Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
Breaking News

Prabowo Akui Ikuti Garis Politik Jokowi

3 min read
Prabowo Akui Ikuti Garis Politik Jokowi
Momen Prabowo dan Jokowi usai pelantikan presiden terpilih di Gedung MPR/DPR pada Minggu (20/10/2024). (youtube.com/MPRGOID)
  • Presiden Prabowo mengakui melanjutkan garis politik Jokowi, terutama membangun hubungan baik dengan negara tetangga melalui kunjungan dan kerja sama.
  • Prabowo menegaskan politik luar negeri Indonesia berlandaskan penghormatan kepada semua negara, prinsip “seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak”, serta menolak bergabung blok dan pakta militer.
  • Dalam politik domestik, Prabowo mengutamakan kepentingan nasional di atas kelompok dengan merangkul berbagai kekuatan, di tengah kondisi global yang dinilai penuh kerawanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Presiden Prabowo Subianto mengakui mengikuti garis politik Presiden ke-7 RI, Joko "Jokowi" Widodo, terutama dalam membangun hubungan baik dengan negara-negara tetangga. Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat berpidato dalam Sidang Kabinet Paripurna dua Tahun Pemerintahan di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Prabowo menjelaskan, arah politik luar negeri Indonesia berakar pada tradisi yang diwariskan para pendiri bangsa. Ia menekankan pentingnya menghormati semua negara, termasuk kekuatan-kekuatan besar, serta menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak.

“sudah berkali-kali saya juga sampaikan di hadapan umum dan juga intern, bahwa garis politik yang saya jalankan, garis politik luar negeri yang kita jalankan adalah tradisi yang kita waris, yang kita dapat warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita,” ujar Prabowo.

Prabowo menegaskan, prinsip diplomasi yang ingin dijalankannya, yakni menjalin persahabatan seluas mungkin dan menghindari permusuhan dengan negara lain. Prabowo menyebut pendekatan tersebut menjadi landasan bagi Indonesia dalam berhubungan dengan komunitas internasional.

“Yaitu, kita ingin menghormati semua negara dan semua kekuatan besar. Saya sudah sampaikan, garis politik luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” kata dia.

Prabowo juga menyampaikan keinginannya menerapkan kebijakan bertetangga baik atau the good neighbor policy. Menurutnya, pendekatan tersebut sudah menjadi bagian dari arah kebijakan sejak dirinya masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan dalam kabinet pemerintahan Jokowi.

“Saya ingin menjadi the good neighbor. Yang saya ingin jalankan adalah the good neighbor policy. Dari sejak awal, bahkan sebelum saya resmi dilantik sebagai Presiden, saya masih jadi Menteri Pertahanan dalam kabinet yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Saya mengikuti juga garis politik Pak Joko Widodo pada saat itu. Kita ingin punya hubungan baik dengan semua tetangga kita,” ucap Prabowo.

Prabowo mengatakan, upaya membangun hubungan baik dilakukan melalui kunjungan dan kerja sama dengan negara-negara tetangga. Prabowo menyebut, pemerintah berusaha memenuhi berbagai permintaan mitra sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan tersebut.

“Saya keliling, saya mau kerja sama dengan mereka. Apa yang mereka minta sebagian besar saya ikuti, dan itu yang berusaha kita pegang teguh,” tutur dia.

Lebih lanjut, Prabowo menegaskan, Indonesia tidak ingin bergabung dengan blok tertentu ataupun terikat dalam pakta militer. Meski demikian, Indonesia tetap berpegang pada prinsip konstitusi untuk menentang imperialisme dan segala bentuk penjajahan.

“Lebih luas dari region kita, wilayah kita, kita juga menjaga sehingga kita bisa diterima. Kita tidak mau ikut blok mana pun, kita tidak mau ikut pakta-pakta militer mana pun. Kita hormati, kita tidak mau terlibat, tapi kita sesuai dengan Undang-Undang Dasar kita, kita antiimperialisme, kita anti penjajahan,” kata Prabowo.

Selain membahas politik luar negeri, Prabowo turut menguraikan pendekatannya dalam politik dalam negeri. Ia mengatakan, kepentingan nasional harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok. Karena itu, Prabowo berupaya merangkul berbagai kekuatan untuk mendukung kepentingan bangsa.

“Saudara-saudara sekalian, demikian juga dalam garis politik saya dalam negeri. Saya mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan kelompok. Karena itu, saya berusaha untuk merangkul semua kekuatan,” ujar dia.

Prabowo mengaitkan pendekatan tersebut dengan kondisi global yang dinilainya penuh kerawanan. Berbekal pengalaman panjang di bidang keamanan dan politik, ia menekankan persoalan politik dan ekonomi tidak dapat dipisahkan dalam menentukan arah kebijakan negara.

“Saya, karena kesadaran saya bahwa kondisi global sekarang penuh kerawanan. Karena kesadaran saya, melalui pengalaman saya yang cukup lama di bidang keamanan, di bidang politik, di mana politik dan ekonomi tidak bisa dipisahkan,” ucap Prabowo.

    Share Article
    Editorial Team

    Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

    Related Articles

    See More