Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rekor! Satwa Langka Elang Jawa Garuda di TSI Sukses Rawat Anak Secara Alami
Elang Jawa TSI. (IDN Times/Linna Susanti).
  • TSI Bogor mencatat keberhasilan pertama pengasuhan mandiri anak Elang Jawa oleh pasangan Hanum dan Riska, setelah sembilan kali reproduksi yang sebelumnya membutuhkan perawatan manusia.
  • Tim kurator dan keeper mengembangkan teknik pendampingan melalui uji coba bertahun-tahun untuk mendorong naluri pengasuhan alami, pada spesies yang hanya bertelur satu butir per tahun.
  • Anakan kesembilan yang menetas 16 Juni 2026 diberi nama Garuda; pengasuhan tanpa hand-raise menjaga sifat liarnya untuk diproyeksikan ke program pelepasliaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
selama bertahun-tahun

Tim kurator dan keeper TSI Bogor menguji sistem pendampingan untuk membentuk perilaku pengasuhan alami pada induk Elang Jawa.

16 Juni 2026

Anakan Elang Jawa dari pasangan Hanum dan Riska menetas di TSI Bogor.

Agustus 2026

TSI Bogor mengumumkan keberhasilan perdana induk Elang Jawa merawat anak secara mandiri tanpa intervensi manusia.

17 Agustus

TSI menyatakan akan menyebarkan teknik perawatan mandiri tersebut kepada lembaga konservasi lain. Anakan Elang Jawa ke-9 resmi diberi nama Garuda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Taman Safari Indonesia Bogor berhasil mencatat pengasuhan mandiri pertama anak Elang Jawa oleh induknya dalam penangkaran ex-situ, tanpa perawatan langsung manusia.
  • Who?
    Pasangan Elang Jawa Hanum dan Riska mengasuh anak ke-9 bernama Garuda; tim kurator dan keeper Taman Safari Bogor memantau serta mengembangkan teknik pendampingan.
  • Where?
    Keberhasilan pengasuhan alami terjadi di Taman Safari Indonesia Bogor, Jawa Barat.
  • When?
    Anakan menetas pada 16 Juni 2026 dan keberhasilan tersebut diumumkan pada Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.
  • Why?
    Pengasuhan alami dilakukan untuk menjaga sifat liar anakan Elang Jawa dan mendukung keberlanjutan populasi spesies endemik Indonesia yang diproyeksikan mengikuti program pelepasliaran.
  • How?
    TSI Bogor menerapkan sistem dan teknik pendampingan yang diuji bertahun-tahun, sambil memantau induk menit demi menit dan jam demi jam untuk memastikan pemberian pakan kepada anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Taman Safari Bogor, elang Jawa Hanum dan Riska berhasil merawat bayi mereka sendiri. Bayi itu menetas pada 16 Juni 2026 dan diberi nama Garuda. Dulu, delapan bayi elang dirawat manusia. Sekarang Garuda dijaga orang tua elang sampai besar. Taman Safari mau mengajari cara ini ke tempat lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Keberhasilan Hanum dan Riska mengasuh Garuda secara alami menunjukkan hasil pemantauan serta pengujian teknik pendampingan TSI Bogor selama bertahun-tahun. Selain menjadi catatan penting bagi penangkaran Elang Jawa, pola pengasuhan tanpa kontak langsung manusia membantu menjaga sifat liar anakan, sekaligus membuka peluang penerapan teknik tersebut di lembaga konservasi lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bogor, IDN Times — Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor mencetak rekor baru dalam dunia konservasi satwa langka, bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.

Burung Garuda atau Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang ditangkarkan di TSI Bogor untuk pertama kalinya berhasil merawat dan mengasuh anakannya secara mandiri (parent-reared) tanpa intervensi manusia.

Anakan Elang Jawa dari pasangan indukan Hanum dan Riska ini sebenarnya telah menetas pada 16 Juni 2026. Keberhasilan pengasuhan secara alami ini diumumkan pada Agustus 2026 sebagai kado kebanggaan nasional, mengingat Elang Jawa merupakan satwa endemik Indonesia yang menjadi inspirasi lambang negara, Garuda Pancasila.

