Jakarta, IDN Times – Direktur Eksekutif Indonesia Intelligence Institute sekaligus pengamat intelijen, Ridlwan Habib mengatakan, pola serangan siber kini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, ancaman tersebut tidak hanya menyasar infrastruktur digital, tetapi juga berbagai sektor yang berkaitan dengan kepentingan nasional.
Ancaman serangan siber yang semakin kompleks dinilai tidak lagi hanya menyasar sistem teknologi informasi, tetapi juga telah merambah sektor strategis hingga berpotensi mengganggu kedaulatan negara. Kondisi tersebut mendorong perlunya regulasi yang lebih komprehensif sebagai fondasi untuk memperkuat pertahanan siber nasional sekaligus menangkal praktik spionase asing.
Penguatan kemampuan teknologi saja dinilai tidak cukup. Indonesia membutuhkan payung hukum yang mampu mengatur pencegahan, penanganan, serta koordinasi antarlembaga dalam menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.
"Serangan siber kini tidak lagi hanya menyasar sistem teknologi, tetapi juga dapat merambah kehidupan masyarakat, keluarga, serta berbagai sektor strategis yang berkaitan dengan kepentingan nasional," ujar Ridlwan dalam keterangannya, dikutip Senin (20/7/2026).
