencapai 450.654 pelanggan dengan total daya terpasang sebesar 5.646 megavolt ampere (MVA). Adapun pemakaian listrik tercatat mencapai 4.970,98 gigawatt hour (GWh).
General Manager PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) Amiruddin mengatakan PLN ingin memastikan manfaat program dapat terus berkembang dan dirasakan petani dalam jangka panjang.
“Bagi kami, keberhasilan program ini bukan hanya tentang apa yang diberikan hari ini, tetapi bagaimana manfaatnya dapat terus tumbuh dan dirasakan oleh para petani ke depan. Karena itu, kami ingin memastikan dukungan yang diberikan mampu mendorong kemandirian, meningkatkan produktivitas, dan membuka peluang bagi petani untuk mengembangkan usaha pertaniannya,” pungkas Amiruddin. (WEB)


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