Senior Kurator Satwa Taman Safari Bogor, Iman Purwadi, mengungkapkan bahwa dari sembilan kali keberhasilan reproduksi pasangan Hanum dan Riska, ini adalah momen pertama sang induk mau dan mampu menyuapi serta merawat anaknya hingga tumbuh dewasa.

Delapan anakan terdahulu terpaksa dirawat secara manual oleh perawat satwa dan dokter hewan (hand-raise) demi menjaga keselamatan bayinya.

"Di hari 17 Agustus ini, kado yang luar biasa untuk Taman Safari Indonesia di mana ini pertama kali lembaga konservasi ex-situ induk bisa merawat anaknya dengan baik sampai umur dewasa. Kita akan tularkan juga ke lembaga konservasi lain," ujar Iman Purwadi.

1. Pencapaian perdana lembaga konservasi ex-situ

Anak Elang Jawa dari Hanum dan Riska bernama Garuda yang berhasil dirawat mandiri oleh indukannya. (Dok TSI).

Iman mengungkapkan, keberhasilan pengasuhan alami kali ini menjadi catatan bersejarah bagi TSI Bogor. Dari total sembilan kali proses reproduksi pasangan Hanum dan Riska, seluruh anakan sebelumnya harus dipisahkan dari induk agar selamat, sebab sang induk belum mampu memberikan makan sendiri.

Pengasuhan alami oleh induk betina dan jantan ini terbilang sangat langka untuk penangkaran di luar habitat asli (ex-situ).

"Jadi memang sulit sekali untuk mendapatkan anakan ini, bagaimana si induk itu bisa mau menyuapi anaknya. Itu yang luar biasa. Jadi kita pantau menit demi menit, jam demi jam untuk memastikan bahwa induk itu mampu untuk memberikan makan," kata Iman.

2. Formulasi teknik khusus dari pemantauan bertahun-tahun

Seekor elang Jawa juga diamankan tim Gakkum Jabalnusa. (IDN Times/Dok Satwil Gakkum Jabalnusa)

Iman menjelaskan, proses membawa induk Elang Jawa agar memiliki naluri mengasuh anak tidak terjadi secara instan. Tim kurator dan keeper Taman Safari Bogor harus menguji coba sistem pendampingan khusus selama bertahun-tahun untuk membentuk perilaku pengasuhan alami.

Spesies ini pun tergolong sangat sensitif dengan produktivitas yang terbatas, di mana Elang Jawa hanya bertelur 1 butir dalam setahun dengan masa pengeraman antara 49 hingga 51 hari.

"Jadi memang ada bantuan dari keeper kami, ada sistem, ada teknik yang kita temukan melalui bertahun-tahun itu kita uji coba terhadap indukan dan teknik ini berhasil. Mungkin nanti akan kita ajarkan juga terhadap lembaga-lembaga konservasi yang lain," ujar Iman.

3. Diberi nama Garuda dan diproyeksikan kembali ke alam

Pendiri TSI Jansen Manansang saat memberi sambutan terkait Elang Jawa yang berhasil merawat anaknya sendiri, sebagai kado HUT Kemerdekaan ke-81 Indonesia, Sabtu (15/8/2026). (IDN Times/Linna Susanti).

Pendiri Taman Safari Indonesia Group, Jansen Manansang, menegaskan bahwa pencapaian ilmiah ini merupakan langkah nyata untuk mendukung keberlanjutan populasi Elang Jawa.

Pengasuhan alami tanpa sentuhan langsung tangan manusia (hand-raise) menjaga sifat liar anakan agar siap menjalani program pelepasliaran (rewilding) ke alam bebas di masa depan.

Sebagai kado istimewa peringatan kemerdekaan, anakan Elang Jawa ke-9 dari pasangan Hanum dan Riska ini secara resmi diberi nama Garuda.

"Sejak dia lahir, kita sudah rencanakan pada bulan Agustus ini kita akan mendeklarasikan bahwa ini keberhasilan sesuai dengan tema kemerdekaan kita. Kita bisa lihat dengan video jantan betina untuk merawat anak, ini adil sekali sehingga menimbulkan bahagianya. Hari ini kita berikan nama setujunya Garuda," tutur Jansen Manansang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article