Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo mengungkapkan, banyak pihak pada awalnya tidak menyangka kehadiran TransJabodetabek akan membawa perubahan besar terhadap sistem transportasi di Jakarta dan wilayah penyangganya.
Menurut Pramono, di tengah era digital dan perkembangan algoritma, masyarakat dapat melihat secara nyata bagaimana sebuah kota berubah dan bersaing, termasuk melalui pembenahan sektor transportasi publik.
"Yang pertama, dalam era algoritma ini, secara signifikan orang akan bisa melihat apa yang berubah dan bisa berubah, dan bagaimana perubahan itu terjadi, dan bagaimana kota-kota itu bersaing," ujar Pramono saat membuka acara hari kedua Indonesia Summit 2026 di The Tribrata, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026).
Ia mencontohkan langkah Pemerintah Provinsi Jakarta yang memperluas layanan transportasi publik melalui TransJabodetabek. Menurutnya, kebijakan tersebut awalnya sempat diragukan banyak orang.
Pramono mengatakan, sebelumnya Jakarta hanya memiliki layanan TransJakarta yang beroperasi di dalam kota. Namun kini, warga dari wilayah penyangga seperti Bogor, Tangerang, Bekasi hingga kawasan lainnya dapat lebih mudah mengakses Jakarta menggunakan TransJabodetabek.
"Dulu ketika saya mencanangkan tentang TransJabodetabek, pasti orang nggak menyangka bahwa itu kemudian secara signifikan mempengaruhi bagaimana Jakarta dalam sistem transportasinya. Dulu Jakarta hanya punya yang disebut dengan TransJakarta. Sekarang dengan TransJabodetabek, orang dari sub-urban area atau daerah-daerah pendukung Jakarta lebih mudah bisa ke Jakarta," ucapnya.
Ia menjelaskan, salah satu persoalan utama Jakarta adalah tingginya mobilitas warga dari daerah penyangga. Setiap pagi, sekitar 3,5 juta hingga 4 juta orang masuk ke Jakarta untuk bekerja, kemudian kembali ke daerah asalnya pada sore atau malam hari.
"Karena memang persoalan utamanya itu adalah ketika kurang lebih 4 juta, 3 setengah sampai 4 juta orang pagi hari datang ke Jakarta, sore hari atau malam hari mereka kembali ke kediamannya masing-masing," ujar Pramono.
"Di situlah traffic jam terjadi, kemacetan terjadi, keluh kesah di mana-mana. Maka kami buka apa yang disebut dengan TransJabodetabek. Dari Jakarta ke, dari Blok M ke Bogor, Blok M ke Alam Sutera, Blok M ke PIK, Blok M ke Soekarno Hatta, dari Dukuh Atas ke Bekasi dan sebagainya," lanjut dia.
Pramono mengungkapkan, respons masyarakat terhadap layanan tersebut melampaui perkiraan pemerintah. Salah satu contohnya adalah rute Blok M-Bogor yang semula diproyeksikan hanya melayani sekitar 2.000 penumpang per hari. Namun, kini jumlah pengguna rute tersebut telah meningkat lebih dari empat kali lipat.
"Maka apa yang terjadi Saudara-saudara sekalian? Sebagai contoh, dulu dari Blok M ke Bogor itu hanya dirancang setiap hari kurang lebih 2.000 orang. Sekarang rata-rata sudah di atas 8.000 orang," kata Pramono.
Meski jumlah penumpang meningkat, Pemerintah Provinsi Jakarta tetap mempertahankan tarif yang terjangkau.
"Maka dengan demikian, kami tetap menerapkan tarif kurang lebih Rp3.500 pada saat setelah jam 6 pagi, di bawah jam 6 itu Rp2.000," ujarnya.
Pramono meyakini, kemudahan akses dan tarif yang murah menjadi faktor penting yang mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Ia menyebutkan, tingkat konektivitas transportasi publik Jakarta kini telah mencapai 93 persen. Sementara itu, persentase warga yang rutin menggunakan transportasi publik juga mengalami peningkatan.
"Saya meyakini inilah salah satu hal yang kemudian bisa mempengaruhi orang untuk berubah dari kendaraan pribadi menjadi naik kendaraan publik. Jakarta sudah dengan konektivitas 93 persen. Dulu awal-awal saya menjabat sebagai gubernur, orang menggunakan kendaraan publik secara terus-menerus baru kurang lebih 22 persen. Sekarang sudah dekat di angka 30 persen," tutur Pramono.
IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.
