Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Profil Wapres ke-6 RI Try Sutrisno yang Tutup Usia Hari Ini
Try Sutrisno saat memberikan pesan di Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI pada Selasa (17/8/2021). (youtube.com/Sekretariat Presiden)
  • Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin pagi di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada usia 90 tahun.
  • Lahir di Surabaya tahun 1935, Try berasal dari keluarga sederhana dan meniti karier militernya sejak bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat pada 1956.
  • Ia pernah menjabat sebagai Panglima TNI sebelum menjadi Wakil Presiden periode 1993–1998 mendampingi Soeharto, serta aktif dalam organisasi veteran setelah pensiun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesWakil Presiden keenam RI, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026) pagi. Try Sutrisno tutup usia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, pukul 07.00 WIB.

Wakil Kepala BPIP, Rima Agristina, membenarkan kabar meninggalnya Try Sutrisno.

"Benar," kata dia, kepada IDN Times.

Rencananya, jenazah Try Sutrisno akan disemayamkan RSPAD, dan dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.

Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935 di masa penjajahan Hindia Belanda. Ia berasal dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai sopir ambulans dan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Try Sutrisno yang wafat pada usia 90 tahun merupakan purnawirawan Jenderal TNI. Dia salah satu tokoh militer yang kemudian beralih ke politik dan menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pada era Orde Baru.

Kiprahnya selama puluhan tahun di dunia militer dan pemerintahan menjadikannya figur penting dalam sejarah modern Indonesia.

Dalam perjalanan pendidikannya, Try menamatkan sekolah dasar hingga menengah sebelum memutuskan bergabung ke militer. Pada 1956, ia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) dan menyelesaikan pendidikan militernya tiga tahun kemudian, pada 1959, yang menjadi awal kariernya sebagai perwira TNI.

Selama masa pendidikan militer, ia juga mengikuti berbagai pelatihan khusus seperti pendidikan staf dan komando (Seskoad), dan pendidikan para serta zeni yang memperkaya kemampuannya sebagai perwira.

Try mengawali karier militernya dengan terjun langsung ke medan operasi. Pada 1957, ia ikut serta dalam penumpasan Pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatra, yang menjadi pengalaman awalnya di medan perang.

Karier Try Sutrisno semakin menanjak setelah mengenal Letnan Jenderal Soeharto pada masa Operasi Pembebasan Irian Barat (1962), yang kemudian menjadi hubungan penting dalam perjalanannya. Ia kemudian menjabat sebagai ajudan Presiden Soeharto pada 1974, sebuah posisi yang menjadi batu loncatan bagi kariernya selanjutnya.

Try Sutrisno juga pernah memimpin beberapa komando daerah militer penting seperti Panglima Kodam XVI/Udayana, Kodam IV/Sriwijaya, serta Kodam V/Jaya di Jakarta. Jabatan strategis ini memberinya pengalaman luas dalam kepemimpinan militer.

Puncak karier militernya terjadi ketika ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (1986-1988), dan kemudian Panglima Tentara Nasional Indonesia (1988-1993). Dalam posisi ini, Try bertanggung jawab atas keseluruhan operasi TNI dan menjadi salah satu perwira senior yang berpengaruh pada masa itu.

Setelah puluhan tahun mengabdi di militer, Try Sutrisno kemudian menjabat sebagai Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia pada periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto. Ia menjadi salah satu Wakil Presiden dengan latar belakang militer yang kuat, dan sempat dianggap sebagai figur penting dalam stabilitas pemerintahan saat itu.

Usai masa jabatan sebagai Wakil Presiden berakhir pada 1998, Try tetap aktif dalam beberapa organisasi veteran militer, termasuk menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri), serta terlibat dalam forum-forum diskusi politik dan kebangsaan.

Editorial Team