- 0-14 tahun: 65.964.460 jiwa
- 15-19 tahun: 23.791.077 jiwa
- 20-24 tahun: 23.442.785 jiwa
- 25-29 tahun: 23.004.157 jiwa
- 30-34 tahun: 21.728.354 jiwa
- 35-39 tahun: 20.709.710 jiwa
- 40-44 tahun: 21.806.120 jiwa
- 45-49 tahun: 20.387.335 jiwa
- 50-54 tahun: 18.244.041 jiwa
- 55-59 tahun: 15.541.662 jiwa
- 60-64 tahun: 12.405.208 jiwa
- Usia 65 tahun ke atas: 23.100.164 jiwa.
Dukcapil: Usia Produktif Indonesia Capai 69,3 Persen, Didominasi Gen Z

- Dukcapil mencatat 69,3 persen dari 290,1 juta penduduk Indonesia, atau sekitar 201 juta jiwa, berada pada usia produktif 15-64 tahun.
- Kelompok usia 15-19 tahun menjadi yang terbesar dalam populasi produktif, sementara penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai 23,1 juta jiwa atau sekitar 7,9 persen.
- Gen Z merupakan generasi terbesar, disusul milenial; pemerintah diminta menyesuaikan pendidikan, pelatihan, kesehatan, kesempatan kerja, serta komunikasi kebijakan dengan karakter generasi muda.
Jakarta, IDN Times – Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Teguh Setyabudi, mengungkapkan Indonesia tengah menikmati bonus demografi dengan mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Berdasarkan data kependudukan terbaru, sebanyak 69,3 persen dari total 290,1 juta penduduk Indonesia merupakan penduduk usia produktif. Jika dikonversikan maka jumlah penduduk usia produktif mencapai sekitar 201 juta jiwa.
Menurut Teguh, komposisi tersebut menjadi modal besar bagi Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun, bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan pelatihan kerja.
"Alhamdulillah dari 290,1 juta jiwa, penduduk Indonesia 69,3 persen adalah usia produktif. Ada sekitar 201 juta atau 201.060.449 jiwa. Kenapa itu penting? Karena usia produktif menunjukkan rasio ketergantungan relatif rendah sehingga menjadi peluang percepatan pertumbuhan ekonomi. Inilah yang disebut bonus demografi," kata Teguh dalam acara Rakornas Dukcapil dan Rilis Data Kependudukan di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan, penduduk usia produktif merupakan mereka yang berada pada rentang usia 15 hingga 64 tahun. Teguh berharap momentum bonus demografi dapat menjadi salah satu pendorong terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
"Bonus demografi akan membawa berkah apabila kita mampu mengimbanginya dengan pendidikan, pelatihan kerja, dan layanan kesehatan yang memadai. Mudah-mudahan dengan bonus demografi ini bisa mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045," ujarnya.
1. Kelompok usia 15 sampai 19 tahun paling banyak

Teguh mengatakan, dari keseluruhan penduduk usia produktif, kelompok usia 15 hingga 19 tahun menjadi yang terbesar. Sementara itu, proporsi penduduk lanjut usia tercatat sekitar 7,9 persen dari total populasi.
"Usia produktif yang paling banyak adalah usia 15 sampai dengan 19 tahun. Jadi ini luar biasa dan menjadi potensi besar apabila bisa kita kelola dengan baik," katanya.
Ia menilai dominasi kelompok usia muda tersebut menjadi kekuatan penting bagi pembangunan nasional. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kelompok usia produktif memperoleh akses pendidikan, keterampilan, dan kesempatan kerja yang memadai agar bonus demografi benar-benar memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi.
2. Rincian jumlah penduduk berdasarkan kategori usia

Berikut ini rincian jumlah penduduk berdasarkan kategori usia:
3. Gen Z jadi generasi terbesar

Selain berdasarkan kelompok usia, Teguh memaparkan komposisi penduduk berdasarkan generasi. Ia menyebut Generasi Z (Gen Z) kini menjadi kelompok terbesar di Indonesia, disusul oleh generasi milenial.
"Ternyata penduduk kita yang paling banyak adalah generasi Gen Z. Disusul yang tidak jauh adalah generasi milenial. Ini penduduk terbanyak di Indonesia," ujarnya.
Menurut Teguh, kondisi tersebut harus menjadi perhatian pemerintah dalam merumuskan kebijakan sekaligus strategi komunikasi publik. Sebab, karakteristik Gen Z dan milenial berbeda dengan generasi sebelumnya.
"Kalau kita sekarang mau membawa Indonesia ke depan, berarti kita harus mampu bicara dan berkomunikasi secara baik dengan Gen Z dan milenial. Tidak mudah karena ada berbagai hal yang harus diperhatikan terkait karakteristik mereka," tuturnya.
Ia mengingatkan kegagalan memahami karakter generasi muda dapat membuat penyampaian kebijakan pemerintah tidak berjalan efektif.
"Bangsa kita harus belajar dan tahu bahwa penduduk kita terbesar adalah generasi Gen Z dan generasi milenial. Kalau kita hanya berbicara dengan perspektif Gen X saja, maka belum tentu bisa dipahami oleh generasi yang saat ini justru mendominasi penduduk Indonesia," kata Teguh.
Teguh menambahkan, setelah Gen Z dan milenial, komposisi penduduk Indonesia diikuti oleh Generasi X, Generasi Alfa, hingga Generasi Beta. Menurutnya, pemahaman terhadap karakter setiap generasi menjadi kunci agar kebijakan pemerintah dapat diterima dan diimplementasikan secara efektif di tengah masyarakat.





















